
“Layaknya panglima yang selalu siaga saat ratunya dalam bahaya, aku hanya ingin menjadi perisai terbaik bagi kamu.” —— Efemeral
...*****...
"MESUM LO YA?!"
Belum juga tanya Arjuna terjawab, seseorang dengan kecepatan kilat lebih dulu menarik kerah baju Arjuna kasar ke belakang. Lalu dengan tanpa perasaan seseorang itu memukul rahang Arjuna keras dan penuh amarah.
Disha yang kenal akan cowok itu pun langsung berpindah posisi. Gadis itu berlari, bersembunyi di balik punggung cowok berkaos hijau yang tak lain dan tak bukan adalah pacarnya. Rio.
"Yo, tolongin aku ..." Disha berujar dengan nada lirih. Berpura-pura tengah terancam.
"Brengsek! Lo apain cewek gue hah?!" Rio kembali layangkan pukulan. Dengan sasaran yang berbeda. Cowok itu benar-benar mengeluarkan energinya kala memberi pukulan. Buktinya; sudut bibir Arjuna terlihat muncul robekan. Darah merembes keluar dari sana.
Sementara Disha, dalam diam ia tersenyum picik. Ah, lihat saja sekarang. Selain hobi menggunakan mode lembek saat berbicara, Arjuna juga lemah dalam hal membela diri. Cowok itu hanya diam saja sedari tadi. Tidak Disha lihat sebuah pergerakan bahwa cowok itu akan melakukan perlawan. Cih, cowok seperti ini yang akan bertunangan dengannya?! Disha harus berpikir ulang beribu-ribu kali dulu sepertinya.
"Gue tanya ke lo anjing! Jawab! Atau gak bisa ngomong?! Bisu lo?!" sekali lagi, Rio berikan pukulan di wajah Arjuna. Namun, Arjuna tetap saja bungkam. Tak membalas. Cowok itu bahkan membiarkan saja darah mengalir melintasi dagunya.
Yang namanya bicara tapi tak diberi tanggapan, Rio kesal juga lama-lama. Cowok itu memilih membalikkan badan. Menggenggam erat tangan Disha sembari mengajak gadis itu berjalan pergi.
"Kamu gak papa, 'kan, Dis?" Rio bertanya begitu lembut pada Disha.
Disha menggeleng seraya tersenyum, "Gak pa— AKH!"
Belum juga Disha menyelesaikan kalimatnya, gadis itu dibuat terkejut bukan main kala mendadak tubuh Rio sudah menghantam aspal keras. Seseorang menendang punggung Rio dengan tenaga ekstra. Dan Disha sama sekali tidak menyangka kalau sang pelaku ialah Arjuna.
"Jangan belagu jadi cowok." ujar Arjuna. Dengan intonasi yang sama sekali tidak Disha kenal. Cowok ini langsung berubah jadi asing di mata Disha.
"Maksud lo apa brengsek?!" balas Rio. Sembari hendak berdiri dari posisi tengkurapnya. Tapi, sayang, Arjuna sudah lebih dulu menaruh kaki berbalut sneakers itu ke atas punggungnya.
"Anjing! Singkirin kaki lo!" suruh Rio. Dengan nada kesal luar biasa.
"Apa lo bilang? Singkirin kaki gue? Oh oke ..."
Rio pikir, Arjuna akan benar-benar menyingkirkan kakinya dari tubuh miliknya tetapi cowok itu malah memindahkan posisi kakinya ke atas kepala Rio.
Dari jarak beberapa jengkal, Disha bisa lihat, Arjuna terkekeh pelan. Terlihat menyeramkan.
"SIALAN! GUE BILANG SINGKIRIN KAKI LO!"
__ADS_1
"Gak mau. Jelas-jelas di sini status gue lebih tinggi dibanding lo. Jangan sombong." timpal Arjuna santai.
"Lo ngomong apasih anjir?!" Rio tak paham akan kalimat yang Arjuna lontarkan.
"Makanya gak usah belagu. Lo pacar Disha heh? Sementara gue tunangannya." ungkap Arjuna. Sebelah sudut bibir cowok itu terangkat ke atas. Mengejek Rio terang-terangan.
"Halu lo anjing! Mana ada! Gak usah kebanyakan ngobat deh. Otak lo jadi gak bener! Lo cuman cowok yang mau mesumin cewek gue 'kan?! Pake segala ngaku tunangan Disha! Bangun anjing! Hahahaha.." masih sempat-sempatnya, Rio mengeluarkan tawa remehnya di hadapan Arjuna.
"Gue gak bohong. Bukan begitu, Disha?"
Merinding! Disha rasakan bulu-bulu di tangannya berdiri tegak kala Arjuna mengalihkan tatap. Melihat ke arah maniknya dengan sebuah senyuman yang sarat akan makna.
"Jujur ke aku, Disha! Yang cowok ini omongin cuman bullshit 'kan?"
Disha diam saja. Tak membuka bibir sesentipun.
"Disha jawab! Sejak kapan kamu jadi cewek budeg— Arghh!"
"Tutup mulut busuk lo itu."
Tanpa basa-basi, Arjuna layangkan peringatan, cowok itu bahkan tak segan-segan menekan kepala Rio hingga benar-benar bersentuhan dengan aspal. Kulit pipi cowok itu tergores. Darah pun merembes keluar perlahan.
"Lo ya— ARGHHH!"
Arjuna marah. Betulan. Bagaimana tidak? Cowok yang katanya pacar Disha ini dengan enteng berkata kasar kepada Disha. Meskipun terkesan sepele. Tapi rasa-rasanya, ada yang mendidih dalam dada Arjuna. Walau statis pertunangan mereka masih dipertanyakan, namun Arjuna sungguh benci dengan namanya cowok banci yang hobi menyakiti perempuan dengan kalimat kasar.
"J-jun, udah stop!" Disha beranikan diri menegur. Gadis itu merasa kasihan melihat kondisi Rio yang nyaris tak berdaya di bawah sana.
"Putusin cowok lo dulu." tidak ada senyum yang terbias kala Arjuna ucapkan titah itu. Dingin. Arjuna betulan serius akan kalimatnya.
"G-gak! Gila lo!"
"Fine. Cowok lo bakal gue buat kehabisan darah di sini." ancam Arjuna. Kembali menekan dengan kuat kepala Rio agar bergesekan dengan aspal.
"Disha anjing! Putusin gue aja udah! Gue gak mau mati muda brengsek!" dengan kekuatan tak seberapa, Rio kembali buka suara.
Disha sempat terkejut mendengar nada membentak seorang Rio, tak urung, gadis itu buru-buru menyetujui persyaratan Arjuna sebelum cowok itu kembali bertindak gila lebih jauh. "Iya! Iya! Gue putus sama Rio sekarang!"
Arjuna tak bicara apa-apa. Cowok itu hanya menarik kedua sudut bibir. Lantas mengangkat kaki dan membiarkan Rio bangkit dengan gemetar yang kentara. Cowok itu sempat tersandung beberapa kali sebelum kemudian berlari terbirit-birit menjauhi mereka.
__ADS_1
Cemen!
Arjuna akhirnya mampu bernapas lega sekarang. Tetapi, cowok itu langsung melunturkan senyuman kala melihat Disha dengan tubuh gemetar terlihat tengah menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan. Tanpa banyak omong, Arjuna langkahkan kaki mendekat. Cowok itu hendak meraih pundak Disha, namun sang pemilik lebih dulu menepisnya.
"Gak usah sentuh gue!" larangnya. Dengan suara yang terselip nada takut dan marah di dalamnya.
"Disha, maaf ... aku gak bermaksud buat kamu takut." Arjuna coba pegang jemari Disha yang menutup muka keseluruhan. Belum jua teraih, Disha lebih dulu membukanya. Mata gadis itu memerah. Dan Arjuna makin merasa bersalah karenanya.
"Telat sialan!" umpat Disha. "Lo tuh—"
"Maaf, Disha, maaf.. maafin aku yaa?" dengan lancang, Arjuna tarik Disha masuk ke dalam pelukan. Walaupun gadis itu memberontak, Arjuna tak peduli. Cowok itu hanya ingin meminta maaf dan dimaafkan.
"Lepas begoooo!"
"Maafin aku dulu."
"Iya gue mau maafin lo, tapi dengan satu syarat." mendengar Disha berujar demikian, Arjuna perlahan-lahan membentangkan jarak. Cowok itu tatap manik mata Disha lekat-lekat. "Apa syaratnya?"
"Berhenti ngomong pake aku-kamu. Mode lembek lo itu bener-bener nyebelin tau gak sih?!"
"Tapi—"
"Mau dimaafin gak?!" tanya Disha. Galak.
"O-oke. Aku—"
"Gueee! Bukan aku bodoh!" sela Disha cepat. Namun bukannya menjawab, Arjuna malah menggendong Disha gak membawa karung beras di pundak, "ARJUNA SIALAN! GUE BUKAN DEWI SINTA! TURUNIN GUEEE!"
"Gak sekarang."
...—————————...
To be continued.
Assalamu'alaikum.
Satu kata untuk part ini?
Jangan lupa vote dan komen ya, guys.
__ADS_1
Thank you.
See you☁️