Dudaku Ternyata Miliarder Tampan

Dudaku Ternyata Miliarder Tampan
Kabar Bahagia


__ADS_3

Sementara itu di kediamannya, Faris memanggil Nia untuk menghampirinya.


"Ada apa, Mas?" tanya Nia sambil menggendong Shanum dan duduk di samping Faris.


"Berikan ponselmu," ucap Faris meminta ponsel Nia. Nia pun merogoh sakunya dan memberikan ponsel miliknya pada sang suami yang memintanya.


Faris langsung mencari kontak Diva dan langsung menghapusnya. "Mulai sekarang jangan berhubungan lagi dengan teman kamu itu, apapun alasannya. Jika memang dia sampai menemui secara langsung menghindar saja, katakan kamu tak mau lagi bertemu dengannya, apapun alasannya, aku tak mengizinkanmu untuk bertemu dengannya," ucap Faris tegas, membuat Nia mengerutkan kening.


"Memangnya kenapa, Mas? Selama ini Mas baik-baik saja saat aku berteman dengan Diva," tanya Nia tak mengerti mengapa suaminya tiba-tiba melarangnya untuk berteman dengan Diva.


"Kamu tak usah tahu apa alasannya, yang jelas aku tak suka kamu berteman dengan dia. Dia bukanlah wanita yang baik, kamu mengerti kan apa yang Mas maksud?" ucap Faris serius membuat Nia pun mengangguk, walaupun ia masih bingung dengan sikap suaminya.


"Iya, Mas. Lagian sudah 2 hari ini Diva juga tak mengirim pesan lagi padaku, biasanya hampir setiap hari dia sering mengirim pesan," jawab Nia.


Faris pun mengambil Shanum kegendongannya. "Biarkan saja, mungkin dia tahu diri jika dia tak pantas berteman denganmu," ucap Faris lagi.


"Iya, Mas."


"Oh ya, dua hari lagi aku ingin ke Amerika. Mungkin hanya sekitar dua atau tiga hari juga, apa kamu mau ikut?" tanya Faris.


"Aku sih sangat ingin ikut, tapi," ucap Nia menggantungkan ucapannya.


"Tapi, apa, Sayang?" tanya Faris.


Nia mengeluarkan sebuah tespek, memperlihatkannya kepada suaminya. "Aku baru mengetesnya semalam dan ternyata hasilnya positif," ucap Nia membuat Faris langsung mengambil alat tespek itu, melihat dua garis merah di sana.


"Kamu hamil lagi?" tanya Faris membuat Nia pun menggangguk.


"Mas, aku belum siap untuk punya anak lagi, Shanum masih kecil. Kamu kok tega banget sih buat aku hamil lagi," ucap Nia yang sudah berkaca-kaca, ia masih belum sanggup untuk kembali melahirkan lagi. Ia memang tak keberatan untuk memberi banyak anak untuk suaminya, tapi tidak dengan jarak yang sedekat itu. Shanum masih sangat kecil untuk mendapatkan adik lagi, Nia hanya takut jika dia tak bisa membagi kasih sayangnya, takut jika salah satu dari mereka malah terlantar nantinya.

__ADS_1


"Sayang, kamu kok kamu ngomong gitu sih, kehadirannya ini adalah sebuah rezeki, kamu nggak boleh menolaknya seperti itu. Dia ini anak kita juga, dia nggak salah. Aku yang salah, aku minta maaf, tapi kamu harus menerimanya, dia sudah ada di dalam rahimmu," ucap Faris memeluk Nia. Ada rasa senang di hatinya walau dia juga khawatir jika mereka tak bisa membagi kasih sayang mereka secara maksimal. Namun, Faris sangat bersyukur dengan kabar kehamilan Nia.


"Bukannya aku nggak bersyukur, Mas. Tapi," ucapnya lagi. Nia tak tahu apa yang harus diucapkannya, ia hanya belum siap untuk kembali melahirkan lagi. Rasa sakit melahirkan Shanum masih terasa dan masih jelas diingatannya.


"Maaf ya, maaf. Jika bayi ini lahir aku akan lebih berhati-hati lagi," ucap Faris mengusap perut Nia, Nia hanya mengangguk. Benar apa yang dikatakan Faris, i harus menerima kehadiran bayi itu, di mana bayi itu sudah ada di dalam rahimnya. Dia tak boleh sejahat itu dengan mengatakan tak menginginkannya.


"Ya sudah, kamu nggak usah ikut. Lagian kasihan jika Shanum kita bawah, terlebih lagi kamu sedang hamil. Aku nggak lama kok, setelah pekerjaanku selesai aku pasti langsung kembali," ucap Faris membuat Nia pun mengangguk.


Sementara itu di sebuah apartemen, sebuah kesepakatan pun terjadi antara Raya dengan seorang wanita cantik yang bernama Yuni, seorang wanita nakal yang diminta Raya untuk melancarkan rencananya.


Yuni adalah salah satu teman Raya, dia bekerja sebagai wanita bayaran dan kali ini Raya menawarkannya untuk bekerja sama, menghancurkan rumah tangga Faris dan juga Nia. Yuni yang mendapatkan uang tentu saja setuju walau dia dibayar tak banyak. Namun, Yuni tetap menerima tawaran tersebut, mengingat Faris adalah pria tampan, ia sama sekali tak masalah jika harus melayani pria tampan itu.


"Apa kamu bisa melakukannya?" tanya Raya.


"Kamu tenang saja, jika aku tak bisa melakukannya jangan panggil aku Yuni, kamu hanya perlu foto-fotonya kan?" ucap Yuni lagi membuat Raya pun mengangguk.


"Benar, cukup memberikan foto. Jika bisa memberikan aku video juga sekaligus, biar lebih meyakinkan," ucap Raya tertawa kecil membuat Yuni hanya mengacungkan tangan.


"Tapi, maaf. Aku tak bisa membayarmu lebih dari yang aku berikan tadi," ucap Raya lagi.


"Sudah, kamu tenang saja. Anggap saja ini aku membantumu sebagai seorang teman, aku juga kasihan dengan hidupmu sekarang, walau aku tak lebih baik darimu," ucap Yuni menuangkan segelas minuman beralkohol kedalam gelas panjang dan memberikannya kepada Raya dan malam itu mereka pun mabuk-mabukan. Raya yang selama ini merasa stress, melampiaskan semua rasa kesal di hatinya dengan mabuk-mabukan bersama dengan Yuni malqm itu.


Pagi hari Raya mendapat kabar jika Faris akan pergi ke luar negeri.


"Lihat, sepertinya dewi keberuntungan sedang memihak kita. Faris akan pergi ke luar negeri, aku akan mengurus kepergianmu juga dan melancarkan aksimu di sana. Bagaimana?" tanya Raya pada sahabatnya itu.


"Ke luar negeri? Amerika?" tanya Yuni membuat Raya pun mengangguk.


"Wah, benar katamu. Keberuntungan sedang memihak kita, aku memang akan pergi ke sana besok ada yang membooking ku. Setelah dari sana, aku bisa langsung menemui Faris. Kamu tenang saja, semua pasti akan beres," ucap Yuni kemudian mereka tertawa terbahak-bahak membayangkan rencana mereka akan berhasil.

__ADS_1


'Nia, kita lihat saja apakah setelah mendapatkan bukti perselingkuhan suamimu, apakah kamu masih bisa bahagia hidup bersamanya,' ucap Raya membatin dengan senyum liciknya, dia sudah membayangkan bagaimana kehidupan Nia jika rencananya berhasil.


Raya memang sudah tak bisa lagi kembali pada Faris, untuk menjalani kehidupannya yang dulu. Namun, ia tak akan membiarkan Faris bahagia dengan Nia.


Hari yang di tunggu pun tiba, Faris berpamitan kepada Nia untuk pergi keluar ke negeri.


"Nia, Sayang, jaga bayi kita baik-baik dan juga jangan terlalu sibuk mengurus Shanum, biarkan baby sitter yang mengerusnya. Sekarang kamu fokus pada bayi kita ini," ucap Faris mengusap perut Nia. Nia hanya mengangguk menurut pada sang suami, dia juga sudah memeriksakan kepada dokter dan dokter mengatakan jika kandungannya kali ini harus lebih hati-hati.


Semua keluarga yang sudah mengetahui jika Nia kembali hamil, merasa sangat bahagia. Begitupun Nia, Nia sudah menerima kehadiran bayi yang ada di rahimnya, ia sama sekali tak merasakan mual ataupun ngidam, malah dia merasa sangat menyayangi bayi yang ada di rahimnya itu setalah melakukan pemeriksaan..


Faris pun berangkat ke luar negeri dan begitu di bandara, Yuni dan Raya sudah melihat di mana posisi Faris, menjadikan Faris target mereka.


"Baiklah, aku akan mulai melancarkan aksiku dengan berkenalan dengannya di pesawat, nanti aku kabarkan lagi," ucap Yuni membuat Raya pun mengacungkan jempolnya, kemudian Faris dan Yuni pun masuk ke pesawat yang sama. Yuni sengaja berpura-pura terjatuh saat melewati Faris. Faris membantunya dan Yuni mengucapkan terima kasih dan kebetulan ia duduk di samping bangku Faris, mereka pun berkenalan.


Yuni yang tahu seperti apa sosok Faris dari Raya, ia bersikap elegan dan tak ada sikap yang mencoba menggodanya, ia cuek dan bersikap seperti wanita terhormat.


Setelah pesawat lepas landas, Yuni pun mencari cara untuk membuka percakapan di antara mereka.


Yuni mengambil sebuah botol air minum dan berpura-pura tak bisa membukanya.


"Permisi, Pak," ucapnya pada Faris. Faris pun berbalik dan melihat ke arah Yuni.


"Iya, ada apa," jawab Faris.


"Maaf mengganggu waktunya, apa boleh aku minta tolong? Aku tak bisa membukanya, aku sangat kehausan," ucap Yuni sopan.


Faris pun mengambil botol yang Yuni sodorkan, kemudian membuka botol tersebut. Faris memberikan botol itu kepada Yuni setelah membuka tutupnya.


"Terima kasih, Pak," ucap Yuni ingin mengambil botol tersebut. Namun, tiba-tiba botol itu tergelincir dari tangannya dan menumpahkan botol itu ke pakaian Faris. Yuni langsung mengambil sapu tangan dan mencoba membersihkannya.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Maaf, aku sama sekali tak sengaja," ucap Yuni terlihat panik.


"Iya, nggak papa," ucap Faris mengambil sapu tangan Yuni dan mencoba membersihkannya sendiri pakaiannya dan mereka pun mulai berkenalan dan berbicara santai sambil menunggu mereka tiba di tempat tujuan mereka.


__ADS_2