Dudaku Ternyata Miliarder Tampan

Dudaku Ternyata Miliarder Tampan
Keputusan Farah dan Tita


__ADS_3

Nia yang baru tahu semua yang terjadi masih merasa kesal, ia bahkan menangis hingga sesegukan membuat Faris tak tega melihat hal itu. Ia meminta maaf dan terus meminta maaf.


"Kenapa kamu harus minta maaf, Mas. Aku menangis bukan karena kamu salah, tapi aku bahagia mendapat suami sepertimu," ucap Nia membuat Faris menjadi lega.


"Tentu saja, Sayang, aku akan menjaga cinta kita, kebahagiaan rumah tangga kita. Aku tak akan membiarkan siapapun mengganggu keutuhan rumah tangga kita, termasuk mereka. Aku sudah memberikan pelajaran kepada mereka dan semoga saja mereka tak mengulangi hal itu lagi dan semoga saja ke depannya tak akan ada yang berani mengganggu keluarga kita," ucap Faris membuat Nia pun mengangguk.


"Tapi, Mas. Aku mohon jangan lagi berurusan dengan mereka, walau itu hanya memberi mereka pelajaran, sudah cukup jika memang Mas ada di balik semua kesengsaraan mereka, sudah cukup, Mas! Aku tak mau kita mendapat hal-hal buruk karena itu semua, aku ingin hidup bersama denganmu dan juga anak-anak kita," ucap Nia membuat Faris pun mengangguk.


Faris mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada seseorang untuk membiarkan usaha yang sedang Raya dan Yuni geluti berkembang sebagaimana mestinya, tanpa ikut campur ia dan juga orang-orang yang selama ini selalu berusaha menggagalkan usaha mereka berdua, baik itu dengan usaha toko yang dibukanya maupun usahanya mencari pekerjaan di tempat-tempat lainnya.


Seminggu setelah kelahiran putra kebanggaan dari Nia dan Faris, mereka juga menggelar acara aqiqahan yang tak kalah megahnya dari acara aqiqahan Shanum dahulu dan memberi nama putra mereka dengan nama Noah Attarfa.


Sejak ia lahir, ia sudah diberikan sebuah perusahaan oleh Faris, walau belum dikelolanya. Namun, perusahaan itu sudah menjadi hak miliknya dan akan dikembangkan oleh orang-orang yang nantinya juga akan membantu putranya itu dalam menjalankan bisnisnya. Faris sengaja memilih orang-orang kepercayaannya yang usianya masih muda, orang-orang yang baru lulus dari universitas. Namun, tetap saja ia menyeleksi mereka untuk menjadi orang-orang kepercayaan nantinya.


Faris, tetap mengawasi jalannya perusahaan itu, nantinya sampai anaknya sudah berusia 17 tahun.


***


Hari-hari terus berlalu dengan begitu cepat, hingga kini tanpa terasa usia Noah sudah menginjak 2 tahun, Farah dan yang lainnya sudah selesai dengan kuliah mereka di luar negeri. Hari ini mereka semua akan pergi ke luar negeri untuk menghadiri acara wisuda mereka semua.


Farah menelpon ibunya, walau bagaimanapun sikap ibunya selama ini yang selalu membuatnya malu pada ayahnya. Namun, Raya tetaplah ibunya.


"Bu, apa Ibu tak akan datang?" tanya Farah pada ibunya.


"Farah, kamu sudah sangat besar dan sangat mengerti posisi Ibu saat ini, Ibu sangat ingin datang dan memberikan selamat padamu, tapi Ibu tak punya keberanian. Ibu malu pada ayahmu, Nak. Tolong mengerti Ibu, Ibu juga tak ingin karena kehadiran Ibu itu malah merusak semua kebahagiaan yang akan ayahmu berikan," ucap Raya dari balik telepon.


Farah yang sudah tahu semua dari Tita hanya bisa ikut menangis, ia mengerti situasi ibunya saat ini. Dia juga tak akan memaksa ibunya untuk datang, selain karena masalah dengan ayahnya, Farah tahu kondisi keuangan ibunya saat ini.


Walau Faris sudah memaafkan dan tak pernah menghalangi lagi jalannya usaha mereka. Namun, tetap saja setelah 2 tahun, usaha mereka masih tetap sama, mereka masih kesulitan walau bahkan sudah menjual semua harta milik mereka untuk terus mengembangkan toko mereka itu, termasuk menjual mobil.

__ADS_1


Sekarang hanya rumah tempat yang mereka tinggali yang belum mereka jual, bahkan mereka sudah berencana untuk menjual itu dan tinggal di toko. Namun, mereka masih mencoba bertahan untuk menjalankan toko mereka lebih gencar lagi, mempromosikan di sosial media, memberikan diskon-diskon dan belajar ilmu bisnis agar mereka bisa lebih paham dan mengelola usaha mereka.


Acara wisuda pun digelar, semua merasa bahagia. Mereka mendapatkan nilai-nilai yang terbaik, termasuk Farah dan semua berencana akan langsung bekerja di perusahaan Faris. Faris sudah memberikan posisi-posisi yang sesuai dengan jurusan yang mereka ambil, karena memang sebelum kuliah mereka semua berkonsultasi pada Faris, jurusan apa yang harus mereka ambil.


Mereka semua ditempatkan di perusahaan Noah dan akan membantu Noah untuk membesarkan perusahaan itu dan menjadi orang-orang kepercayaan Noah sampai Noah besar nanti.


Di saat semua tengah bersenang-senang berfoto riya bersama dengan keluarga mereka, Farah terlihat bersedih walau ia sudah berfoto bersama Faris , Nia, Tita dan juga kedua anak ayahnya, Shanum dan Noah. Tetap saja ia merasa kurang saat tak bersama dengan ibunya.


"Tita, apa ibu benar-benar tak datang hari ini?" tanya Farah yang masih berharap ibunya bisa datang untuk memberikan selamat secara langsung padanya.


"Maaf, Kak. Kata ibu ia tak bisa datang," ucap Tita kemudian Tita mengeluarkan sebuah kado dari tasnya, memberikan kepada kakaknya.


"Ini Kak, kado ini dari Ibu sebagai permintaan maaf, Ibu karena Ibu tak bisa datang," ucapnya.


Farah pun mengambil kotak kado tersebut dan membukanya, setetes air mata jatuh di sudut matanya. Itu hanyalah sebuah kalung emas berukuran kecil yang sederhana, di dalam kotak itu juga terdapat sebuah surat ucapan selamat dari ibunya dan meminta maaf karena hanya bisa memberikan kado itu untuknya, di mana kado itu hanya mungkin seharga uang jajan dari Farah selama sebulan.


Setelah acara wisudahnya sudah selesai, mereka pun menikmati kebersaan mereka sebelum pulang, 2 hari di negara itu, setelah semua urusannya selesai, mereka pun pulang.


****


Malam hari, Farah menemui ayahnya di ruang kerjanya, begitupun dengan Tita. Keduanya masuk dan duduk di depan ayahnya.


"Ada apa?" tanya Faris setelah kedua bersaudara itu duduk di depannya yang terhalang meja besar, di mana Faris selama ini bekerja di sana saat berada di rumah. Ruangan itu merupakan ruangan kebanggaan dari seorang Faris dan tak sembarang orang bisa masuk ke sana tanpa izinnya.


"Ayah, Farah mau terima kasih kepada Ayah atas semua yang Ayah lakukan pada Farah," ucap Farah memulai dan Tita pun mengatakan hal yang sama. Tita juga sudah lulus sekolah dan akan melanjutkan kuliahnya di negara mereka saja.


"Iya sama-sama, Nak. Tapi jangan pernah berterima kasih lagi hanya karena itu kepada Ayah. Kamu masih menganggap Ayah ini sebagai Ayah kalian kan?" tanya Faris dan membuat keduanya pun mengangguk..


Keduanya kembali terdiam. mereka ragu untuk mengatakan apa maksud kedatangan mereka ke sana. Namun, Faris bisa membaca ekspresi dari anak-anaknya itu. Ia mengerti jika mereka juga menyayangi ibu mereka

__ADS_1


"Apa kalian ingin tinggal bersama dengan ibu kalian?" tanya Faris membuat keduanya yang tadinya menunduk langsung melihat ke arah Faris dan mengangguk samar.


"Jika Ayah tak keberatan," ucap Farah membuat Faris tersenyum dan mengangguk.


"Tentu saja, Farah. Ayah tak akan keberatan. Dia adalah ibu kandungmu. Ayah mengerti perasaan kalian, Ayah juga memiliki ibu kandung, Ayah juga seorang anak, pasti kalian juga ingin membahagiakan ibu kalian 'kan?" tanya Faris membuat keduanya kembali mengangguk.


"Ya sudah," ucap Faris mengeluarkan sebuah map dan memberikan kepada keduanya.


Itu adalah berkas-berkas rumah, mobil dan usaha yang telah Faris siapkan untuk mereka.


"Kalian bisa menempati dan memiliki semua itu, jika memang kalian sudah ingin mandiri dan lepas dari Ayah. Hanya itu yang Ayah bisa berikan," ucap Faris membuat keduanya sangat terkejut. Selama ini Faris sudah memberikan banyak pada mereka, akankah mereka kembali mendapatkan hadiah dari pria yang sudah mereka anggap ayah kandung itu. Keduanya pun langsung membuka isi map tersebut dan terlihat surat-surat rumah, mobil dan juga buku tabungan di sana, begitupun dengan milik Tita. Ia juga memiliki rumah, mobil dan juga uang tabungan. Bukan hanya itu, ayahnya juga sudah menyiapkan usaha untuk mereka dan bisa mereka kembangkan ke depannya.


Keduanya langsung berlari memeluk Faris. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih banyak," ucap keduanya membuat Faris hanya mengangguk dan membalas pelukan kedua putrinya itu.


"Gunakan apa yang Ayah berikan secara baik-baik, kalian tahu kan apa yang terjadi pada ibu kalian, Ayah tidak menyalahkan ibu kalian atas semua itu dan meminta kalian untuk membenci ibu kalian, tapi ambil pelajaran dari sana. Kalian mengertikan maksud Ayah tanpa Ayah jelaskan secara detail?" ucap Faris menatap keduanya secara bergantian, membuat Farah dan juga Tita sangat tahu pasti apa yang terjadi pada ibu mereka dan maksud dari Ayahnya.


Mereka pun mengangguk dan berjanji akan menggunakan apa yang ayahnya berikan itu dengan baik, rumah, mobil, usaha dan tabungan itu sudah cukup untuk mereka ke depannya.


"Ayah, doakan kami ya, agar bisa bahagia seperti Ayah dan mama Nia, memiliki keluarga yang bahagia," ucap Farah membuat Faris pun mengaminkan keinginan putrinya.


Setelahnya, mereka berdua pun pamit pada ayah yang sangat mereka kagumi itu. Mereka kembali masing-masing ke kamar mereka, rasa bahagia masih terasa di hati keduanya. Mereka tak menyangka akan mendapatkan hadiah itu dari ayah mereka, tadinya mereka sempat ragu untuk meminta izin pulang kembali ke ibu mereka.


Mereka takut dengan masa depan mereka yang mungkin tak akan seindah ini jika mereka tinggal bersama dengan ayah. Namun, walau bagaimanapun Faris bukanlah ayah kandung mereka. Mereka juga tahu diri dan tak ingin membuat Faris terbebani dengan mereka, terlebih lagi mereka juga kasihan membiarkan ibu mereka seorang diri, bekerja keras dan hidup sengsara, sedangkan mereka hidup enak bersama dengan Faris.


Keesokan harinya kedua bersaudara itu pun pamit kepada seluruh keluarga besar Faris dan mereka semua mengerti akan apa yang keduanya inginkan.


"Farah, Tita. Ayo sini duduk dekat Kakek," ucap kakek memanggil keduanya, membuat Tita dan Farah pun duduk di kedua sisi kakeknya.


"Dengar, sampai kapanpun kalian adalah cucu-cucu Kakek, walau kalian sudah memilih untuk keluar dari rumah ini dan kembali ke ibu kalian, kalian tetaplah bagian dari kami. Jadi jika kalian butuh bantuan jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada kami, dan jangan pernah ragu untuk datang jika memang kalian ingin kembali. Satu hal lagi, jangan lupakan silaturahmi, kalian tetaplah sering-sering datang ke sini mengunjungi kami, terutama Kakek. Kalian tetaplah cucu Kakek," ucap kakek membuat Farah dan Tita pun mengangguk dan memeluk kakeknya. Sang kakek juga membalas pelukan keduanya, rasa kasih sayang kakek kepada keduanya sama seperti kasih sayang kepada cucu-cucu yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2