
“Aku benci melihat sikap mengaturnya. Seolah-olah dia penguasa. Dan ... dia tahu dirinya tengah diperdaya.” —— Efemeral
*****
...My Luki⚽...
Sayang..
Hari ini bisa nemenin aku futsal, gak?
Siapa bilang Disha sudah tak punya pacar? Jangan harap. Bermimpilah saja. Rio bukanlah pacar Disha satu-satunya. Dan tentu saja bukan sebuah rahasia umum jikalau Disha mempunyai pacar lebih dari satu. Gadis itu memang hobi memacari cowok, memutuskannya, lalu mencari yang lain lagi.
Tidak ada kata kapok dalam kamusnya.
Sembari mengeringkan rambut usai berkeramas, Disha mendudukkan pantatnya di tepian kasur. Tersenyum geli seraya membalas pesan dari sang kekasih.
^^^Bisa dong!^^^
^^^Em ... futsalnya jam berapa, Ki?^^^
Jam 8-an
Nanti aku jemput kamu yaa.
^^^Boleh-boleh..^^^
Aku tunggu depan gang yaa
Oke Sayaaaaang
See you❤️
^^^See you too^^^
Disha merebahkan tubuhnya sejenak di kasur. Pandangannya menerawang ke atas. Sepertinya menonton futsal bukanlah hal buruk. Ketimbang berdiam diri di rumah dan bertemu Arjuna terus-terusan. Disha lebih baik keluar dan mencari udara segar.
Lagipula, Disha juga rindu dan sedikit lupa akan bagaimana rupa wajah Luki.
Tok tok tok!
"Siapa tuh yang ngetuk pintu? Bunda gak mungkin sekalem itu ngetuknya." Disha yang hampir memejamkan mata itu mendadak terdiam dengan raut wajah penasaran.
"Ck, bodo amat. Gue mau bobo bentar ah, biar nanti bisa melek sampe tengah malem." decak Disha. Memilih membiarkannya. Gadis itu lalu mengambil guling, memeluknya erat lalu mulai kembali memejamkan mata.
Tok tok tok!
"Ih, siapa sih yang ngetuk?!" Disha sebal juga lama-lama. Walaupun tempo ketukan terkesan pelan namun gendang telinga benar-benar terganggu dan rencana tidurnya tentulah tak mampu dirinya lakukan.
"Jangan-jangan hantu..?" tebak Disha. Mulai merasa sedikit was-was dalam hati.
Tok tok tok!
"Waaaaah. Perlu gue buktikan secara langsung nih. Awas aja kalo beneran hantu, gue tinggal kabur lo yaa!"
Pada akhirnya berkedok rasa berani walau dalam hati rasa takut menggelayuti. Disha putuskan melepas guling sebal. Bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke pintu perlahan.
__ADS_1
Setelah menenangkan jemarinya yang sedikit gemetar, Disha pun memutar knop pintu perlahan.
"Awss!"
Disha refleks memejamkan mata kala 5 jari besar yang terkepal mengetuk jarinya cukup keras.
"Eh, maaf!"
"Maaf! Maaf! Lo pikir jidat gue pintu apa?! Kalo jidat gue biru gimana?! Lo mau tanggung jawab?! Mau beliin gue skincare sama nganter gue perawatan emang, hah?!"
"Ayo, gue anter sekarang."
Disha terdiam dengan mulut melongo. Sangat lebar. Yang kalau-kalau saja ada lalat yang tengah terbang dan tersesat, mungkin saja mulut Disha akan jadi tempat persinggahannya.
Belum reda keterkejutannya, cowok di depannya itu malah berulah lagi. Mengelus-elus dahi Disha yang siapanya Disha malah dibuat keenakan karenanya!
"Sakit banget? Sori, gue bener-bener gak tau kalo lo mau buka pintu." ujar Arjuna dengan nada yang sudah lumayan berbeda jauh dari yang digunakan cowok itu sore tadi.
Seolah tersadar akan kenyamanan sesat yang Arjuna berikan, Disha bergerak mundur satu langkah. Tangannya menumpu di kedua sisi pinggang. "Lo yang bego! Kenapa coba ngetuk pintu gue tapi lo diem aja?! Kan gue ngiranya lo setan!"
"Gue takut ganggu lo."
Disha berdecak, menepis tangan Arjuna yang masih mengelus-elus kepalanya. "Goblok! Bego! Tolol! Aduuh. Kan mulut gue kelepasan! Lo tuh yaa, aneh banget, ngetuk pintu terus-terusan tanpa ngomong ya sama aja lo ganggu gue!"
Arjuna nampak menggaruk tengkuk lehernya kikuk. "Maaf.."
"Ada syaratnya."
Sepertinya seorang Arjuna harus mulai terbiasa memenuhi persyaratan gadis itu kala membuatnya marah.
"Syarat apa?"
"Emang ada tukang jualan gado-gado malam gini?" Arjuna bertanya skeptis.
Disha beralih memindahkan kedua tangan ke sisi pinggang. Menatap penuh Arjuna dengan tatapan intimidasi. "Gini nih, kalo orang kaya disuruh beliin makanan. Gak mauan. Malesan. Oh, pasti udah kebiasaan ya, kalo apa-apa nyuruh orang."
Gak sadar sama uang diucapin nih anak..
"Oke, gue beliin. Tapi lo harus nemenin gue." putus Arjuna akhirnya.
"Loh? Enggak maulah. Sama aja lo tuh nyusahin gue yaa, tolong." sinis Disha.
"Gue gak tau tempatnya, Disha. Lo cuman nunjukin arahnya doang." bujuk Arjuna. Ia ingin Disha ikut. Sekalian menghabiskan waktu bersama. Siapa tahu, ingatan-ingatan yang terlupa kembali merebak ke permukaan.
"Sekali enggak ya enggak." kekeuh Disha. "Lo pinter. Punya hp. Di sana ada GPS, cari aja gih gerobak gado-gado terdekat di sini. Yaps ketemu! Gampang banget, 'kan?"
Meski sedikit sangsi, Arjuna anggukan kepala pertanda mengerti. "Gue coba cari."
"Nah gitu doooong! Baru namanya tun--- ehm!" Disha buru-buru memotong kalimat yang hendak bibirnya ucapkan.
"Tun? Tun apa, Disha?" Arjuna bertanya dengan kedua sudut bibir yang tertahan.
"Gak ada! Apa sih! Udah sana pergi! Buruan! Gue udah laper!"
Dan dengan sisa kewarasan usai mengenyahkan rasa malu dalam diri, Disha berbalik, menabok pipinya keras sebelum kemudian masuk dan menutup pintu kencang.
__ADS_1
"Gila! Gue nyaris gula karena tuh cowok!" racau Disha seraya membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap ke kasur. Gadis itu makin semangat mengubur wajahnya dalam bantal. Rasa malu sedikit tertinggal dalam relung dadanya. Bisa-bisanya dia hampir keceplosan tadi?!
TOK TOK TOK!
Ketukan dengan bunyi nyaris mirip gedoran itu sudah tentu dapat Disha tebak sumbernya. Tentulah sang ibunda yang lihat saja, beberapa detik kemudian pasti akan mengeluarkan suara emasnya.
"NADISHAAA! JANGAN TIDUR! SOLAT ISYA DULU! INGET KALO---"
"IYA BUNDA!" tanpa membiarkan Anita menyelesaikan teriakannya. Disha lebih dulu memotong. Katakan saja dia tak sopan.
"IYA APA?"
"IYA GAK USAH TERIAK-TERIAK. DISHA UDAH DENGER KOK."
"KAMUNYA JUGA TERIAK! SEKARANG BUKA PINTU!"
Disha berdecak, "Mau ngapain sih, Bunda?" tak urung gadis itu bangkit dengan malas-malasan dari kasur.
"Apa lag---"
Plak!
"Aduuuuh!"
Lagi dan lagi. Saat Disha belum membuka pintu secara keseluruhan. Kemalangan sudah lebih dulu menyapanya.
Sang ibu menghadiahi kepalanya dengan sebuah pukulan nikmat dari buku gelatik besar berisi 100 lembar. Bisa ditebak bagaimana kondisi kepala Disha sekarang. Panas dan nyut-nyutan.
"Allahuakbar, Bunda! Kepala Disha sakit iniloh! Kalo nanti kempes sebelah gimana?!" protes Disha seraya mengerucutkan bibir kesal.
"Gak usah banyak halu ya. Tolong!"
"Gak bisa, Bunda. Halu itu udah jadi salah satu hobi Disha yang harus ditekuni tiap--- AW! Aduh!"
"Nah. Kalo belum dipukul pasti bakal ngoceh terus tuh bibir! Sekarang Bunda mau tanya, kamu ada liat Arjuna gak?"
"Cari aja di lirik lagunya Inul Daratista, Bund."
Plak!
"Aduhhhh! Bunda! Dibilang sakit juga!"
"Bunda tanya serius, Dishaaa. Bunda tinggal solat sebentar, tadi tuh anak lagi masak di dapur. Tapi pas balik udah gak ada orang. Cuman ada telor ceplok yang gosong. Kayaknya buatan Arjuna. Tapi masalahnya, sekarang dia di mana?" Anita berujar dengan intonasi gemas. Sedikit dilanda cemas pula. Sebab, ia takut mendadak Arjuna pergi karena mendapat kepingan ingatannya.
"Y-ya mana Disha tahu, Bunda! Orang Disha dari tadi di kamar terus aja kok! Disha gak lihatlah, tuh anak ke mana! Lagian kali pergi ya pergi aja sih. Bagus 'kan kalo---"
Plak!
—————————
To be continued.
Assalamu'alaikum, guys.
Aku up dobel, mogaa suka :)
__ADS_1
Jgn lupa vote, komen, dan share yaaa. Makasih.
See you☁️