Dudaku Ternyata Miliarder Tampan

Dudaku Ternyata Miliarder Tampan
Acara Adik Bayi


__ADS_3

Faris kembali ke kediamannya, begitu ia datang semua langsung menanyakan bagaimana kondisi Nia dan bayinya, Faris mengatakan jika semua baik-baik saja. Tadinya, mereka kembali ingin pergi ke rumah sakit. Namun, Faris menyarankan agar mereka menunggu di rumah saja, di mana Nia akan kembali ke rumah hari ini.


Mendengar itu, mereka semua memutuskan untuk menunggu Nia dan juga membuat makanan kesukaan Nia untuk menyambutnya.


Faris pun masuk ke kamarnya mandi, kemudian beristirahat sejenak, ia membaringkan dirinya di atas kasur empuknya. Namun, tiba-tiba ia yang tadinya hanya ingin berbaring sejenak tak sengaja tertidur.


Entah berapa lama Faris tertidur dan suara jaringan ponsel yang membangunkannya. Begitu Faris bangun, ia melihat jam sudah menunjukkan jam 03.00 sore.


"Astagfirullah, kenapa aku bisa ketiduran," gumam Faris dan dengan cepat ia pun bergegas menuju ke rumah sakit.


"Faris, kamu masih di rumah?" tanya Tari yang melihat Faris turun dari lantai 2.


"Aku ketiduran, tante" jawabnya.

__ADS_1


"Ya ampun, Tante pikir kamu sudah ada di rumah sakit. Tante nggak tahu kamu tidur, kalau tahu pasti Tante membangunkanmu," ucap Tari menyusul Faris yang berjalan terburu-buru menuju ke pintu utama.


"Iya, nggak apa-apa, Tante. Ya, sudah aku pamit dulu ya, aku akan menjemput Nia, tadi ibu sudah menelpon jika mereka sudah siap-siap tinggal menungguku saja," jawab Faris membuat Tari pun hanya mengangguk. Faris dengan cepat bergegas masuk ke mobil dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, dirinya sendiri tak tahu mengapa sampai ketiduran seperti tadi, seharusnya dia mendampingi Nia melewati masa-masa sulitnya. Nia sudah melahirkan bayi untuknya, sudah seharusnya dia berada di dekatnya dan menemaninya.


Setelah Faris sampai, ternyata mereka semua sudah siap-siap pulang, membuat mereka langsung pulang begitu Faris datang dan meminta supir yang tadi membawa mobil membantu membawa barang-barangnya, walau tak terlalu banyak karena sebagian barang sudah dibawa pulang oleh Faris tadi.


Faris mengambil kursi roda dan meminta Nia untuk duduk, untuk mendorongnya menuju ke parkiran. Tapi, Nia keberatan.


"Nggak usah, Mas. Aku masih bisa berdiri dan masih kuat untuk berjalan hingga ke parkiran," jawab Nia menolak. Namun, Faris memaksa membuat Ia pun patuh dan hanya terdiam saat Faris mendorongnya menuju ke parkiran, sementara bayi mereka digendong oleh Agatha dan Intan serta Dita membantu pak supir membawa beberapa barang bawaan mereka.


"Iya, nggak apa-apa, Mas. Lagian Mas juga kan butuh istirahat, Mas pasti lelah menemaniku seharian kemarin melahirkan bayi kita dan semalam tak beristirahat. Nia ngerti kok, Mas," jawab Nia membuat Faris mengecup pucuk kepalanya sambil terus mendorongnya menuju ke parkiran.


Sesampainya di parkiran, Faris kembali tak mengizinkan Nia untuk berdiri, ia langsung mengangkatnya dan memindahkannya ke mobil.

__ADS_1


"Jangan banyak bergerak dulu, kamu baru saja melahirkan," ucap Faris setelah menggendong Nia dan memasangkan sabuk penamannya, membuat Nia kembali mengangguk. Ia mengerti jika suaminya mengkhawatirkannya dan ia merasa senang akan hal itu.


Sesampainya di rumah, Nia langsung disambut oleh semua keluarga. Nia langsung masuk ke kamarnya begitupun bayi mereka dibaringkan di tempat yang sudah disediakan, semua keluarga hanya bisa melihat dan tak diizinkan untuk menggendongnya dulu, mengingat bayi itu sedang tertidur pulas. Nia merasa sangat senang, semua bahagia menyambut kelahiran bayinya.


Seminggu kemudian Faris menggelar acara syukuran dan aqiqahan besar-besaran. Semua kembali berkumpul termasuk Farah dan juga Tita, bukan hanya Farah dan Tita, tapi Raya juga datang menghadiri acara tersebut.


Raya yang melihat Nia yang terlihat begitu bahagia mendapatkan mantan suaminya, merasa tak terima. Raya menggenggam erat tali tas yang dipakainya. Seharusnya kebahagiaan yang Nia rasakan saat ini adalah miliknya, tapi semua telah direbut oleh Nia. Ia harus bekerja di luar kota, di sebuah desa dan sengsara hanya untuk melunasi hutang yang Faris pinjamkan padanya, sangat berbanding terbalik dengan apa yang Nia alami, ia terlihat bahagia menggendong bayi mereka.


"Nia, jika aku tak bisa memiliki Faris lagi, kau pun tak boleh bahagia. Aku tak ikhlas kebahagiaan yang seharusnya aku miliki kau nikmati, Faris itu adalah milikku!" ucap Raya. Rasa iri tiba-tiba muncul di hatinya, walau ia pernah mengatakan jika ia akan mencoba memulai hidup baru dan mencoba tak lagi menginginkan Faris lagi. Namun, setelah menjalani kehidupannya yang sekarang, ia sangat menderita membuat ia kembali menginginkan kebahagiaannya yang dulu. Raya sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan pria yang sangat mencintainya seperti Faris.


Raya pun berjalan menghampiri Nia yang sedang menggendong bayinya. Nia yang melihat Raya medekat padanya memberilan dan menyambut kedatangannya dengan senyuman hangat.


"Selamat ya, Nia, selamat atas kelahiran bayimu. Aku harap kau akan selalu bahagia karena telah merebut kebahagiaan orang lain," ucap Raya sedikit berisik saat memeluk Nia.

__ADS_1


"Maksud, Mbak Raya apa? Kebahagiaan siapa yang Nia rebut?" tanya Nia menatap Raya yang kini sudah melepas pelukannya dan tersenyum sinis padanya. Nia tak mengerti apa yang Raya maksud.


Raya tak menjawab ia hanya langsung berlalu meninggalkan Nia dengan senyum licik di wajahnya. Ia menyusun rencana agar bisa kembali mendapatkan kebahagiaan yang dulu dirasakannya. Ia kini sudah dibutakan akan rasa iri dengki di hatinya. Raya yang tak terima dengan takdir yang harus dijalaninya saat ini. Sengsara tak seperti dulu, ia bagaikan Ratu saat masih menjadi istri dari Faris.


__ADS_2