
Akibat berdebat terus dengan Blinda, Disha jadi lupa bahwa dia kembali ke kantin untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Namun, belum juga menyuap satu sendok potongan ketupat ke mulut, seseorang lebih dulu datang. Menjewer telinga Disha begitu kuat.
Merasa hapal akan cita rasa jeweran tersebut, Disha pun mendongakkan kepala perlahan. Kemudian menoleh, dan benar saja ia mendapati Bu Inul, selaku guru BK di sekolahnya tengah berdiri dengan wajah memerah padam. Mungkin kesal pada Disha?
"Hehe, haiii Bu masa lalu.." terkadang Disha memang memanggilnya demikian sebab guru itu memang diisukan belum bisa move on dari seseorang di masa lampaunya.
"Masa lalu gundulmu! Gak usah cengar-cengir gitu kamu, Disha! Lagi ngapain kamu di sini padahal belum jam istirahat hah?!"
Bukannya berhenti, Disha malah makin menyengir lebar. "Masa gak tau kalo ada anak sekolah pergi ke kantin? Ya makanlah, Bu. Yakali mau dangdutan di sini."
"Kamu itu yaa, hobi sekali menjawab pertanyaan saya." lalu Bu Inul mengarahkan pandang pada Blinda, "Kamu juga Blinda, kenapa jadi ikut-ikutan Disha sih?"
"Sedari dulu saya sama Blinda emang udah sepaket kali, Bu." sela Disha. Yang langsung dihadiahi pelototan tajam oleh Bu Inul. "Hehe, peace, Bu."
"Haha hehe haha hehe, bengek juga nanti lama-lama kamu! Saya tanya, sedang pelajaran apa kalian? Kenapa malah kabur ke sini?!"
"Seni budaya, Bu." Blinda menjawab sopan. Berbanding terbalik dengan Disha. Itulah mengapa terkadang, orang-orang langsung berasumsi bahwa Dishalah biang kerok segala kelakuan buruk yang Blinda kerjakan, tentunya berdua bersama sohib sesatnya itu. Padahal faktanya, ya memang benar, Disha tidak menampik semua itu.
"Terus kenapa kamu malah mau-mauan di ajak Disha ke sini, Blinda?"
Tuh kan, pasti lagi-lagi Disha yang dituduh berandil besar dalam hal ini.
"Kok Blinda mulu yang ditanya, saya harus ditanya juga dong, Bu. Jangan pilkas. Kan kalo denger sesuatu harus dari kedua belah pihak, gak boleh dari satu pihak aja. Ib---"
"Tutup mulut kamu dulu, Disha. Blinda belum jawab pertanyaannya!"
"Tapi izinin saya makan gado-gado ya, Bu?"
"Enggak!"
"Yaudah minimal lepasin tangan Ibu dari telinga saya deh."
"Enggak!"
"Yaudah yaudah, silahkan tanya aja sepuasnya sama Blinda."
"Dari tadi saya juga lagi tanya ke Blinda, kamunya aja yang mulutnya kayak bebek. Berisik terus!"
Disha hanya mampu melipat bibir bawahnya, memandang gado-gado dengan bumbu kacang melimpah ruah yang seolah-olah tengah melambai-lambai padanya. Dan Disha berharap makanan di depannya kuat menunggu Disha menyelesaikan urusannya dengan Bu Inul.
"Sebenarnya, saya sempat berdebat dengan Disha, Bu. Lalu Bu Yani negur kami. Tapi kami malah berdebat lagi. Alhasil Bu Yani kesal dan kami pun dikeluarkan dari kelas." jawab Blinda. Jujur. Tanpa ada mengarang-ngarang sedikitpun. Ya walaupun, Blinda tak menjelaskan apa alasan kuat keduanya berdebat sih.
__ADS_1
Bu Inul mengangguk-anggukkan kepala, "Rupanya begitu. Saya kalo jadi kamu juga gak bakal kuat diem aja sih sebangku sama Disha. Ini anak tuh emang cocok buat diperangi sama mulut."
"Wah, Ibu lagi ngejek saya nih?"
"Saya ngomong fakta, bukan begitu Blinda?"
Blinda mengangguk. Membenarkan apa yang Bu Inul tanyakan. Sebab, berlama-lama dengan Disha memang sedikit membuatnya stres. Dan ketimbang membiarkan jiwanya terguncang begitu saja mending Blinda hadapi saja Disha dengan kalimat pedas. Toh, hati Disha pun sudah teruji kekebalan dan ketidakpeduliannya. Jadi, apa yang Blinda ucapkan pastinya hanya dianggap angin lalu. Pun, sebenarnya Blinda tidak benar-benar serius akan ucapannya.
"Nah, kayak gini dong berani jujur, gak kayak kamu Disha. Hobinya ngeles aja mulu."
"Loh, kalo saya ngeles terus berarti saya bakal jadi murid pinterlah, Bu." masih saja bisa melawan gadis itu.
Bu Inul kemudian melepas jewerannya. Disha bersorak gembira. Hendak kembali menunduk dan menyendok kembali gado-gado namun tangannya lebih dulu di cekal oleh Bu Inul.
"Meskipun Blinda sudah mau jujur, saya bakal tetap hukum kalian berdua." putus Bu Inul. Membuat Disha sontak mengembuskan napas kasar.
"Bu, masa kejujuran kami gak dihargai sih?"
"Kami? Blinda aja kali. Kamu mah ngeyel mulu jadi anak,"
"Iya deh iya, Bu. Terserah deh mau hukum apa aja, tapi kasih saya 10 menit buat makan gado-gado ya, Bu?" pinta Disha dengan mata berkaca-kaca. Dusta.
"Nggak! Ibu maunya sekarang. Lagian kalo kamu laper, kenapa gak anteng dulu di kelas. Nunggu istirahat juga paling gak lama. Kenapa malah nekat bolos kamu?!" cerocos Bu Inul. Kembali mengungkit kesalahan tadi. Ini alasan kedua kenapa Disha menyebut Bu Inul, Bu masa lalu.
"Nah kayak Blinda dong kamu Disha. Sopan sama saya. Nurut juga." Bu Inul membandingkan Disha dan Blinda secara terang-terangan.
"Iya iya, Bu Inul. Sekarang saya dan Blinda harus ngapain yah? Mohon penjelasannya." tak ada pilihan lain, ketimbang terus dibandingkan dengan sahabatnya sendiri, Disha pun bangkit. Menyatukan telapak tangan depan dada sembari menundukkan kepala. Pertanda begitu menghormati Bu Inul yang baik hati dan bijaksana.
"Nah kayak gini dong dari tadi, gak usah segala drama gado-gado. Kan hati Ibu jadi sreg," Bu Inul menaikkan sebelah sudut bibirnya.
"Jadi, ada kemungkinan di cancel, Bu, hukumannya?" masih saja curi-curi tawar pada Bu Inul.
"Gak ada cancel-cancel! Sekarang kalian berdua pergi ke perpustakaan. Beberapa jam lalu ada buku baru datang, dan kalian bisa ambil alih tugas dari penjaga perpustakaan yang sedang menata buku-buku sekarang."
"Maksudnya kami harus bantu penj---"
"Ambil alih."
"Hah? Jadi, yang nata-nata buku pure kami, trus penjaga perpus alias Pak Diksi dibiarin nganggur gitu, Bu?" Disha memperjelas tanyanya.
"Ya nggak nganggur juga. Dikira Pak Diki kerjaannya menata buku aja apa," timpal Bu Inul.
__ADS_1
"Tap---"
"Lakukan atau Ibu suruh kalian lari keliling lapangan sambil nyanyi Mars Wajib Belajar?" potong Bu Inul.
Langsung membuat Blinda menyetujui, menarik tangan Disha yang hendak buka suara lagi. Kalau saja gadis itu kembali menyatakan protes mau sampai kapan masalah itu terselesaikan? Yang ada mereka keburu tua di kantin sekolah.
"Blin, kok malah naik gue sih? Gue kan mau protes lagi," kan, apa yang Blinda firasatkan itu benar.
"Gak ada protes-protes lagi, dipikir masalahnya bakal kapan selesainya, Dis? Keburu mati di sana kita."
"Ucapan lo serem banget, Blin. Gak sampe mati jugalah." timpal Disha.
Blinda hanya memutar bola mata.
"Badan gue kok lemes banget ya, Blin." adu Disha. Sesekali tubuh gadis itu terlihat sempoyongan. "Gegara perut belum ketemu gado-gado sih ini,"
"Kalo jalan gak usah kayak orang mabok." tegur seseorang dengan suara berat yang tak asing bagi Disha. Dan mungkin menjadi suara favorit bagi seorang Blinda.
"Ngga, serius. Bu Inul kejem bener, masa iya gue gak dibolehin makan gado-gado sebelum dihukum? Kan perut gue juga butuh asupan." ujar Disha. Sembari menyender sejenak di tembok dengan kedua mata terpejam.
Gangga menyentil kening Disha, "Dihukum apa?"
"Kasih tau, Blin.."
Mendengar Disha berujar demikian, Blinda langsung gugup bukan main. Dengan nada awal sedikit bergetar, Blinda beritahukan apa yang harus mereka lakukan.
"Good luck!" hanya dua kata dan tepukan di kepala yang Gangga berikan pada Disha sebelum kemudian cowok itu melenggang pergi begitu saja.
"Modelan gitu yang lo suka, Blin?" heran Disha.
"Lo pernah bilang dia super peka," timpal Blinda.
"Iya juga sih, tapi kelakuannya kadang buat gue pengin lurusin usus dua belas jarinya!" ujar Disha yang hanya ditanggapi kekehan oleh Blinda. Kemudian gadis itu merangkul dan membawa tubuh Disha yang agak lemas itu menuju perpustakaan.
..._______________...
To be continued.
Assalamu'alaikum.
Yeay, Gangga akhirnya muncul lagi!
__ADS_1
Moga suka, guys. Janlup vote dan komennya.
See you☁