Dudaku Ternyata Miliarder Tampan

Dudaku Ternyata Miliarder Tampan
Penyesalan Tak Ada Gunanya.


__ADS_3

Mau tak mau, Raya pun tinggal di rumah sederhana Yuni. Mereka harus berbagi segalanya, termasuk berbagi kamar. Karena rumah itu hanya memiliki satu kamar, begitupun dengan perlengkapan dapur. Mereka harus saling berbagi, ada yang membeli bumbu dapur, ada yang membeli perlengkapan lainnya. Mereka harus berhemat sampai mereka mendapatkan pekerjaan yang tetap. Mereka takut jika Faris belum puas akan kemarahannya.


****


Sudah 2 minggu kini telah berlalu. Raya terus berjalan ke sana kemari untuk melamar pekerjaan. Namun, tak satupun yang menerimanya bekerja, pernah suatu hari ia diterima bekerja di sebuah toko. Namun, keesokan harinya ia langsung kembali ditolak tanpa alasan yang pasti, pemilik toko memang tak memberi alasan mengapa ia tiba-tiba tak diterima bekerja. Namun, Raya tahu, pasti semua itu adalah campur tangan dari Faris, sepertinya Faris belum puas melihatnya tersiksa dengan semua apa yang telah diberikannya padanya.


Bukan hanya Raya saja yang masih mendapatkan akibatnya, sudah dua minggu pula Yuni tak mendapat pelanggan, membuat ia benar-benar kesal. Bahkan dialah yang menelpon para pria hidung belang yang selama ini sering menelponnya, bahkan orang-orang yang sering ditolaknya pun ditelepon oleh Yuni untuk menawarkan diri, tapi mereka semua menolak dengan alasan mereka sedang tak membutuhkan pelayanan Yuni.


Foya-foya, hidup glamor, berbelanja sesukanya sudah pernah mereka berdua alami, membuat kehidupan mereka terasa semakin berat.


Yuni, saat menjadi simpanan seorang pria kaya, ia mendapatkan kartu yang bisa membuatnya membeli apa saja, terlebih lagi dia bukan hanya menjadi simpanan satu orang saja, tapi lebih dari satu.


Begitu pula dengan Raya, saat menjadi istri Faris. Apapun yang diinginkannya akan dipenuhi oleh suaminya, dia jadikan ratu. Namun, kesalahannya menjadikan dia dalam posisi saat ini.


Raya melihat uang yang ada di dompetnya, baru 2 minggu gaji yang seharusnya diperhitungkannya bisa digunakannya selama sebulan kini telah habis. Hanya tersisa sebagian saja dari uqng pesangaonnya, mungkin satu minggu uangnya itu sudah habis.


Raya pun memutar otak, mungkin sebaiknya dia membuka usaha, tapi usaha apa? Dia sama sekali tak punya keahlian.

__ADS_1


Malam hari di rumah Yuni, Raya menghampiri Yuni yang sedang menonton acara televisi sambil terus mengutak-atik ponselnya, menelpon orang-orang yang ingin dilayani olehnya. Namun, tak satupun yang menginginkannya, Yuni melempar ponselnya ke sofa di sampingnya.


"Kamu belum dapat juga, ya?" tanya Raya membuat Yuni pun menggeleng dan menghela nafas kasar.


"Faris benar-benar berpengaruh ya, sampai orang-orang rendah saja tak mau mengangkat panggilanku," kesal Yuni.


"Aku pun seperti itu, sudah beberapa hari ini terus berjalan bolak-balik sampai aku rugi di ongkos. Namun, tetap saja tak satupun yang mau menerima ku bekerja, terakhir aku bahkan mengajukan pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih di sebuah restoran, tetap saja aku ditolak. Fix, ini semua benarlah ada pengaruh Faris," kesalnya.


Di saat mereka sedang membahas masalah Faris, ponsel Raya kembali berdering dan itu pesan dari Diva yang mengatakan jika perusahaan ayahnya telah bangkrut. Rumahnya telah disita oleh bank, sekarang dia tak punya apa-apa lagi dan tinggal di rumah kontrakan sederhana. Diva mengecam jika semua yang dialaminya karena ulah Raya dan akan membalas semua apa yang telah Raya lakukan padanya.


"Dasar wanita bodoh!" kesel Raya menghapus pesan Diva. Ia tak mau lagi ikut lagi campur masalah Diva, ia saja sudah tak bisa menangani masalahnya, penyesalan akan penyesalan hanya bisa disimpannya ke dalam hati, menutupi dengan egonya.


"Aku saja yang berpendidikan tinggi tak mendapat pekerjaan, apalagi kamu yang hanya mengandalkan kecantikanmu, tanpa pendidikan," ucao Raya kemudian keduanya pun berpikir apa yang harus mereka lakukan, membuat Yuni memutuskan untuk membuat usaha sendiri, sesuai dengan usulan Raya. Namun, tentu saja mereka harus mendapatkan modal.


"Kamu kan punya tas yang banyak, bagaimana jika kita jual saja? Aku juga akan menjual tas-tas mahal ku, kita jadikan modal usaha," ucap Yuni membuat Raya pun mengangguk. Lagi pula tas-tas yang seharga ratusan juta itu sudah tak penting lagi untuknya, ia juga memutuskan untuk menjual semua itu, begitupun dengan Yuni.


Mereka kemudian menghubungi teman-teman mereka yang memungkinkan mau membeli tas-tas mahal mereka itu dan anehnya tak ada satupun yang ingin membelinya dengan harga yang ditawarkan, padahal itu sudah sangat murah dari harga awal.

__ADS_1


Mereka baru akan membeli jika harganya lebih murah lagi. Mereka tak punya pilihan lain selain menuruti tawaran mereka walau harus merugi.


Mereka pun mendapatkan uang yang cukup untuk membuat modal usaha, sekarang mereka harus berpikir usaha apa yang harus mereka buat agar mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka, hingga Faris mau melupakan kesalahan yang mereka perbuat dan itu entah sampai kapan.


Sementara itu, Faris merasa puas dengan laporan para anak buahnya.


"Baiklah, tetap lanjutkan sampai mereka benar-benar berada di titik bawah dan masalah Diva sudah cukup untuknya, biarkan dia berada di titik saat ini, kembalikan semua pada mereka setelah 5 bulan. Aku hanya ingin dia mendapatkan pelajaran dari apa yang telah diperbuatnya," ucap Faris pada orang suruhannya, walau bagaimanapun Diva hanyalah suruhan dari Raya. Namun, ia ingin memberi pelajaran kepada Diva agar tak bermain-main dengannya. Namun, yang akan melibatkan orang tua Diva yang tak tahu apa-apa.


Faris bisa dengan mudah membuat perusahaan ayah Diva yang berada di keadaan stabil menjadi bangkrut, begitupun sebaliknya. Ia bisa merubah perusahaan itu dari bangkrut menjadi stabil, bahkan lebih. Itulah kekuatan Faris yang cukup disegani di dunia bisnis dan orang yang mengambil alih perusahaan ayah Diva tak lain adalah orang suruhan Faris sendiri.


Malam hari.


"Sayang, kamu ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Nia yang menghampiri Faris yang duduk di kursi kerjanya. Faris yang melihat Nia datang langsung menepuk pahanya, memintanya untuk duduk di sana. Begitu Nia duduk, Faris mengusap perut Nia yang menurut dokter sudah masuk usia 2 bulan.


"Nggak papa, aku hanya merasa senang. Sebentar lagi kita akan memiliki seorang bayi lagi dan aku harap kali ini adalah seorang putra," ucap Faris. Mereka telah melakukan USG dan di pemeriksaan terakhir, ternyata bayi yang dikandung Nia ada kemungkinan seorang laki-laki. Namun, semua masih belum pasti.


"Aku hanya khawatir, bagaimana jika Shanum nanti merasa cemburu dengan kehadiran adiknya," ucap Nia membuat Faris pun mengecup kening Nia.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, dia tak akan merasa cemburu, karena kita akan membagi kasih sayang kita sama rata, baik itu Shanum ataupun adiknya nanti," ucap Faris kembali mengusap perutnya, ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan anak keduanya.


Kehamilan Nia yang kedua ini, jauh berbeda dari yang pertama. Jika saat mengandung Shanum dulu, ia sangat rewel, mual, muntah dan banyak keinginannya. Namun, tidak dengan kehamilan keduanya ini. Nia sama sekali tak menginginkan apapun dan tak merasa mual, ia sama sekali tak merasa jika dirinya sedang ngidam. Semua baik-baik saja, walau dokter mengatakan jika ia harus lebih berhati-hati dengan kandungannya kali ini. Mengingat jaraknya yang terlalu dekat dengan Shanum.


__ADS_2