
Anita sampai di rumah sakit ketika Disha sudah mendapat penanganan dengan tepat. Memang, tidak ada hal yang membahayakan putrinya itu selain alergi kedelai yang kadang benar-benar mampu mengubah kondisi fisik seorang Disha.
"Ngga, kamu yang ngurus administrasinya ya?" Anita bertanya seraya duduk di kursi besi usai Gangga bangkit dan mempersilahkannya.
Gangga mengangguk. Mengakui.
"Berapa, Ngga? Nanti Tante ganti ya kalo udah di rumah." ujar Anita. Menatap penuh Disha. Sembari mengambil tangan mungil yang dipenuhi bintik ruam tersebut.
"Gak usah, Tante."
"Ngga.." Anita akhirnya mengalihkan pandang. Menatap Gangga dengan tatapan seolah-olah mengartikan bahwa 'kenapa harus nolak sih?'
"Tan, Disha sahabat aku. Masa gini aja aku segala pake itung-itungan sih. Gak usah, Tan." kilah Gangga. Sembari menebar senyum meyakinkan kepada Anita.
Anita menghela napas. Lelah. Toh, percuma jika ia mendebat lagi, Gangga pasti akan menjawabnya. "Makasih ya, Ngga. Kamu udah baik banget sama Disha. Anak Tante aja yang kadang gak tau diri,"
Bohong jika Gangga tidak ingin mengiyakan apa yang Anita katakan. Pasalnya semua yang keluar dari bibir wanita berkaos hijau itu memanglah fakta. Disha sering kali bertindak tidak tahu diri pada Gangga. Ambil saja dari kisah beberapa hari lalu. Gangga yang pergi ke supermarket, hendak membayar beberapa barang mendadak dihadapkan dengan fakta bahwa saldo ATM nya tidak tersisa tersisa. Sepersepun. Ya. Memang dasar uangnya tinggal sedikit dan Gangga belum sempat mengisinya lagi. Tapi, Gangga bingung, bukannya ia belum menggunakan kartu tersebut untuk membeli apa-apa? Setidaknya, walau tinggal sedikit masih bisa Gangga gunakan untuk membeli minuman kala rasa hausnya menyerang.
Dan Gangga baru mengetahui fakta bahwa Disha menggunakan uang dalam ATM-nya untuk membeli makanan yang tak lain dan tak bukan adalah pizza yang Disha janjikan pada Nayaka. Sebenarnya, Gangga sendiri yang memberi tahu password dan segala ***** bengek tentang kartu ATM-nya. Jadi, ia tak menyalahkan Disha sepenuhnya di sini. Namun, bisakah gadis itu izin terlebih dahulu padanya? Nyatanya, Disha lebih suka menggunakan dulu baru memberi tahu.
Benar dan tepat seperti apa yang Anita katakan, gadis itu tidak tahu diri. Dan mirisnya, Gangga tidak bisa benar-benar kesal dengan gadis itu.
"Gak papa, Tan. Gangga udah biasa," Gangga berujar netral. Tidak ingin membuat citra Disha makin buruk. Toh, Anita pasti sudah kenal betul sifat anaknya.
"Kebiasaan kamu yang kadang digunain seenak jidat sama anak kambing ini, Gangga." Anita berujar lelah. Bagaimana bisa remaja tampan ini mau-mau saja bersahabat dengan anaknya yang dilihat-lihat tidak ada bagus-bagusnya.
"Gangga ikhlas, kok, Tan." Gangga tersenyum simpul. "Tante lapar gak? Gangga mau beli makanan dulu di kantin,"
"Gak balik ke sekolah aja, Ngga?"
"Nggak deh, Tan. Tadi juga lagi jamkos." jawab Gangga. "Jadi, mau nitip gak, Tan?"
"Bubur ayam aja deh, Ngga. Dua ya sama buat anak kambing ini." balas Anita. "Pake uang kamu dulu, nanti Tante ganti oke?"
"Gak---"
__ADS_1
"Ngga, sekali-kali nurut deh. Mau gak Bunda izinin temenan lagi sama anak kambing?"
Anita sebenarnya tak yakin akan jawaban Gangga. Bisa saja cowok itu akan berkata enteng, berujar jika tidak apa jika Gangga tidak lagi bisa berteman dengan Disha.
Namun melihat raut patuh dan sedikit panik yang tercipta benar-benar membuat Anita menganga, tak percaya. "Jangan, Tan. Iya nanti uangnya boleh Tante ganti,"
"Yaudah, Gangga ke kantin dulu ya, Tan."
Anita masih bungkam. Mengalihkan pandang. Menatap Disha Dengan tatapan tajam sekaligus heran. "Anak kambing ini punya apa sih, peletnya ampuh banget astaga."
...*****...
Gangga kembali sembari membawa dua kresek berisi bubur, burger dan beberapa botol minum. Belum sempat sampai, Gangga memicingkan mata. Curiga. Pada cowok yang tampak ragu berdiri di depam kamar inap Disha. Tanpa banyak bicara, Gangga melangkahkan kaki cepat. Menarik mundur bahu cowok yang tampak hendak membuka pintu itu.
"Lo salah kamar?" Gangga berujar dengan nada dingin. Dalam diam, ia memindai penampilan cowok itu dari atas sampai bawah. Agak heran, seragam cowok di depannya ini pergi dengan seragam sekolahnya. Dan juga ada ransel milik Disha menggantung di sebelah bahu cowok itu. Namun yang menjadi pertanyaan adalah jika mereka satu sekolah, kenapa wajahnya tampak begitu asing bagi Gangga?
"Ini kamarnya Nadisha bukan?"
Gangga mengernyitkan dahi. Cowok ini juga tahu nama Disha.
"Pertanyaan gue belum lo jawab." cowok di depannya itu menjawab dengan ketus.
Wah, Gangga sampai dibuat terkejut akan perubahan nada yang cowok itu lakukan.
"Pertanyaan gue juga belum lo jawab." Gangga membalas dengan sengit. Dipikir hanya cowok itu yang bisa berujar dengan ketus apa?!
"Gak penting siapa gue. Gue cuman mau ketemu Nadisha. Awas!" cowok itu berusaha menyingkirkan bahu Gangga yang sudah menghalangi pintu sedari tadi. Gangga yang masih sedikit lengah pun mampu tersingkir kan dengan mudah.
Tidak terima, Gangga langsung susul langkah cowok itu masuk ke dalam kamar inap Disha.
"Tan, ada cowok gila yang ngaku-ngaku kenal sama Disha." Gangga mendekat ke arah Anita. Sembari memberitahu siapa yang ia temui tadi di depan. Tetapi, tunggu, di mana cowok yang tadi masuk ke dalam kamar inap Disha?
"Cowok gila? Siap--- oh maksud kamu dia, Ngga?"
Seorang cowok baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah cukup segar. Gangga bertanya-tanya dalam hati. Siapa cowok itu? Benar-benar tidak tahu diri. Sudah masuk kamar Disha dengan cara memaksa. Ini malah mengenakan kamar mandi seenaknya juga.
__ADS_1
"Gak sopan banget lo jadi orang." cibir Gangga ketika melihat cowok itu mendekat.
"Gangga, maaf saking sibuknya Tante sampe lupa ngenalin dia ke kamu." Anita berujar sembari memegang punggung kiri cowok gila itu, dengan senyuman penuh rasa bersalah Anita melanjutkan kalimatnya. "Namanya Arjuna. Dia anak temen Tante. Sekaligus tunangan Disha."
"Hah?! Tunangan?!"
Lihat respon yang Gangga berikan nyaris sama seperti respon yang Disha beri pertama kali kala mengetahui bahwa Arjuna adalah tunangannya.
Anita sudah mampu menebak bagaimana respon yang akan didapatkan. Maka, ketimbang membuat suasana semakin panas dan membingungkan. Anita memilih membawa Gangga keluar lebih dulu dari kamar.
Gangga sebenarnya tak rela membiarkan Disha berduaan dengan cowok gila bernama Arjuna di dalam sana namun jika Anita yang meminta, Gangga tidak bisa menolaknya.
Setelah dirasa cukup aman, Anita menghembuskan napas pelan. Mulai menceritakan segalanya dari awal sampai akhir. Runtut dan teliti sesuai kronologis yang ada. Anita percaya 90 persen bahwa Gangga bisa menjaga rahasia. Jadi, wanita itu tidak tahu untuk menceritakan semua alurnya.
"Tante mohon kerjasama kamu ya, Ngga."
Gangga mengangguk sekali, "Tapi dia udah tau kalo aku sahabat Disha kan, Tan?"
"Ngga, jangan terlalu deket sama Disha deh, kamu jadi lola gini. Orang tadi aja Arjuna gak kenal sama kamu. Tante juga bilang lagi sibuk, makanya Tante belum ngenalin kamu ke dia lah, Ngga."
"Tante harus kenalin aku sama Arjuna pokoknya. Sebagai sahabat sejak bayi Disha."
Anita melongo. Tidak paham apa yang Gangga katakan. Lebih ke keheranan. Ini serius, Disha lagi jadi rebutan?
..._______________...
To be continued.
Assalamu'alaikum, guys.
Hahay akhirnya Gangga ketemu sama Juna juga🙆
Semoga sukaaaak.
See you☁
__ADS_1