
Sesampainya di rumah sakit, Nia langsung ditangani oleh dokter. Ia di bawa ke ruang persalinan dengan Faris yang terus bersama dengannya.
Nia berusaha untuk terlihat baik-baik saja, "Tenanglah, Mas. Aku baik-baik saja, aku nggak papa, kok," jawab Nia, walau dengan rasa sakit, ia masih bisa bersikap tenang.
Ia tak ingin suaminya itu khawatir, ia bisa melihat wajah kekhawatiran Faris melihat kondisinya.
Namun, semakin lama sakitnya semakin membuatnya tak tahan, hingga ia pun meringis kesakitan.
"Mas, rasanya sangat sakit," lirih Nia yang kini mulai terisak dengan tangan yang bergetar mencengkeram tangan Faris.
"Sabar ya, ini nggak lama kok. Kamu pasti bisa melahirkan bayi kita," ucap Faris, pengalamannya menemani Raya melahirkan ketiga anaknya membuat ia tahu apa yang ia harus lakukan, ia pun membantu Nia sebisa yang ia ketahui.
Faris mengusap perut Nia denagn penuh kasih sayang, membacakan shalawat-shalawat yang ia ketahui yang bisa mempermudah proses persalinan istrinya, semua Faris lakukan.
Dokter pun memeriksa Nia dan mengatakan jika pembukaannya sudah lengkap, beberapa dokter pun mulai mendekati Nia dan membantu proses persalinan, ada dua orang dokter wanita dan dua perawat.
"Ayo, Bu. Tarik nafas kemudian hembuskan dengan perlahan ya, Bu. Kumpulkan rasa sakitnya kemudian dorong dengan sekuat tenaga. Ibu pasti bisa, anak Ibu membutuhkan kekuatan Ibu," ucap dokter terus menyemangati Nia. Faris terus berada di samping Nia. Ia sangat tak tega melihat kondisi istrinya. Namun, ia tahu semua itu harus dijalaninya.
Nia terus mengikuti apa yang dokter arahkan.
"Ayo, Bu. Dorong yang panjang, bayi tak bergerak maju, Ibu harus mendorong dengan benar," ucap dokter lagi membuat Nia kembali melakukan hal yang dikatakan oleh dokter. Namun, tetap saja apa yang dilakukannya tetap salah.
__ADS_1
"Ayo, Bu. Ibu harus bisa, kasihan anak Ibu. Dia membutuhkan bantuan Ibu, hanya Ibu yang bisa membantunya untuk keluar," ucap dokter terus memberikan motivasi Nia untuk mendorong. Nia sudah berusaha untuk mendorong sekuat tenaganya. Namun, dokter selalu mengatakan jika cara yang ia lakukan salah, bayinya sama sekali tak bergerak maju membuat Nia pun sangat frustasi. Ia menangis dan menatap ke arah Faris, rasa sakit semakin menggulung di perutnya.
"Mas, aku tak bisa melakukannya. Aku Ibu yang buruk," ucap Nia yang kini menangis tersedu-sedu membuat dokter pun kembali memberikan semangat.
"Ayo, Bu. Ibu pasti bisa," ucap dokter.
"Sayang, kamu pasti bisa. Ayo kita coba lagi, ini pengalaman pertama kamu, jadi wajar jika kamu belum tahu cara mendorong yang baik, tapi aku yakin nanti kamu pasti bisa. Ayo, Sayang, kasihan anak kita," ucap Faris.
Nia kembali mendorong sesuai yang dokter ajarkan.
Nia mendorong sampai wajahnya memerah dengan menggenggam erat tangan Faris, bahkan kuku-kuku Nia kini menancap sempurna di kulit Faris. Faris tak peduli akan hal itu, ia yakin istrinya saat ini jauh lebih merasakan sakit dari apa yang dirasakannya.
"Iya, Bu. Sedikit lagi bayinya bergerak maju. Ayo, Bu seperti itu," ucap dokter membuat Nia pun mengerti bagaimana cara mendorong bayinya. Ia kembali mengumpulkan rasa sakit dan juga nafasnya, menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan, kembali ia mendorong dengan cara yang dikatakan dokter dan itu adalah cara yang tepat.
"Istirahat dulu, Bu. Kalau memang rasa sakitnya belum kembali terasa," ucap dokter membuat Nia pun menggangguk, di mana rasa sakitnya kini memang tiba-tiba menghilang.
Faris memberikaan air minum dan menawarkan makan. Namun, Nia menggeleng, setelah 5 menit beristirahat rasa sakitnya kembali menyerang, Nia pun kembali bersiap untuk mengejan dan kali ini dia mengambil nafas begitu dalam dan menghembuskan dengan perlahan, terus menahan dan menahan hingga sakitnya benar-benar sudah tak tertahankan lagi.
Nia mencengkeram erat tangan Faris dan satu tangannya lagi mencengkram paha bagian dalamnya. Nia mendorong dengan begitu kuat dan panjang hingga ia merasa nafasnya benar-benar habis.
"Iya, Bu. Bagus, bagus. Sekali lqgi, Bu, satu dorongan lagi," ucap dokter membuat Nia pun mengangguk karena memang rasa sakitnya masih menggulung di rasakannya. Nia kembali mengatur nafasnya dan mengejan dengan sekuat tenaga, dengan cara yang sama Faris yang bisa melihat wajah Nia memerah dan terlihat nafas menahan nafasnya juga ikut melakukan hal yang sama, ia bahkan mengejan sepanjang Nia mendorong bayinya dengan kuat.
__ADS_1
Suara tangis bayi memecah ruang persalinan, Faris baru bernafas lega. Tangannya bergetar mengeluarkan rasa gembiranya, ia mengecup Nia berkali-kali, kembali mengusap keringat yang bercucuran dan kini Nia sudah terlihat lemas. Namun, senyum di wajah istrinya itu membuatnya ikut tersenyum.
"Alhamdulillah, Mas. Alhamdulillah," ucap Nia terus mengucapkan rasa syukur, beriringan dengan suara tangis bayinya yang menggema. Begitupun dengan Faris, ia tak bisa menutupi rasa syukurnya, pria itu meneteskan air mata bahagianya.
"Selamat ya, Bu. Bayinya sangat lucu, dia perempuan dan sangat cantik, sama dengan ibunya," ucap dokter tersebut meletakkan bayi yang baru saja dilahirkannya ke dada Nia. Nia perlahan memeluk bayinya yang sudah tenang di atas dadanya.
"Mas, anak kita. Anak kita, Mas," ucapnya dengan suara bergetar. Faris hanya mengangguk, ia masih mengusap air matanya yang tak bisa ditahannya, terserah dokter mengatakan atau menatapnya heran. Hari ini Faris sangat bahagia, hari ini putri tercintanya lahir.
"Di adzan dulu, Pak," ucap dokter tersebut membuat Faris pun menggangguk, kemudian mengadzankan bayinya, suara Faris bergetar saat mengazankan putri kecilnya itu. Setelah Faris mengadzankannya, ia pun mengecup seluruh wajah putrinya, kedua pipi, kening dan juga punggung tangannya.
Setelahnya Faris diminta untuk menggendong bayinya terlebih dahulu, sementara dokter mulai membersihkan Nia, mengeluarkan ari-ari yang masih berada di rahimnya.
Setelah semua selesai, Nia pun dipindahkan ke ruangan lain dan meletakkan bayi yang sudah bersih dan berselimut itu di samping Nia. Faris mencium keduanya secara bergantian, ia tersenyum bahagia melihat dua wanita yang kini ada di hadapannya, istri dan anaknya.
Faris melihat anaknya yang terlihat begitu tenang dalam pelukan wanita yang sangat dicintainya, Faris yakin 100% jika bayi yang dilahirkannya adalah darah dagingnya. Walau Nia melahirkan bayi perempuan. Namun, mereka bisa melihat jelas jika bayi itu juga memiliki kemiripan dengan Faris.
Agatha, Intan dan Dita yang menunggu di luar, ikut bahagia saat mereka mendengar suara bayi. Mereka dengan tak sabar menunggu dan ingin bertemu dengan Nia dan bayinya. Namun, mereka harus sabar sebentar lagi sampai Nia dipindahkan ke ruang perawatan.
Walaupun Nia melahirkan secara normal, ia masih harus menginap di rumah sakit karena masih harus mendapat perawatan.
Keluar dari ruang bersalin, mereka pun langsung mengikuti Nia menuju ke ruang perawatan.
__ADS_1
Agatha sudah menghubungi Indira dan juga Tari jika Nia sudah melahirkan dan meminta membawa beberapa perlengkapan untuk mereka menginap.
Semua menyambut gembira kelahiran bayi Faris dan Nia, mereka pun semua menjenguknya di rumah sakit dan tak sabar ingin melihat anggota keluarga baru mereka.