Efemeral

Efemeral
Prolog


__ADS_3

“Berbohong. Bukan sebuah tindak kejahatan.” —— Efemeral


...✏✏✏...


"NAD ... kamu mau pesen yang mana?"


Bukannya menjawab pertanyaan Arjuna, Disha malah sibuk meneguk kasar ludahnya kala mendapati sekelompok laki-laki mengikis jarak ke arahnya.


"Nadisha? Ditanyain kok diem aja sih?" heran Arjuna. Alhasil cowok itu memutuskan menepuk pelan bahu Disha.


Menoleh, Disha memasang senyum kikuk. "Eh, apa, Jun?"


Arjuna tersenyum geli. Cowok itu mengusap pipi kanan Disha lembut, "Mau pesen apa? Tuh lagi ditunggu sama Mamangnya."


Dengan pipi bersemu, Disha menyeru. "Samain kayak lo."


Arjuna mengangguk, kemudian mengucap apa yang ia inginkan.


Beberapa detik setelahnya, mereka sama-sama tersentak kaget kala meja kayu tempat mereka makan digebrak oleh cowok berpostur tegap.


"Oho, lagi bersenang-senang, Tuan Puteri?" sapanya. Lengkap dengan senyum manis penuh maksud. Mengerikan.


"Siapa lo?" Arjuna melayangkan tanya dengan kilatan mata tajam.


Cowok itu, Galang, tak terkejut sama sekali saat Arjuna, teman sekaligus ketua dari gerombolan lelaki yang tengah berbisik di belakang punggungnya itu, melupakan siapa si lawan bicara. Galang tersenyum miring. "Oi, Jun! Masa lupa sama gue sih?"


Kening Arjuna terlipat bingung. Di sisinya Disha meremas jemari yang mendingin. "Gak usah sok kenal!" cibir Arjuna.


Galang tersenyum, menepuk-nepuk bahu Arjuna sedikit keras. "Hidup itu keras, Jun. Sekali aja lo lengah ..." ekor matanya melirik Disha. "Banyak banget orang di luaran sana bakal manfaatin lo."


"Kenapa?" usai menepis pegangan Galang, Arjuna menolehkan kepala mendapati salah satu jarinya ditarik dan digenggam cukup kencang oleh Disha.


Menggeleng. Disha menatap mereka dengan ekspresi takut bercampur cemas. "Mau pulang."


"Tapi, buburnya belum dimakan."


Disha menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. "Gak mau, takut ..."


Tidak tega, Arjuna mengusap punggung tangan Disha seraya mengajak gadis itu bangkit. "Yaudah, ayo."


"Mang! Ini dikasih buat orang yang gak mampu aja yaa. Maaf gak jadi saya makan, tapi tetep saya bayar kok. Ini uangnya,"


Mereka, Galang dan teman-temannya kompak melongo. Tak percaya melihat Arjuna yang notabenenya tak suka berbagi itu berujar enteng sembari menaruh lembaran biru ke atas meja.


"Makasih, Mas! Semoga dimudahkan rejekinya."


Arjuna hanya mengangguk, menatap datar gerombolan lelaki yang memblokade jalannya. "Minggir."


"Wah, Bos. Lo beneran gak inget sama kami?"


Mengernyit, Arjuna berdecak. "Gue bilang gak usah sok kenal."


Salah satu cowok dengan muka kalem itu maju. Milo. Menepuk bahu Arjuna singkat, "Cepetan sadar. Lona butuh lo."

__ADS_1


"Iya, Bos! Pacar lo nangis-nangis nyariin lo!"


"Abis dilecehin dia, Bos! Harusnya lo sama dia!"


"Kasian, Bos. Dia kelimpungan nyari lo kemana-mana."


Disha meremat kuat-kuat jari-jari besar Arjuna yang bertautan dengan jemarinya. Rasa panik memburu dadanya cepat. Gelisah. Seharusnya ia tak membawa Arjuna ke tempat ini.


"Omong kosong!" sahut Arjuna. Merasakan betul ketakutan gadis di sampingnya.


"Ayo pulang, Jun!" ujar Disha dengan nada sedikit merengek.


"Iya iya, ayo." dengan sengaja Arjuna menabrak bahu mereka yang menghalangi jalan. Alhasil, mereka pun turut terpaksa menyisihkan jalan untuk si ketua yang hilang ingatan tersebut.


"Nad ... kamu kenal mereka?"


Disha menoleh dengan pupil mata melebar. Gadis itu menatap Arjuna yang baru saja memakai helm dengan raut gugup. "Em ..."


Cukup tersentak kala Arjuna memakaikan helm di kepala, ia malah merasa kegelisahan makin menumpuk dalam dada. "Kenapa kamu kayak takut gitu? Apa mereka emang kenal sama aku?"


Menggeleng cepat, Disha bergegas naik ke atas motor. Enggan menjawab. Gadis itu memilih melabuhkan pipinya ke punggung Arjuna yang kokoh. Di sana ia berbisik lirih.


"Mereka cuman orang gila, Jun. Yang gak mau kita barengan."


"Maksud kamu?"


Disha menegang kala Arjuna menyentuh punggung tangan kiri Disha pelan. Tersentak. Disha merasa hatinya terhentak-hentak. Berdebar tak karuan. Padahal Disha tidak mungkin semudah ini untuk terbawa perasaan.


"Nadisha?"


"Maksud omongan kamu itu apa?" Arjuna bertanya kembali. Dengan nada lebih keras dari sebelumnya. Takut-takut kalau Disha tak mendengar suara miliknya.


"Y-ya gitu, lo gak tau aja kan? Pikiran orang-orang jaman sekarang itu gimana?" Disha menyahut gugup. Berulang kali berdoa dalam hati. Semoga dosanya tidak bertambah menumpuk sebab dia seperti tengah mengakui sendiri. "Mereka mungkin aja punya niat buruk misahin kita."


"Tenang, Disha. Yang aku mau cuman kamu. Bukan yang lain. Terserah apa kata orang, kalo aku nyamannya sama kamu gimana?"


Disha terpekur lama. Nyaris melamun dengan tatapan kosong yang membuat Arjuna bertanya-tanya dalam benaknya. Mengapa gadis itu terlihat banyak pikiran? Apa ada yang salah dengan kalimat yang tadi dirinya ucapkan?


"Jangan ngelamun, Disha." tegur Arjuna.


Disha diam tak menjawab.


Dan hal itu berhasil membuat Arjuna penasaran bukan main. Di saat mereka melewati jalanan sejuk yang lumayan sepi. Arjuna menepikan motornya. Melepas helm. Lalu turun dari motor pelan.


"Nadisha?"


Disha tersentak kala jemari besar milik Arjuna mengelus lembut pipinya. Gadis itu langsung menatap sekeliling linglung.


"Loh? Kenapa berhenti di sini?"


Arjuna diam. Tak menjawab. Memilih menatap Disha lekat dan dalam.


"Jun! Kenapa liatin gue mulu sih?! Lo kebelet pipis?! Tahan aja kenapa sih!" Disha berujar dengan raut cemberut.

__ADS_1


Arjuna belum bersuara, dengan raut gemas ia cubit kedua pipi Disha lembut.


"Ish! Kenapa malah jadi cubit pipi lo?!"


"Bisa gak usah lucu, hm?"


"Ap-hah? Ngomong apa sih lo?!" dengan pipi bersemu merah, Disha menyahut dengan nada kesal.


"Kamu lucu." Arjuna menegaskan kalimatnya.


"Arjunaaa, ih gak usah ngomong kek gitu lo! Dasar buaya!" Disha mencubit keras pinggang Arjuna hingga si pemilik merintih kesakitan.


"Argh! Sakit, Disha!"


"Rasain suruh siapa ledekin gue?!" Disha menatap sinis Arjuna.


"Siapa yang ngeledek? Orang aku ngomong fakta." balas Arjuna, enteng.


"Terserah! Udahlah gue capek! Ayo pulang!"


"Bentar, kamu kenapa dulu? Ngelamun terus pas aku tanya? Kepikiran apa sih?"


"Gak kenapa-kenapa. Kepikiran apa sih emang?!" sewot Disha sembari mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Jangan bohong. Aku tahu kamu lagi banyak pikiran sekarang. Buktinya pas tadi aku tanya kamu diem mulu?"


"E-enggak! Gue gak kepikiran apapun!"


"Nadisha. Lihat sini." Arjuna menarik pelan wajah Disha agar beralih menatapnya. "Gak usah dipikirin apa kata cowok-cowok tadi, mereka itu gak penting sama sekali buat kita."


"Lagian, aku udah percaya banget ke kamu. Gak mungkin aku berpaling semudah itu dari mantan playgirl kayak kamu." Arjuna mengakhiri kalimatnya dengan kerlingan menggoda.


"Wah! Rese banget ya lo, Juun! Ogah gue sama lo, ah!"


"Aku ngomong fakta loh, Nad. Semisal sekali aja kamu bohongin aku nih, aku gak segan-segan gabung sama cowok tadi trus sakitin kamu sampe mati."


Disha mendelik tajam karenanya. "Lo waras gak sih, Jun?!"


"Aku bercanda kali."


"Bercandaan lo gak lucu, anjir. Udah ayo jalan!"


Syukurlah Arjuna menurut dan memilih kembali melanjutkan perjalanan, kalau tidak Disha bisa mati betulan karena kalimat asal yang cowok itu keluarkan.


...————————...


To be continued.


Assalamu'alaikum.


Aku harap kalian suka dengan first story fiksi aku ini.


Selamat bergabung. Berpatisipasi. Dan beropini.

__ADS_1


See you on next chapter {}


__ADS_2