
Setelah mendapatkan obat, NIA kembali tertidur. Faris yang tadinya terus menjaga putrinya, kini beralih menjaga Nia.
Adzan subuh pun berkumandang, Intan dan Agatga pun bergantian untuk melaksanakan salat subuh di mushola, kemudian intan pun menggendong cucunya sedangkan Agatha yang baru saya selesai melaksanakan salat menghampiri Faris yang kini duduk di samping Nia mengusap-ngungsa punggung tangan istrinya itu yang sudah kembali terlelap.
"Ayo salat dulu, Nia juga sudah tidur. Dia pasti akan baik-baik saja, dokter sudah memberinya obat," ucap Agatha membuat Faris pun mengangguk, kemudian ia pun melangkah menuju ke mushola untuk melaksanakan salat subuh. Sepanjang doa, Faris terus meminta keselamatan dan jodoh yang panjang bersama dengan istrinya, serta kebahagiaan terus bersama dengan mereka, memberi kesehatan untuk anaknya. Bayangan kegagalan dan ketakutan akan kembalinya, terpuruk kembali menghantui pikirannya. Faris tak ingin kembali ke masa-masa di mana ia merasa sendiri, ia sudah merasa nyaman bersama Nia dan sangat bahagia dengan kehadiran putrinya.
Setelah melaksanakan salat, Faris pun kembali ke kamar. Ia kembali mengecek suhu tubuh Nia yang ternyata sudah normal, barulah ia merasa sangat lega.
Faris menguap tanpa henti membuat Agatha kini pun menghampirinya, "Berbaringlah dulu, Nia baik-baik saja. Ayo sana," ucap Agatha sedikit memaksa putranya.
"Ya sudah, Bu. Nanti jika Nia bangun, bangunkan aku juga, ya," pinta Faris membuat Agatha pun hanya mengangguk. Faris berjalan ke ranjang tambahan yang berada di samping Nia, kemudian ia berbaring, mengistirahatkan tybyhnya yang menang terasa lelah. Baru saja ia berbaring, suara dengkuran halus langsung terdengar dari Faris, menandakan jika dia sudah berada di alam mimpinya.
Agatha hanya menggeleng melihat anaknya yang sebegitu cintanya kepada Nia hingga terlihat sangat frustasi melihat kondisi Nia saat ini..
Agatha menghampiri Intan yang sedang menggendong cucu mereka.
"Nia sangat beruntung memiliki suami yang sangat mencintainya seperti Faris," ucap Intan melihat bagaimana menantunya itu sangat tulus mencintai putrinya.
__ADS_1
"Iya, Ibu benar. Aku juga bisa melihat cinta yang begitu besar dimata putraku untuk putrimu, semoga saja jodoh mereka panjang hingga menua nanti," ucap Agatha yang langsung diaminkan oleh Intan.
Faris tertidur hingga jam 08.00 pagi. Saat ia terbangun, ia melihat Nia sudah duduk dan disuapi oleh Intan, ia pun menghampirinya mengecek suhu tubuhnya.
"Kamu nggak kedinginan lagi kan? Kamu nggak merasa demam lagi?" tanya Faris membuat Nia pun menggeleng sambil mengunyah makanannya.
"Nia baik-baik saja kok, Mas. Kata ibu demam itu kadang juga terjadi, biasanya saat ASInya ingin keluar, semoga saja ASI aku lancar dan aku bisa memberikan ASI eksklusif kepada putri kita," ucap Nia membuat Faris pun mengangguk.
"Semoga saja kamu tak demam lagi, aku sangat khawatir," ucapnya.
"Sakit?" tanya Faris terkejut.
"Iya," jawab Nia.
"Tenanglah, itu nggak papa. Mungkin hanya satu hari saja, sesudah itu tak sakit begitu ASInya sudah keluar dan putri kalian sudah menyusu," jelas Intan melihat keduanya secara bergantian, mereka pun mengangguk mengerti. Mereka sama sekali tak tahu akan mengenai tanda-tanda akan adanya air ASI. Begitupun dengan Faris, dimana saat melahirkan dulu Raya sama sekali tak mau menyusui anak-anaknya, bahkan air ASInya memang tak pernah ada, ketiga anaknya semua meminum susu formula.
Disaat mereka tengah berbincang, bayi kecil itu pun menangis, membuat Agatha langsung membawanya ke pangkuan Nia, membantu bayi itu agar mendapatkan ASI. Nia mulai menyusui bayinya, begitu bayi itu mendapatkan sumber ASInya, ia langsung menghisap dengan kuat, sesekali masih terlepas dari mulutnya karena Nia yang belum terbiasa.
__ADS_1
Intan dan Agatha dengan sabar membantu Nia untuk menyusui bayinya yang terlihat sudah mulai mengeluarkan ASI, terlihat dari ada tetesan putih kekuningan di sudut bibir putrinya.
Nia menyusui bayinya hingga bayinya pun tertidur, setelah cucunya itu tidur dengan pulasnya, Agatha kembali mengambilnya dan meletakkannya di box bayinya. Tak lama kemudian, dokter pun datang dan memeriksa kondisinya,
Semua baik-baik saja, membuat dokter pun mengizinkan Nia pulang saat sore hari nanti.
"Terima kasih, Dokter," jawab Faris sebelum dokter itu pun meninggalkan ruangan Nia.
Setelah dokter itu keluar, Dita datang dengan membawa pakaian ganti ibunya. Intan langsung mengambil pakaian tersebut dan masuk ke kamar mandi, mengganti pakaiannya yang dari semalam dipakainya, sementara Agatha memang sudah membawa pakaian ganti. Dita pun bergantian menjaga putri Nia.
"Mas, kamu pulang aja dulu mandi, kamu pasti sangat gerah sekarang," ucap Nia yang tahu bagaimana suaminya itu sangat tak suka jika penampilannya kotor ataupun tak nyaman.
"Nggak kok, nggak papa. Aku jagain kamu aja di sini," jawab Faris yang masih enggan untuk meninggalkan Nia
"Iya, nggak papa kok, Mas. Ada Kak Dita, ada ibu, mereka pasti akan menjagaku, sekarang Mas pulang lah mandi, kasihan kan anak kita jika digendong sama ayahnya yang bau," ucap Nia mencium suaminya, membuat Faris mencium badannya dan benar saja memang ada bau tak sedap.
"Ya udah kalau begitu, aku pulang dulu. Aku nggak lama kok," ucapnya kemudian Faris pun keluar dari ruangan itu.
__ADS_1