Dudaku Ternyata Miliarder Tampan

Dudaku Ternyata Miliarder Tampan
Hasil Dari Perbuatan.


__ADS_3

Setelah menyelesaikan semua urusannya di tempat kerjanya, Raya pun pulang ke kota. Ia langsung ke rumah di mana rumah itu yang biasa ditempatinya bersama dengan anaknya dan juga mantan suaminya dulu.


Rumah itu adalah rumah pemberian Faris saat mereka bercerai. Namun, yang aneh rumah itu seharusnya kosong. Namun, mengapa terlihat ada penghuni dan ada mobil lainnya, serta beberapa satpam dan juga orang-orang yang baru dikenalnya. Raya pun menghampiri rumahnya.


Dia mencoba memencet bel, saat tak afa yang menyambutnya dan pintu gerbangnya terkunci.


"Ada apa, Bu?" tanya satpam yang menghampirinya.


"Loh, kamu ini siapa? Di mana satpam yang sering menjaga rumah ini?" tanya Raya, di mana satpam yang menjaga rumah itu berbeda dari yang biasanya. Satpam yang biasa diminta Raya untuk menjaga rumah itu, bukanlah satpam yang menegurnya saat ini.


"Oh iya, Bu. Saya satpam baru di rumah ini, saya baru bekerja di sini selama 2 hari," ucap satpam tersebut.


"Oh ya sudah, buka pintunya," ucap Raya membuat satpam tersebut membuka pintu.


"Ibu siapa ya dan Ibu mau apa di sini?" tanya satpam masih menghalangi jalan Raya untuk masuk walaupun sudah membuka pintu gerbangnya.


"Apa maksudmu? Ini adalah rumahku. Minggir kamu! Kamu dari tadi menghalangiku, bukannya menyambut dan membantuku membawa koper malah merepotkanku. Sana! Kamu nggak lihat ini aku sudah kecapean, panas tahu di luar!" kesal Raya mendorong satpam tersebut. Namun, satpam itu langsung menghalanginya saat Raya ingin membuka pintu utama.


"Maaf, Bu. Anda ini sebenarnya siapa? Apa maksud Ibu dengan mengakui rumah ini adalah rumah ibu? Ibu bukanlah majikan saya," ucap Satpam tersebut masih menghalangi Raya mendekati pintu utama.


"Saya nggak ngerti siapa yang menukar kamu dengan satpam yang dulu, yang jelas ini rumah saya! Saya ingin masuk dan kamu jangan macam-macam, saya bisa memecat kamu!" ucap Raya lagi mencoba menyingkirkan satpam dari pintu utama. Namun, satpam itu tetap menjalankan tugasnya untuk mengamankan rumah itu, tak membiarkan orang asing masuk ke rumah itu.


Kegaduhan di luar memicu sang punya rumah untuk keluar dan akhirnya pemiliknya pun keluar menghampiri keduanya. Pintu utama terbuka, Raya melihat ada dua orang yang keluar, sepertinya mereka sepasang suami istri.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanyanya menatap Raya dan juga satpam secara bergantian.

__ADS_1


"Ini, Pak. Ibu ini mencoba untuk masuk dan mengaku-ngaku jika ini adalah rumahnya," jawab satpam tersebut.


"Seharusnya saya yang tanya, kalian ini siapa? Ini rumah saya, apa yang kalian lakukan di sini?" ucap Raya merasa kesal. Ia seolah-olah menjadi orang asing di rumahnya sendiri.


"Oh, jadi Ibu pemilik sebelumnya rumah ini? Maaf, Bu. Kami sudah membeli rumah ini dan rumah ini sekarang milik kami, mungkin Ibu belum tahu atau bagaimana kami tak tau, makanya Ibu bersikap seperti ini," ucap pemilik rumah tersebut.


"Ini pasti ada salah paham, saya tidak pernah menjual rumah saya, memangnya kalian membelinya dari mana?" tanya Raya masih tak mengerti apa yang terjadi di sini. Rumah ini adalah rumah miliknya, ia baru saja datang beberapa hari yang lalu dan rumah itu masih kosong dan masih miliknya, lalu mengapa tiba-tiba rumah ini berubah menjadi milik orang lain.


Istri pemilik rumah baru itu pun masuk dan mengambil surat-surat rumah dan juga surat jual beli, ia memperlihatkannya kepada Raya. Raya sangat tercengang saat melihat jika rumah itu mereka beli dari Faris. Selama ini Raya tak pernah mengubah nama Faris ke namanya, rumah itu masih milik atas nama Faris begitu juga surat-surat lainnya. Raya tak pernah mengurusnya, hanya langsung menempati saat Faris mengatakan rumah itu adalah miliknya setelah mereka bercerai. Memang tak ada surat apapun yang di pegang Raya.


Raya langsung menelpon Faris.


"Halo, Mas. Apa-apaan ini, mengapa kamu menjual rumah yang sudah kamu berikan padaku?" tanya Raya dengan kesal saat Faris mengangkat teleponnya.


"Sekarang aku tanya, apa kamu punya uang untuk membayar hutang-hutangmu?" tanya Faris tegas, mendengar itu Raya pun terdiam.


"Mas, kamu itu apa-apaan sih! Bukannya sesuai dengan perjanjian jika aku akan membayarnya dengan mencicil semuanya, lalu apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba penjual rumahku, aku mau tinggalin mana sekarang, Mas. Aku yakin jika kamu sudah pasti tahu kan jika aku sudah dipecat dari pekerjaanku, aku tahu semua itu adalah perintahmu, kamu itu kenapa jahat sekali sama aku?" ucap Raya masih dengan nada kesalnya pada mantan suaminya itu.


Mendengar itu, Faris tertawa di balik telepon. "Siapa yang kejam, kamu atau aku? Dengar Raya, selama ini aku sudah melupakan semua kekejaman yang kau lakukan padaku, kurang baik apa aku selama ini padamu? Itukah balasanmu? Kamu hampir saja menghancurkan rumah tanggaku dengan Nia. Kamu tak lupa kan kesepakatan kita, jika aku akan membayar hutangmu dengan syarat kamu tak akan menggangguku dan Nia. Sebenarnya apa maksudmu, Raya. Aku sama sekali tak mengerti akan wanita seperti apa dirimu itu, jika bisa memutar waktu, aku tak ingin berkenalan denganmu di masa lalu, aku tak ingin menjadikan dirimu masa laluku, aku menyesalkan pertemuan kita Raya," ucap Faris dengan tegas dari balik teleponnya.


"Mas, aku menyesal, aku minta maaf. Aku tak akan mengulanginya lagi. Tapi, tolong jangan seperti ini, jika kamu mengambil rumah dan pekerjaanku aku mau tinggal di mana, aku akan mendapatkan menghasilkan dari mana," ucap Raya yang kini mengubah nada bicaranya bernada memohon.


"Sudah berapa kali kamu berjanji akan berubah Raya, sekalipun kamu tak pernah menepati janjimu. Memang seharusnya inilah yang kamu dapatkan, aku tak mau mencampuri urusanmu lagi dan satu hal lagi, jangan menelponku. Jika kamu masih mencoba menghubungiku atau mencoba menghancurkan rumah tanggaku lagi, akan kupastikan Farah dan Tita juga akan mendapatkan dampaknya!" ancam Faris kemudian ia pun mematikan sambungan teleponnya.


Raya yang mendengar hal itu sangat kesal, ia tak bisa berbuat apa-apa saat ini selain menuruti apa yang Faris katakan, terlebih lagi ancaman Faris tadi jika Faris memutuskan apa yang diberikannya kepada Farah dan Tita. Ia tak yakin apakah dia bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan kondisinya saat ini. Raya yang stress menarik rambutnya, kemudian menyeret kopernya meninggalkan rumah yang selama ini menjadi kebanggaannya, rumah berlantai dua dengan ukuran yang sangat besar. Kini bukan miliknya lagi, Raya keluar dan mengambil mobil yang terparkir di garasi. Syukurlah Faris masih mengasihaninya dengan tak mengganggu mobil pemberiannya di masa lalu itu, ia memasukkan barang-barangnya ke mobil, begitupun barang yang baru saja dikeluarkan oleh asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu, ia menaikkan semua barang- barang Raya yang masih ada di rumah itu ke dalam mobil dan pergi dari sana.

__ADS_1


Raya memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Ia sangat bingung harus menelepon dan meminta bantuan siapa, di saat ia berada di situasi dan merasa bingung, Yuni menelponnya.


"Ada apa lagi? Aku sedang pusing, sekarang aku tak mau diganggu," ucap Raya saat Raya mengangkat panggilan Yuni.


"Aku ingin bertemu denganmu di cafe X, aku tunggu sekarang," ucap Yuni dan langsung mematikan panggilannya.


Raya hanya menghela nafas kemudian ia pun menuju ke cafe X, menemui Yuni. Ia tak tahu lagi harus ke mana, mungkin Yuni bisa membantunya untuk mencarikan tempat tinggal atau pekerjaan.


Sesampainya di cafe, Yuni sudah menunggu di sana. Yuni terlihat kesal saat melihat Raya menghampirinya.


"Raya, bagaimana ini? Apa kamu sudah bicara pada Faris? Aku mohon minta Faris untuk berhenti mencampuri urusanku, lihat baru saja ada yang meng-cancel lagi, padahal dia sudah membayar dan sekarang ia meminta uangnya dikembalikan, jika sudah seperti ini bagaimana aku bisa menghasilkan," ucap Yuni yang merasa frustasi.


"Aku tak bisa menghubungi Faris lagi, jika aku mencoba menghubunginya, ia akan menghentikan memberikan biaya pendidikan kepada anak-anakku, kamu tahu sendiri kan berapa biaya sekolah Farah dan juga Tita, mereka sekolah di sekolah yang mahal. Aku mana sanggup untuk membiayai mereka, aku tak mau berurusan dengan Faris lagi jika itu sudah menyangkut masalah masa depan anakku," ucap Raya memijat kepalanya.


"Lalu bagaimana sekarang? Apa kita harus menerima semuanya?"


"Aku juga tidak tahu, apa kau tahu sekarang aku sudah tak punya apa-apa, aku dipercepat dari pekerjaanku, rumahku juga dijual oleh Faris. Sekarang untuk menginap malam ini saja aku tak tau.


Aku juga tak bisa menyewa hotel, tentu saja itu harganya sangat mahal. Aku harus mencari tempat yang murah dan mencari pekerjaan," ucap Raya membuat Yuni hanya menghela nafas, percuma dia memohon kepada Raya untuk membantunya, Raya sendiri sedang dalam kesulitan.


"Yuni, apa kau punya tempat atau pekerjaan untukku? Apapun akan kulakukan."


"Ya sudah, sekarang kita ke rumahku saja. Nanti kita bahas lagi," ucap Yuni kemudian mereka pun pergi ke rumah Yuni, sebuah rumah yang sederhana. Rumah itu terlihat sudah lama tak dihuni, terlihat banyak debu dan juga perabotan yang sudah banyak rusak.


"Ini rumah kamu yang selama ini kamu tinggali? Kamu jorok sekali sih," ucap Raya.

__ADS_1


"Aku sudah lama tak tinggal di sini, tentu saja selama ini aku tinggal di rumah mewah. Tapi, rumah itu sudah diambil kembali oleh pemiliknya, padahal aku sudah nyaman tinggal di sana," kesal Yuni. Selama ini dia tinggal di rumah pria kaya raya yang menjadikannya simpanannya. Namun, karena bersinggungan dengan Faris, ia pun harus berurusan dengan istri dari pria kaya tersebut meninggalkannya, pria kaya itupun memutuskan hubungan mereka, termasuk memintanya untuk pindah dari rumah yang ditempatinya.


__ADS_2