Efemeral

Efemeral
Part 21


__ADS_3

"Jelasin!"


"Jun, tolong itu ambilin kotak yang isi donat dong."


"Nggak! Jelasin dulu, Bundaa!"


Arjuna bimbang. Cowok itu bingung hendak memihak pada siapa. Menurut Anita untuk mengambilkan kotak donat namun Disha memberinya pelototan tajam. Tapi, menurut para Disha pun Anita nampak memperlihatkan wajah memaksanya.


"Jelasin apa sih, Dis? Bunda rasa gak ada yang perlu dijelasin." ujar Anita. Santai. Yang lalu memilih bangkit. Memusnahkan kebimbangan Arjuna. Sebab wanita itu mengambil sendiri kotak donat yang berada di meja dekat sofa. Itu adalah pemberian salah seorang pacar Disha tadi.


"Get well soon, honey? Hueeek, alay!" Anita membaca kertas yang ada di atas tutup lalu mencibirnya.


Disha yang masih merasa kesal pun kembali mengajukan tanya. "Bunda! Disha tanya gimana bisa semua ini terjadi?"


"Loh. Emangnya Bunda doang yang terlibat semua ini? Kenapa gak tanya Juna aja?" balas Anita. Sembari menggigit donat toping dari dalam kotak.


Langsung Disha tatap Arjuna yang kini tengah berada di samping Anita yang tengah duduk di sofa. Kemudian Disha memilih mengalihkan pandang serta memutar bola matanya malas.


"Bunda jangan buat Disha makin muak yaaa,"


"Muaaaaakk~ aku muaaakkk~ katanya cinta sedalam samudra, bohong nyat---"


"Disha gak nyuruh Bunda nyanyi!" seru Disha sebal.


"Dih, orang Bunda pengin nyanyi sendiri kok. Emang harus disuruh kamu dulu? Enggak kaleee,"


Ingin rasanya mencakar wajah Anita namun Disha sadar ia masih lemas dan jelas tidak akan bertindak sejahat itu pada bundanya. Gadis itupun hanya mampu melipat lengan depan dada.


"Mau gue suapin?" Gangga mengangkat burger yang tadi dirinya beli ke depan wajah Disha.


Disha menggigit bibir bawahnya, "Kenapa lo peka sih, Ngga?"


"Udah, makan dulu. Buka mulut lo."


Lalu Disha membuka mulutnya. Membiarkan Gangga mendekatkan tumpukan roti, sayur dan daging itu ke dalam mulut Disha. Lalu tanpa banyak omong lagi, Disha membuka mulut lebar dan menggigitnya.


"Tan, aku izin keluar dulu yaa." dibanding membiarkan darahnya makin mendidih melihat kebersamaan Gangga dan Disha. Arjuna pilih meminta izin untuk keluar pada Anita.


"Mau ke mana?" Anita bertanya seraya mengambil satu lagi donat toping keju dari dalam kotak.


"Beli sesuatu. Gak lama, kok."


Anita mengangguk. Membiarkan Arjuna pergi tanpa pamit dulu pada Disha. Anita tahu, jika Arjuna pamitan pun pada Disha pastilah gadis itu akan mengabaikannya.


Niat hati, Arjuna keluar kamar inap Disha. Sekaligus rumah sakit untuk mencari makanan favorit seorang Disha. Mengambil ponsel di saku, Gangga membuka aplikasi Google Maps. Mencari warung penjual gado-gado terdekat. Mungkin jika Arjuna dapat membawa gado-gado untuk Disha, kalimat maafnya akan diterima tanpa bantahan.

__ADS_1


Rupanya usai melihat dengan seksama lokasi warung gado-gado terdekat, Arjuna menemukan lokasi yang hanya berjarak 2 meter dari rumah sakit di mana Disha dirawat. Jadi, Arjuna memutuskan untuk berjalan kaki. Lagipula cowok itu juga tidak membawa kendaraan sendiri. Lebih tepatnya, tidak punya.


Sembari menunggu lampu khusus penyebrang berubah menjadi hijau. Arjuna melihat-lihat foto di dalam ponselnya. Foto seorang Disha yang ia ambil secara diam-diam beberapa hari ini.


"LONA AWAS!"


Arjuna tersentak mendengar teriakan menggelegar penuh nada cemas itu. Mendongakkan kepala. Arjuna bisa melihat seorang gadis kecil berlari cepat dan berhenti di tengah jalan yang padat akan kendaraan.


Rasa kemanusiaan Arjuna mencuat, cowok itu langsung berlari. Mendekati si gadis kecil lalu merangkulnya dengan gesit. Untung saja sebuah minibus yang tadinya melaju langsung berhenti usai Arjuna memberi aba-aba.


"Dek, kamu gak papa?"


Gadis kecil yang masih berada di dekapan Arjuna itu hanya diam. Menangis deras. Sampai seseorang wanita datang dengan napas memburu cepat dan kedua bola matanya memerah hebat.


"Kamu udah gila Lona?! Tabrakin diri aja di rel kereta kalo mau mati cepet!" sinis sang wanita yang sepertinya ibu gadis bernama Lona yang kemudian langsung menarik kasar gadis itu pergi.


Arjuna ingin mencegah. Tidak membiarkan Lona pergi bersama ibunya. Tetapi apa hak cowok itu? Apa dayanya? Setidaknya, Arjuna bersyukur. Lona baik-baik saja. Walau ia tidak tahu bagaimana nasib gadis itu setelah ini.


Arjuna pun meneruskan langkahnya yang tertunda. Namun mendadak pening mendera kepalanya. Sesaat. Dan sebuah kalimat terlintas saja dalam benaknya.


"Lonaaaa!"


Lona? Mengapa dalam kilasannya Arjuna memanggil gadis bernama Lona? Apa memang Arjuna mempunyai teman bernama Lona? Ah, lupakan saja tentang Lona. Arjuna harus buru-buru membeli gado-gado jika tidak ingin kehabisan dan membiarkan Gangga serta Disha menghabiskan banyak waktu luang berduaan. Arjuna benar-benar tam berharap itu semua terjadi.


"Gimana?" salah satu dari mereka malah membuka helm dengan apatis.


Yang lain menggeleng. Dan sang penanya pun hanya mampu memikul stir motornya kesal. Berdecak seraya menatap tajam ke depan.


"Terus cari, ini menyangkut nyawa seseorang."


Remaja-remaja dengan motor gede itu mengangguk kemudian menjalankan motor pergi satu persatu. Untunglah jalanan bisa kembali normal seperti biasa.


...*****...


"Pasti Bunda 'kan yang udah buka-buka ponsel aku?!"


Disha bertanya kesal. Bagaimana tidak? Saat membuka ponsel, gadis itu kaget bukan main. Banyak sekali chat dari pacar, ah mantan pacarnya memenuhi kolom beranda WhatsApp-nya. Gadis itu makin yakin kalau Anita adalah dalang dibalik hadirnya semua pesan-pesan ini. Sayangnya, Disha tak bisa tahu apa yang Anita kirim sebab pesan yang dirinya kirim sudah lenyap. Tak tersisa satupun.


"Bunda tau privasi?" Disha bertanya dengan nada lelah bercampur sengit.


Anita yang semula acuh tak acuh dan sibuk memakan donat pun menghentikan aktivitasnya. Gangga yang merasa dua perempuan itu butuh waktu untuk berbincang pun memilih melipir keluar perlahan.


"Kamu pikir Bunda bodoh?!"


"Bunda keterlaluan tau nggak!" Disha menjawab kesal.

__ADS_1


"Bunda begini demi kebaikan kamu Disha!"


"Kebaikan apanya?!"


"Kalo Bunda ngomong dengerin, jangan kebiasaan motong!"


"Bunda gak denger gimana cara ngomong Bunda sendiri?! Nada suara Bunda buat aku muak tau gak sih?!"


"Kamu gak pernah bisa dengerin Bunda emang ya? Sekali aja? Jadi anak baik sehari aja bisa gak sih?"


Disha menghela napas. Kasar. Anita benar-benar mahir sekali mengobrak-abrik perasaannya. Segala kalimat yang keluar dari wanita itu kala marah berhasil memancing emosi Disha dengan mudah.


"Nda, Disha cuman mau tanya, kenapa Bunda bisa senekat itu sampai buka-buka HP Disha? Bahkan Bunda juga ngumpulin pacar-pacar Disha dan buat semuanya mutusin Disha," Disha kembali bertanya. Dengan nada yang sudah cukup normal. Tidak meninggi seperti tadi.


"Masalahnya kamu sendiri, Disha."


Disha melebarkan mata. Tidak menyangka sekaligus tidak ingin lagi meledakkan emosinya. Dengan pelan nan geram, Disha bertanya heran. "Kenapa jadi aku?"


"Kamu gak peka sama perasaan orang sekitar kamu."


Disha menghela napas. Mengusak wajahnya kesal, "Perasaan siapa sih, Bunda?"


"Arjuna."


Disha melongo. Terdiam beberapa saat sebelum kemudian paham akan apa yang Anita bicarakan sekarang.


"Dia bahkan gak ada rasa secuilpun ke aku, Nda."


"Bukan gak ada, cuman belum, Disha. Kenapa kamu gak mau berusaha?"


"Usaha kayak apa lagi Bundaaaa?"


"Usaha ini. Usaha yang sedang Bunda jalankan. Dan kamu bakalan terus kelihatan bodoh kalo masih mau nyia-nyiain cowok modelan Arjuna. Sadar Disha sadar!"


Disha menghela napas panjang. Berdecak sebelum kemudian mengubah posisinya menjadi berbaring kembali di ranjang. Gadis itupun menutup tubuh dari kaki sampai lehernya dengan selimut.


"Jangan jadi anak durhaka kamu, Disha."


...__________________...


To be continued.


Assalamu'alaikum, guys. Lagi berantem nih sama Bunda sama Disha, moga cepet baikan yaw.


See you ☁

__ADS_1


__ADS_2