Dudaku Ternyata Miliarder Tampan

Dudaku Ternyata Miliarder Tampan
Hati Bersih, Mas Miliarder


__ADS_3

Tiga bulan kini telah berlalu, Diva yang menyadari kesalahannya kemudian berterus terang pada ayahnya tentang apa yang terjadi dengan perusahaan mereka.


Ayah Diva sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh putrinya, ia juga tak menyalahkan Faris karena dalam hal ini putrinya memang salah.


"Ayah, maafkan aku. Aku hanya mengikuti perintah dari tante Raya," ucap Diva.


"Kamu itu bisa berpikir nggak Diva? Tante Raya itu adalah mantan istri dari Faris dan kamu tahu dia diceraikan karena sikapnya yang buruk, itulah sebabnya Ibu tak mau lagi dekat dengannya, tapi apa yang kau lakukan! Kau malah menerima tawaran konyolnya," ucap ibu Diva yang tak lain adalah sahabat dari Raya.


Dulu mereka memang sahabat. Namun, ibu Diva tak lagi pernah menggubris atau berteman dengan Raya karena sikap Raya yang semakin tak sesuai dengannya. Ibu Diva sangat kecewa pada putrinya dengan tak bisa berpikir lebih dulu sebelum menerima bujukan dari Raya. Jika dia meminta pendapatnya terlebih dahulu mungkin semua ini tak akan terjadi.


Diva tak berkata apa-apa, ia hanya terus berlutut di kaki ayah dan ibunya, meminta maaf atas kesalahannya.


"Bagaimana ini, Ayah?" tanya ibu Diva pada suaminya.


"Mau bagaimana lagi, Ayah akan meminta maaf pada Faris dan kamu Diva, kamu juga ikut Ayah kita ke kantor Faris sekarang juga dan kita minta maaf, semoga saja Faris berjiwa besar dan mau memaafkan kita," ucap ayah Diva kemudian mereka pun pergi ke kantor Faris pagi itu juga.


Sesuai dengan tujuan mereka untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang Diva lakukan.


Sesampainya di kantor Faris, mereka langsung ingin menemui Faris. Namun, satpam tak diizinkan mereka masuk, lebih tepatnya tak mengizinkan Diva masuk. Satpam masih mengingat perintah terakhir dari atasan mereka, jika tak boleh mengizinkan Diva masuk ke perusahaan itu lagi.

__ADS_1


"Diva, kesalahan apa yang sebenarnya kau lakukan? Kamu bahkan tak diperbolehkan masuk di perusahaan ini," ucap ayah Diva dan ia begitu frustasi saat baru mengetahui kelakuan putrinya.


Mendapatkan pengusiran dari satpam mereka tak langsung pulang, ayah Diva yang mengetahui jika Faris belum datang membuat mereka memutuskan untuk menunggu Faris datang.


Setelah menunggu selama 20 menit akhirnya, Faris pun datang! Ayah Diva langsung menghampiri Faris begitu Faris turun dari mobil, ia bahkan langsung berlutut di hadapan Faris, merendahkan harga dirinya demi mendapatkan maaf dari Faris.


"Jangan berlutut seperti itu, Pak. Jangan merendahkan dirimu. Aku tak suka akan hal itu, kita bicara di dalam," ucap Faris membuat ayah Diva pun langsung berdiri dari berlututnya, begitupun ibu dan Diva yang berada di belakangnya.


Mereka kemudian mengikuti Faris masuk ke ruangannya, melewati para karyawan yang nenunduk hormat pada Faris, kekuasaan membuat mereka bergetar saat berjalan di belakang Faris, hingga masuk di ruangan CEO perusahaan nomar satu itu. Mereka hanya berdiri membiat Faris pun dipersilahkan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Ada apa?" tanya Faris saat duduk di salah satu sofa di hadapan mereka.


"Saya minta maaf, Pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi, tolong maafkan saya," ucap Diva yang juga meminta maaf dengan tulus.


Faris menghela nafas menatap ketiganya, sebenarnya ia berencana akan mengembalikan semua dalam waktu 5 bulan, berharap Diva bisa menyadari kesalahannya. Namun, sepertinya tiga bulan saja sudah cukup.


Faris memberi isyarat pada asisten pribadinya, membuat asisten pribadinya tersebut langsung mengerti apa yang diinginkan bosnya dan tanpa mengatakannya. Ia menyerahkan beberapa surat mengenai perusahaan tersebut, Faris menyerahkannya kepada ayah Diva, membuat ayah Diva sangat terkejut.


"Apa ini, Pak?" tanya ayah Diva sambil membuka berkas-berkas tersebut. Alangkah terkejutnya ia saat semua berkas-berkas itu mengenai perusahaannya.

__ADS_1


"Kamu boleh mengambil kembali perusahaan milikmu, ini adalah peringatan pertama, jika sekali lagi ada kejadian yang serupa aku takkan memaafkan walau kalian berlutut sekalipun di hadapanku," tegas Faris.


"Iya, Pak. Tentu saja, jika anak saya kembali berulah, nyawa saya taruhannya," ucap ayah Diva begitu senang saat semua perusahaannya kembali kepadanya, semua berada di titik semula.


"Aku sedang sibuk, pergilah dari sini," ucap Faris berdiri dari duduknya, begitupun dengan ayah Diva serta Diva sendiri. Mereka langsung keluar sesuai dengan perintah Faris.


Berita itu langsung sampai ke telinga Raya. Raya sangat terkejut dengan apa yang terjadi, apakah itu tandanya Diva sudah mendapatkan maaf dari Faris, begitu juga dengan Yuni.


"Apa sebaiknya kita juga minta maaf langsung pada Faris?" tanya Yuni membuat Raya menggeleng.


"Jika kamu ingin minta maaf, minta maaflah sendiri. Aku tak akan menemui Faris, aku tak ingin Farah dan Tita juga ikut kena imbas akan kesalahanku, aku akan tetap menjalankan usaha ini walau tak sesuai dengan harapan kita. Namun, semoga saja Faris mau memaafkanku, melihat aku yang benar-benar sudah berubah," ucap Raya.


Saat ini, mereka membuka sebuah toko pakaian. Mereka menyalurkannya baik secara langsung maupun online, walau hasilnya tak sesuai dengan harapan mereka. Mereka terus menjalankan usaha mereka itu, bisa makan saja sudah syukur.


"Kamu benar, tapi kita ambil saja sisi baiknya. Aku rasa pekerjaan ini jauh lebih baik dari pekerjaanku sebelumnya, walau tak seberapa nilainya. Namun, aku tak merasa rendah dengan menjual tubuhku," ucap Yuni menghela nafas.


Raya hanya mengangguk, membenarkan ucapan Yuni, ia juga merasa lebih damai dengan kehidupan yang sekarang, walau tak ada lagi barang-barang mewah yang melekat pada tubuh mereka dan harus bekerja dengan cukup keras. Namun, mereka merasa damai dengan kehidupan mereka saat ini.


"Apa kau tak merindukan anak-anakmu?" tanya Yuni yang tahu jika sudah beberapa bulan ini Raya tak saling berhubungan dengan anaknya, lebih tepatnya ia tak pernah mengangkat panggilan anaknya dan menjaga jarak. Raya malu akan kondisinya, Raya juga sudah menceritakan apa yang menyebabkannya menjadi seperti saat ini, awalnya kedua anaknya itu sangat marah dan mereka lebih dulu telah menghubungi Raya selama sebulan lebih. Namun, entah mengapa kedua anaknya itu mulai menyapanya di bulan berikutnya, bahkan meminta maaf karena telah mengabaikannya. Namun, kali ini Raya lah yang menjaga jarak dari putri-putrinya, ia merasa malu dengan apa yang telah diperbuatnya dan berharap tak ada yang mencontoh dirinya, sepertinya anak-anaknya jauh lebih akan bahagia dan lebih terarah jika bersama dengan Faris dan Nia, terlebih lagi, saat ini Tita sudah tinggal bersama dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2