
"Gangga, i love you!"
"Hm."
"Gangga, i love you!"
"Hm."
"Ganggaaaaaa, i love you!"
"Hm."
"Ih, Ganggaaaaaa, i love youuuuuuuuuuu!"
"I love me too, Disha." pada pertanyaan ke sekian, Gangga pilih balasan yang berbeda. Sebab telinganya pengang mendengar suara Disha yang cempreng. Gangga juga ogah terus-terusan ditatap aneh oleh para penghuni rumah sakit yang tengah berada di koridor.
Wajah Disha langsung tertekuk, tidak cukup puas akan jawaban yang barusan didapat. "Kok gitu sih balesnya? Gak asik banget,"
"Lo mau gue jawab apa? Toh, lo cuman bercanda doang, kan?
Mendengar lagi jawaban Gangga, Disha tak mampu menahan tawa. Gadis itu tertawa terpingkal-pingkal. Memegangi perutnya. Semakin menambah tatapan aneh para penghuni rumah sakit pada mereka.
"Jangan ketawa kek gitu bego!"
"Dih, biarin lah, suka-suka gue, hahahaha." Disha malah makin tertawa kencang walau Gangga sudah menegurnya dengan delikan yang tajam.
"Berhenti atau gue banting kursi rodanya?" ancam Gangga.
Disha memelankan tawa. Gadis itu melirik Gangga sengit dengan tawa yang masih tersisa, "Dasar baperan."
"Biar, yang penting selamat dari lo."
Mendelik, Disha menolehkan kepala ke belakang. "Maksudnya apa lo?"
"Tuh, bego kan? Otaknya dipake makanya. Jadi, gak berkarat."
"Gangga, ih! Gue tuh mau nanya serius ke lo nih."
"Gak usah serius-seriusan. 81 bagi 3 aja lo mikir lama,"
Disha terdiam. Mulai menghitung soal yang Gangga berikan dalam kalimat spontannya. Cukup lama, hampir saja ia mendapat jawaban, Gangga lebih dulu menyentil telinga gadis itu. Disha pun tersentak sadar dan berdecak sebal.
"Tuh, udah keliatan jelas buktinya."
"Ya sabar dong, Ngga! Gue lagi ngitung juga! Dikira kembaran kalkulator apa!" Disha membela diri.
__ADS_1
"Iyain. Lo mau ngomong apa?"
Disha yang semula memberengut kesal itu memilin jemari di atas paha. Sembari menimang-nimang apa yang akan ia ucapkan.
"Mau gue berhentiin kursi rodanya dulu?" tawar Gangga. Mengira apa yang akan diucapkan Disha ini pastilah cukup penting.
Disha menggeleng, gadis itu berdeham sebelum kemudian menatap lurus ke lantai rumah sakit. "Gue.. gue mau bilang makasih. Makasih udah mau ngehibur gue di saat gue kangen sama ayah. Makasih udah mau mainin gitar dan nyanyiin gue. Gue gak tau harus bilang makasih kek gimana lagi, lo.. hiks. Hiks."
"Malahan nangis," Gangga berujar dengan nada tenang. Walau dalam dada, cemas sedikit melanda. Cowok itu memilih menghentikan kursi roda. Meminggirkannya agar tidak menghalangi jalan lalu beranjak melangkah ke depan Disha.
"Gu-gue.."
"Mau nangis lagi?" Gangga berjongkok tepat di depan Disha. Cowok itu menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi area wajah manis sahabatnya. Ya, walau banyak bintik ruam yang menghias wajah Disha sebab alerginya, Gangga tetap mengakui kalau Disha masihlah manis rupanya.
Disha menggeleng, gadis itu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. "Gue pasti jelek banget kan, Ngga?"
Hening. Tidak ada jawaban.
"Bibir gue pasti pucet. Mata gue sembab. Rambut gue lepek, udah jelas muka gue kusam banget kan sekarang?" Disha mendeskripsikan dirinya sendiri, sebab tadi gadis itu menilik mukanya di cermin sebuah ruangan.
"Lo tanya pendapat gue?" Gangga kembali melempar tanya.
Disha mengangguk-anggukkan kepala.
Mengembuskan napas. Gangga lalu membawa telapak tangan Disha menjauh dari mukanya. "Gue gak suka kalo ada orang ngomong tapi gak liat gue."
Disha buru-buru menampik pikiran itu dari pori-pori kepalanya.
"Semua ciri-ciri yang lo sebut tadi emang bener, gak ada satupun yang salah atau melenceng."
Menyesal sudah Disha menyebut bahwa wajah Gangga manis tadi. Kalau tahu, dia akan dihina begini, mana mau Disha meminta pendapat seorang Gangga. Disha mendengus keras. Terlampau kesal dan ingin mendorong kursi rodanya sendiri namun Gangga lebih dulu menahannya.
"Tapi bagi gue, lo masih tetep kek biasanya. Disha manis yang gue kenal."
Entah belajar dari mana cowok itu. Yang jelas Disha bisa merasakan wajahnya memanas. Mungkin saja sudah bertambah jelei sebab makin memerah hanya karena mendengar jawaban dari sahabatnya itu.
Gangga sendiri, usai sadar dengan apa yang diucapkan langsung bangkit berdiri. Menggaruk tengkuk lehernya sebelum kemudian menyentak Disha lewat sebuah pertanyaan.
"Lo laper gak? Gue beli burger tadi,"
Disha menganggukan kepala sembari menatap arah lain. Membiarkan Gangga kembali mendorong kursi rodanya menuju kamar.
Begitu sampai di kamar, Disha terkejut bukan main kala dalam kamar inapnya sudah banyak wajah-wajah tak asing yang tengah berjejer dengan bawaan di tangan masing-masing.
"Kal-kalian?" syok. Disha tak bisa lagi berkata-kata. Melihat pemandangan di depannya. Semua pacar Disha berjumlah 11 itu kompak menatap Disha dengan tatapan beragam. Lebih tepatnya, kasihan.
__ADS_1
"Aku gak tau kalo kamu sakit parah, Dis. Ini buat kamu, kita putus yaa." salah seorang pacar Disha mendekat sembari memberi Disha sebuket mawar putih.
Disha tak mampu berucap, ia menerima bunga lalu membiarkan cowok itu pergi begitu saja.
"Cepat sembuh, Dishaaaa. Maaf aku gak bisa panggil kamu sayang lagi." pacar Disha yang lain mendekat, memberi Disha satu paket keranjang berisi bermacam-macam buah.
Dan Disha pun menerima tanpa membalas apa-apa. Sudah cukup tahu bahwa dirinya sedang diputuskan.
Begitu terus, semua pacar Disha kompak mendoakan kesembuhan dan memutuskan hubungannya dengan Disha. Hingga tiba di orang terakhir, Disha merasa tenggorokannya tercekat kala pipinya dirangkum oleh tangan besar milik Deon. Tidak tahu saja, tingkah cowok itu berhasil membuat darah Gangga dan Arjuna yang menyaksikannya mendidih.
"Kenapa gak cerita ke aku?"
Disha menatap Deon bingung, kali ini gadis itu pun pilih buka suara. "Cerita apa? Cerita kalo punya pacar selain kamu? Bukannya kamu udah tau?"
Arjuna hendak menerjang cowok yang begitu lancang menyentuh pipi Disha. Namun Anita lebih dulu mencekal dan memberi gelengan kepala. Pertanda bahwa apa yang Arjuna hendak lakukan itu terlarang.
"Aku sakit parah?" Disha menatap Deon bingung. Namun malah terlihat satu di mata Deon. Gadis itu juga sempat menatap Anita. Meminta jawaban. Namun liciknya, wanita itu malah mengangkat bahu acuh tak acuh.
Deon mengangguk. Tangannya kini sudah berpindah tempat. Memilih mengambil jemari Disha usai ia singkirkan bermacam ***** bengek yang berada di pangkuan Disha lalu cowok itu mengelus tangan Disha lembut, "Kalo kamu mau aku tetep tinggal aku bakal tet---"
"Deon. Jangan labil. Kamu udah kenalan sama Arjuna tadi kan? Kamu gak lupa kan sama status dia?"
Disha mendelik kecil. Rupanya ini ulah Anita dan Arjuna. Disha sudah tidak heran, sih.
Deon menghela napas. Mendengar jelas apa yang Anita ucapkan. Dan cowok itupun sadar sepenuhnya. "Disha, kamu ada rasa nggak ke aku?"
Disha diam saja. Gadis itu malah hanyut dalam tatapan yang Deon suguhkan.
"Nggak usah cuci otak Disha!" Gangga memperingati cowok itu. Dari saja Arjuna bersyukur dalam hati.
Deon tak menghiraukan Gangga. Cowok itu malah mengambil sebuah kotak dari dalam saku celananya. Lalu ia serahkan pada Disha.
"Tolong terima dan simpan benda ini. Kalo kamu butuh aku lagi, jangan lupa kabari aku ya? Aku bakal selalu ada dan setia nunggu kamu."
Dan Disha baru sadar, rupanya perasaan Deon begitu besar padanya.
..._______________...
To be continued.
Assalamu'alaikum, haloo guys!
Alhamdulillah aku bisa up lagi.
Akhirnya, Disha jomblo juga eh, jomblo gak sih ini yaa konsepnya? 😂
__ADS_1
Moga sukaaak ya guys. Jangan lupa vote, komen sama likenya!
See you ☁