Efemeral

Efemeral
Part 23


__ADS_3

"Aaaaa boseeeen!"


Disha merentangkan kedua tangannya ke atas. Kemudian dua bahunya kompak melemas. Gadis itu langsung menatap ke depan. Murung.


"Laper? Mau dibeliin sesuatu?"


Arjuna yang nampak sibuk berkutat dengan beberapa alat tulis di sofa itu menoleh cepat. Yaps, ternyata cowok yang berstatus tunangan Disha itu juga tipikal orang rajin. Buktinya, Arjuna mau-mau saja membawa segala pekerjaan rumahnya ke rumah sakit dan mengerjakannya di sana. Tidak diragukan lagi bukan identitas cowok itu sebagai pelajar.


Bukannya menatap Arjuna, Disha malah menengok jam di kamar inapnya. Sudah nyaris pukul 9 malam. Diaha tidak bisa tidur. Tapi, perutnya juga masih kenyang melahap macam-macam pemberian mantan kekasihnya yang bahkan masih teronggok beberapa di sisi kiri Arjuna.


"Lo mau gue gendut karena nyemil terus-terusan?" Disha membalas dengan nada sengit. Iya kali, gadis itu kembali mengisi perutnya di waktu yang sudah menunjukkan pukul 9, ya walaupun pada dasarnya, sah-sah saja sih. Tapi, Disha sedang tidak mood untuk makan, sungguh.


"Ya.. nggak," Arjuna menjawab ragu. "Cuman kalo laper, bilang aja mah apa, nanti gue bakal beliin sebisanya."


"Enggak mau apa-apa! Gue tuh bosen tau gak sih! Boseeeen! Bunda kenapa gak ke sini-sini sih."


Walau hobi berdebat dengan bunganya, Anita tetaplah salah satu orang yang Disha butuhkan dikala bosan. Mulut wanita itu yang terkesan pedas malah menjadikan hari-hari Disha berwarna. Disha butuh Anita yang mampu membuatnya lupa akan apa yang sebenarnya ia rasa walaupun Disha harus merasa kehilangan luar biasa terlebih dahulu saat menghadapi segala celoteh sang bunda.


"Tante Anita bilang ada urusan genting, mau ke sini beberapa menit lagi." balas Arjuna sembari fokus menatap pesan yang baru saja Anita kirim padanya.


"Assalamu'alaikum."


Pintu kamar inap Disha terbuka cepat namun tenang, bukan Anita yang muncul. Melainkan sosok Gangga. Cowok itu terlihat membalut tubuhnya dengan hoodie abu-abu dan celana training hitam.


"Wa'alaikumussalam." sahut Disha lantang. Sementara Arjuna terlihat diam saja. Gangga tak memprotes. Tih, siapa tahu Arjuna membalas salamnya dari dalam hati. Gangga tak mau terlalu peduli.


Namun Disha yang saat itu berlagak sok teliti pun menegur Arjuna, "Kalo ada orang salam, dijawab dong, Jun. Gak sopan banget sih,"


"Gue jawab dalam hati,"


"Emang hati lo punya mulut?"


"Iya-iya maaf, lain kali gue jawab langsung."


Disha memutar bola mata malas. Kemudian mengalihkan pandangan pada Gangga yang mendekat ke arahnya dengan wajah yang tidak bisa dibilang baik. Rasa letih dan putus asa tersirst dari wajah seorang Gangga.


"Lagi capek, Ngga? Kenapa ke sini?"


Mode sahabat baik yang bisa diandalkan plus cocok untuk diajak curhat milik Disha pun diaktifkan.


"Liat lo capeknya ilang." empat kata yang Gangga ucapkan itu nyatanya Disha balas dengan dengusan.

__ADS_1


Gadis itu memilih melambaikan tangan, mengarahkan agar sahabatnya itu mendekat, "Sini mau gue peluk nggak?"


Disha sudah siap dengan respon Gangga yang menghindar, mencibir atau menolak Disha secara terang-terangan. Tetapi, yang terjadi malah suatu hal yang membuat Arjuna mengalihkan pandangan. Menggenggam bolpoin di tangannya erat-erat dengan urat-urat yang terlihat menonjol jelas.


Gangga mendekatkan diri. Menaruh kepalanya di pundak gadis yang padahal masih dalam proses pemulihan tersebut.


"Tumben mau gue peluk?" tanya Disha. Terheran-heran. Tak urung kekehan geli keluar dari bibirnya. Gangga tak membalas, cowok itu hanya mendengus sebal tanpa mengubah posisinya.


"Kenapa nih Bang? Lagi capek banget ya? Hmmm, cup cup, jangan terlalu dipaksa belajarnya, jangan terlalu forsir tubuh lo sendiri. Lo bukan robot, lo butuh banyak-banyak istirahat, juga ... makan! Lo pasti jarang makan sekarang ini? Kelihatan tambah ... em.. gak dip biasa aja."


"Gak usah modus." Gangga berisik lirih. Tepat di telinga Disha dengan nada sengit.


Menyengir, Disha memutuskan memeluk punggung Gangga erat, "Aaaa sobat gue jangan galau-galau! Nih udah dapet pelukan, ilang dong pasti capeknya??"


Gangga mendengus kasar. Menjauhkan diri sebelum kemudian menyentil gemas kening Disha. "Bar-bar."


"Idih, biarinlah suka-suka gue. Lo mah gak ada makasih makasihnya emang!" Disha melipat lengan depan dada. Memalingkan muka dengan ekspresi kesal.


"Ada yang mau gue omongin sama lo, Dis. Penting." di akhir kalimatnya, Gangga nampak melirik Arjuna. Mengisyaratkan suatu hal yang untungnya Disha peka tersebut.


"Jun, lo bisa keluar sebentar? Gue mau ngobrol sama Gang---"


"Bukannya tadi siang udah?" potong Arjuna.


"Gue gak ngatur ya, gue cuman ngomong fakta. Lagian lo mah ngomongin apa sih, kayak orang penting aja lo." Arjuna mendebat cibiran Gangga.


"Emang, Gangga itu penting." Disha yang menyela dan menjawabnya dengan tegas.


Gangga tersenyum miring.


Sementara Arjuna, cowok itu kelihatan menatap Gangga sengit. "Gue di sini aja. Pake earphone. Jadi mustahil denger pembicaraan kalian kan?"


"Terserah." ujar Disha yang kemudian mempersilahkan Gangga duduk di kasurnya.


Arjuna yang mulai menyumpal telinga dengan earphone sesekali melihat Gangga dengan tatapan sinis.


Nggak bisa apa tuh cowok duduk di kursi aja? Atau mungkin gak tau tempat duduk yang baik di mana kali ya? Sialan!


Sebentar. Arjuna termenung. Berpikir atas apa yang ia rasakan saat ini. Bukankah ia tengah merasakan yang namanya sikap pertanda sayang alias cemburu? Tapi ... sejak kapan perasaan ini hadir? Sejak kapan jantungnya mulai mendetakkan sebuah nama gadis yang ternyata punya puluhan pacar demi masa depan? Sejak kapan..? Atau mungkin, inilah sebenar-benarnya perasaan yang Arjuna miliki?


Jika iya, hatinya pasti tidak salah tempat saat otaknya mulai dipenuhi ingatan yang berlomba-lomba mendekat.

__ADS_1


Argh!! Kapan sih, Arjuna bisa mendengar, menatap dan mengobrol hangat seperti apa yang tengah Gangga lakukan bersama Disha itu?!


Arjuna tidak bisa berbuat banyak. Selain mengencangkan volume musiknya. Menatap dua sejoli itu dari jauh. Kemudian sebisa mungkin mengalihkan tatap, kembali fokus mengerjakan pekerjaan rumahnya walau dibilang ia masih murid baru.


Dan syukurlah setelah beberapa menit, Arjuna sudah mampu fokus sepenuhnya mengerjakan soal-soal. Cowok itu sudah tidak terlalu memperhatikan sekitar pula karena ia tahu yang ia dapat hanya rasa sesak.


Hingga tiba-tiba, Arjuna rasakan sisi sebelah sofa yang ia duduk bergerak menurun, refleks cowok itu menoleh. Kaget begitu melihat Gangga sudah duduk di sampingnya tengah tatapan fokus ke depan.


Arjuna refleks mengedarkan pandangan. Menatap ke depan juga. Ke arah Disha yang rupanya sudah terlepas dengan sebuah ponsel menyala di genggamannya. Arjuna tahu dengan pasti kalau itu bukanlah ponsel milik tunangannya.


Arjuna pun melepas earphone dari kedua telinganya. Jika ditelisik, sebenarnya menggunakan earphone terlalu lama tidaklah baik untuk kesehatan telinga. Tapi, Arjuna mau-mau saja begitu karena dirinya sendiri dan demi ... Disha.


"Sorry,"


Arjuna mengernyit, tidak paham atas apa yang Gangga baru saja katakan. "Maksud lo?"


"Sori kalo gue ngobrol terlalu lama sama Disha," perjelas Gangga.


"Oh, puas-puasin deh, sebelum nanti gak gue ijinin lagi." Arjuna terkekeh culas di akhir kalimatnya.


Gangga langsung menoleh. Mereka bersitatap. Tajam nan sengit.


"Gue gak butuh ijin lo."


"Gue tunangannya."


"Apa Disha ngakuin lo?"


Arjuna terdiam. Membeku pada pertanyaan yang Gangga layangakan pukul 11 malam itu.


...________________...


To be continued.


Assalamualaikum!


Halooo, guys. Comeback with me..


Persaingan nampak sengit, Blinda jadi kelupaan😭🙏


Moga sukaaak.

__ADS_1


See you☁


__ADS_2