
Sesampainya mereka di negara tujuan mereka, mereka pun berpisah di mana Yuni sudah ada yang menjemputnya, yang tak lain adalah pria yang sudah membayarnya selama sehari bersamanya, dia akan bersama dengan Faris setelah menyelesaikan tugasnya bersama dengan pria yang telah membayarnya itu.
Namun, Yuni sudah membayar seseorang untuk mengikuti Faris, ia ingin tahu kemana Faris pergi. Setidaknya ia tahu di mana hotel tempat Faris menginap selama tinggal di negara itu.
Begitu mereka berpisah, mereka pun menaiki kendaraan mereka masing-masing. Faris dijemput oleh rekan bisnisnya, sedangkan Yuni sendiri dijemput oleh mobil mewah, tentu saja mobil pria yang telah membayarnya.
Faris langsung menuju ke hotel, Faris tak ingin berlama-lama di negara itu, mengingat ada istri dan anaknya yang menunggunya di rumah. Setelah sampai, Faris hanya mengganti pakaian dan langsung menuju ke tempat rapat yang telah dijadwalkannya. Faris memajukan rapat mereka agar di adakan sesuai dengan waktu yang ia miliki dan semua setuju akan hal itu, mereka rapat hingga sore hari. Mereka mempercepat karena mereka semua juga akan menghadiri acara jamuan malam nanti.
Semua berlangsung dengan lancar, Faris pun kembali ke hotel pukul 05.30. Ia langsung mandi, melaksanakan salat magrib dan langsung mengambil ponselnya melakukan panggilan video pada Nia.
"Nia, bagaimana kabarmu?" tanya Faris setelah Nia mengangkat panggilan videonya.
"Baik, Mas. Bagaimana dengan kabar Mas sendiri?" tanya Nia sambil menggendong Shanum di pangkuannya.
"Aku baik-baik saja, tapi aku sangat merindukan kalian. Bagaimana dengan bayi yang ada di dalam rahimmu? Apakah dia baik-baik saja? Dia tidak rewel kan dengan meminta hal-hal yang aneh?" tanya Faris, ia merasa jika dia seharusnya berada di samping Nia, menuruti apa yang Nia inginkan. Dia masih mengingat bagaimana saat Nia mengandung Shanum dulu, Nia selalu menginginkan hal-hal yang aneh. Nia hanya bisa makan makanan yang dibuatnya.
"Alhamdulillah, Mas. Aku nggak ngidam apa-apa, semua baik-baik saja, aku juga makan sesuai yang dihidangkan dan Shanum juga nggak rewel. Dia sangat nyaman bersama dengan ibu dan yang lainnya," ucap Nia. Mereka pun terus berbincang-bincang hingga waktu menunjukkan pukul 07.00, Faris pun mulai bersiap-siap dengan mengenakan jas lengkapnya tanpa mematikan panggilan mereka.
"Mas, mau keluar lagi?" tanya Nia yang melihat penampilan suaminya terlihat rapi.
"Iya, ada acara. Di sana kami akan bertemu dengan beberapa rekan bisnis, itu acara perjamuan sekaligus kami akan memajukan rapat yang seharusnya diadakan besok malam, aku ingin segera pulang dan menemui kalian," ucap Faris lagi membuat Nia pun tersenyum pada suaminya. Ia melihat suaminya sangat tampan dengan setelan jas lengkapnya.
"Iya, Mas. Pulanglah cepat, ya! Aku sangat merindukanmu," ucap Nia membuat Faris tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Tunggu aku, jika semua sudah selesai aku akan langsung pulang," ucap Faris.
Entah mengapa ia merasa sangat rindu pada suaminya, mungkin itu bawaan bayi. Pikir Nia.
"Sayang, sudah dulu ya. Aku akan berangkat," ucap Faris setelah ia selesai dengan penampilannya. Nia pun mengangguk.
"Hati-hati ya, ingat setelah acara selesai Mas langsung pulang dan istirahat ya," ucap Nia lagi membuat Faris pun terus ingin melihat ke istrinya.
"Aku pergi dulu ya, jaga anak-anak kita," ucapnya kemudian mematikan panggilan mereka. Faris langsung menuju ke tempat acara dimulai.
Baru saja dia sampai, dia langsung bertemu dengan Yuni. Di mana Yuni datang bersama pria yang telah membayarnya, Yuni juga tak menyangka jika dia akan bertemu dengan Faris di sana dan ternyata pria yang membayarnya adalah salah satu rekan bisnis Faris, dengan itu semakin memudahkan mereka untuk menjadi lebih dekat.
Sepanjang pesta digelar, Yuni terus bersama dengan Faris dan juga rekan bisnis yang lainnya. Faris sesekali menanggapi ucapan Yuni yang sekedar menyapanya, Yuni kembali melakukan triknya dengan menjadi wanita yang elegan dan itu berhasil. Faris terlihat nyaman berkomunikasi dengannya, begitu juga dengan pasangan yang digandengi.
"Bagaimana? Apa kamu sudah berhasil?" satu pesan masuk dari Raya.
"Tentu saja, tunggu saja videonya besok malam, kau akan melihat tontonan yang paling ... yang pernah kau lihat," ucap Yuni yang memang sudah sangat berpengalaman dengan hal yang mereka rencanakan.
Yuni kemudian melaksanakan tugasnya, melayani pria bayarannya dan mendapat bayaran yang mahal untuk malam ini.
Sementara Faris yang baru sampai di hotelnya langsung menelepon Nia. Mereka terus berbincang saat Faris sudah berbaring di tempat tidur.
"Mas, kamu istirahatlah. Kamu pasti lelah kan, besok kita sambung lagi," ucap Nia membuat Faris pun mengangguk. Karena memang dia sangat lelah, dia tak pernah beristirahat semenjak sampai di negara itu, besok dia harus memiliki banyak jadwal rapat lainnya.
__ADS_1
Pagi hari Faris kembali terbangun dan langsung terburu-buru memakai setelan jas lengkapnya, ia tak sempat untuk melakukan video panggilan pada Nia. Ia hanya mengirim pesan jika ia sudah terlambat dan akan segera pergi untuk bekerja.
Nia membalas pesan tersebut dengan emoticon love dan menyertakan kalimat aku selalu menunggumu, aku sangat merindukanmu, berhati-hatilah di jalan. Jangan lupa untuk menjaga kesehatan. Pesannya yang hanya dibalas emoticon love balik oleh.
Seharian ini Faris bekerja tanpa henti, ia sengaja melakukan semua itu untuk mempersingkat waktunya di negara itu.
Kata-kata Nia yang mengatakan jika Nia sangat merindukannya membuat ia ingin segera pulang hari ini. Faris menghadiri beberapa rapat penting, bahkan ia sampai melupakan makan siangnya. Beruntung saat sudah melewati jam makan siang, dia mendapat pesan dari Nia untuk memintanya makan, Faris pun menuruti apa yang dikatakan sang istri. Ia makan kemudian melanjutkan rapatnya.
"Akhirnya semua selesai juga," ucap Faris meregangkan otot-ototnya saat jam menunjukkan pukul 07.00 malam. Semua pekerjaannya sudah selesai, ia pun mengirim pesan kepada Nia saat di jalan, jika dia akan menghubunginya nanti saat sudah sampai di hotel dan mengatakan kepada Nia jika besok pagi dia akan mengambil penerbangan untuk pulang.
Mendapat pesan itu, Nia sangat senang. Mungkin karena bawaan bayi yang dikandungnya membuat ia sangat merindukan dekapan sang suami.
"Berhenti, Pak," ucap Faris meminta supir untuk menghentikan mobil yang mengantarnya.
'Bukankah itu Yuni?' batin Faris melihat seorang wanita yang berdiri di tepi pinggir jalan sambil menduduki koper yang di bawanya, ia terlihat bersedih? Faris pun menghampirinya.
"Yuni?" tanya Faris menghampiri Yuni. Yuni pun langsung lihat ke arah Faris dengan mata yang berkaca-kaca, ia mengusap air matanya yang dipaksa untuk keluar dari pelupuk matanya.
"Pak Faris?" tanya Yuni berdiri dan menunduk sambil memegang kopernya.
"Yuni, apa yang kamu lakukan di sini?"
tanya Faris.
__ADS_1