Efemeral

Efemeral
Part 1


__ADS_3

“Ada dua makna sebuah pertemuan. Pertama, untuk hal membahagiakan. Dua, untuk hal-hal penuh penyesalan.” —— Efemeral


✏✏✏


NAMANYA Disha. Lebih lengkap, Nadisha Maktika Pratiwi Juliansyah. Gadis dengan tinggi kisaran 160 cm itu punya wajah yang biasa saja. Tidak cantik namun bisa dibilang masuk ke kategori manis. Perilakunya? Tidak udah ditanya, bar-bar dan hobi menyusahkan orang lain.


Contohnya saat ini. Ketika Disha duduk leha-leha di pelataran rumah berbahan semen yang ada di lantai 2 sambil menikmati pemandangan yang cukup membuatnya senang.


Bibirnya berkedut jala mendapati sosok yang ditunggu-tunggunya menaiki tangga, mengarah mendekat.


"WIH! ASEEK! GUE KIRA LO GAK BAKAL BELIIN!" seru Disha kepalang senang hingga nadanya naik beberapa oktav.


Cowok itu, sahabat lelaki satu-satunya Disha bernama Gangga berdecak. "Kode lo overdosis!"


"Lah? Emang gue ngode apaan? Ngigo ya lo?" kilah Disha melirikan mata, nampak membantah apa yang Gangga katakan.


"Pikun? Lo post SW pengin gado-gado tuh di private buat gue doang 'kan?"


Disha menyengir. Gadis itu lantas membuka kresek yang Gangga bawa dan mengeluarkan isinya langsung.


"Tau aja lo, Ngga. Lagian, kenapa lo pake beli segala sih? Kalo gak mau beli ya nggak usah kali."


Putaran bola mata Gangga lakukan, "Karena gue peka."


"Avv so sweet!" dicubitnya lengan Gangga dengan gaya centil. "Lo emang terbaik dah."


"Serah lo!"


Selalu begitu, Disha memuji dan Gangga tak pernah mengucap sepatah kata terima kasih pun. Lantas dari pada membiarkan hati dipenuhi emosi, Disha memilih mengangguk-anggukkan kepala sambil membuka kertas minyak dan menghirup dalam-dalam aroma makanan favoritnya itu.


"Lo mau nggak? Nyicip aja ya?"


Gangga menoleh. Melirik sekilas Disha yang tengah mengunyah sambil menyodorkan sendok putih berisi timun tersebut.


Tanpa ragu, Gangga menggeleng.


"Oh ya udah deh! Gue udah nawarin lo yaa. Awas misal lo bilang gue pelit!"


Emang pelit kali.


Keduanya tak lagi terlihat obrolan. Lebih tepatnya hanya terdengar kecapan dari Disha yang begitu menikmati gado-gado dan diamnya Gangga yang mungkin tak berkesudahan jika Disha tak membuka suara dahulu.


Setelah satu bungkus habis dalam waktu kurang dari lima menit. Disha meremas kertas minyak itu lalu memasukkannya ke plastik.


Gadis itu mengusap area bibirnya dengan punggung tangan.


"Jorok, Najis." tegur Gangga yang melihat rutinitas sahabatnya tersebut.


Disha hanya mampu menyengir. Tak protes sedikitpun kala Gangga menyebutnya dengan Najis. Disha sudah kebal. Walau kadang diam-diam ingin sekali mencekik leher Gangga hingga sekarat dan tak bernapas. Dia masih waras untuk tidak melakukan semua itu.


"Ngga?"


"Hm." gumam Gangga. Kemudian terperanjat kaget kala Disha memeluknya tiba-tiba. "NGAPAIN LO?"


Mengerjapkan mata sok polos, Disha berujar dengan posisi masih memeluk Gangga. "Hm artinya hug me, 'kan?"


Kernyitan timbul di dahi Gangga. Selanjutnya cowok itu mendorong bahu Disha menjauh. Membersihkan sisi-sisi bajunya dengan tangan. Seolah bekas pelukan Disha itu ibarat kuman yang menempel. "Stres lo?"


Mendengus. Disha menarik lutut. Menekuknya sampai menyentuh perut. "Gue liat di tik-tok 'kan gitu, lo ish ... emangnya gue kuman ya?"


"Bakteri." sahut Gangga tenang.


Mendelik, Disha menggembungkan pipi. Pandangan gadis itu lurus ke depan. Ah, lebih tepatnya ke arah bawah sana. "Jahat!"


"Ngga, kira-kira ada berapa ikan yang hidup di situ?"


Arah pandang Gangga mengikuti telunjuk lentik Disha. Cowok itu bergidik. Tidak punya jawaban pasti akan pertanyaan Disha.


"Dih, kok gak tau sih? Itu 'kan empang punya bokap lo!" sungut Disha. Tak terima.


Menghela napas. Gangga melirik Disha sekilas. "Bukan punya gue 'kan?"


"Ah sudahlah, terlalu sulit bicara dengan anda, Juragan empang." Disha mengakhiri kalimatnya dengan senyum miring.


Ia bisa melihat jelas perubahan ekspresi Gangga. Cowok itu memang tak suka akan sebutan juragan empang yang Disha layangkan. Padahal, semua itu memang fakta. Ayah Gangga memanglah pembudidaya ikan. Nah, pemandangan yang sedari tadi Disha saksikan bersama Gangga adalah jajaran empang yang berlokasi tepat di samping rumah Disha. Tembok yang tidak terlalu tinggi sebagai pembatas itu membuat Disha leluasa melihat pemandangan kolam keruh dan beberapa manusia yang kadang menghabiskan waktu luang untuk memancing. Sederhana. Tapi membuat Disha ketagihan.


"Berisik."


"Yaelah, Ngga. Kenapa gak suka banget sih gue panggil juragan empang? Orang itu nyata 'kan? Ya emang empangnya punya bokap lo. Tapi nanti bukannya bakal nurun ke lo. Kan lo anaknya."


"Anaknya bukan gue doang." sahut Gangga. Benar adanya.


Sontak Disha langsung menolehkan kepala dengan gigi bergemelatuk, tangannya terkepal ke depan. Membayangkan jika wajah Gangga yang sedang ia remas. "Lo tuh ya hiiiiihh!"

__ADS_1


"Apa?" selalu begitu. Gangga dengan pembawaan tenang yang membuat Disha meski mundur.


Mengelus dada, Disha lantas berucap. "Sabar, sabar.. Orang sabar pantatnya lebar. Huuuuhh."


Tidak tahu saja Disha kalau dalam diam, Gangga tersenyum tipis. Cowok itu memang tak pandai berekspresi.


"Michi pengin ketemu lo." ujar Gangga kala mereka telah terbelenggu lama dalam diam.


Disha menoleh, matanya berbinar. "Kangen sama gue 'kan pastinya?"


Berdecak, Gangga menoyor kening Disha dengan jari telunjuk. "PD. Orang minta buat bantuin layangan."


Disha mengusap-usap kening dengan bibir mengerucut. "Lo 'kan bisa, napa minta tolong ke gue?"


"Siapa bilang gue bisa?" sahutan yang sontak membuat Disha tak mampu membendung tawa.


"Pffftt! Ahahaha! Badan udah segede gaban gini gak bisa buat layangan? Sehat antum?"


Cebikan tampak terdengar, "Diem lo."


Disha menggeleng-gelengkan kepala, prihatin. "Ck, ck, dari kecil loh, Ngga. Dan lo masih aja gak bisa buat? Helow! Lo kaya kenapa gak beli aja sih?"


"Salah?"


"Ya enggak sih, maksud gue gini loh ... kenapa adek lo gak ngemis---"


"Mulut lo!"


Disha menyengir. "Maksud gue ... kenapa gak minta aja yang gitu ke Om Azon atau kalo enggak minta dibeliin gitu."


Gangga mengangkat bahu. "Michi suka bereksperimen."


"Halah, kecil-kecil udah mau buat karya sendiri aja. Gue aja ogah-ogahan." timpal Disha.


"Malesan." cibir Gangga.


"Salah?" Disha bertanya.


"Emang. Lo cewek harusnya rajin. Biar nanti, pas udah punya suami gak kerepotan."


"Ngga, sehat lo?" Disha menempelkan punggung tangannya ke dahi Gangga yang mana langsung ditepis oleh cowok itu.


"Menurut lo?"


"Niat jadi perawan tua?" Gangga menebak.


Dipukulnya lengan Gangga keras. "Bukan gitu konsepnya, anj! Ngeselin lo!"


"Tapi ngangenin, 'kan?"


Disha menoleh, memasang mimik wajah yang begitu sulit diutarakan. Ingin mengelak namun apa yang Gangga bilang benar adanya. Ingin menyetujui namun Disha tahu, cowok itu pasti lempeng-lempeng saja.


"Huek! Muntah jigong sekebon!" pekik Disha. Berpura-pura muntah.


"Hamil lo?"


"ALLAHUAKBAR!! AMIT AMIT AMIT AMIT!" Disha mengetuk-ngetuk alas semen bergantian dengan perutnya berulang kali. "GUE MASIH KECIL WOI! MUKA MENGGEMASKAN GUE JUGA BELUM PUDAR! SEKATE-KATE LO BILANG YAA!"


Lagi, Gangga mengangkat bahu. Cowok itu menepuk celananya sambil bangkit.


Mendongak, Disha melontarkan tanya. "Mau kemana lo?"


"Pulang." Gangga menyahut pendek.


"Oh."


Belum sepenuhnya melangkah, Gangga kembali berbalik, membuat Disha terheran-heran.


"Ngapain balik lagi? Mau sungkem ke gue lo?"


Menggeleng, Gangga merundukkan badan sambil mengangkat sebelah sudut bibir. "Mau dibeliin testpack nggak?"



"GANGGA GILA! MUKA LO JELEK BANGET! MIRIP BIAWAK!"


Belum sempat melayangkan protes, Gangga sudah lebih dulu menuruni tangga dengan kecepatan ekstra.


Mengelus-elus dada, Disha mencoba mengatur napas sebaik mungkin. "Obatnya abis tuh anak, gilaaa."


Tiba-tiba telinganya mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Menoleh, Disha mengernyit kala melihat seorang wanita membawa cowok yang sekiranya seumuran dengannya masuk ke area rumah Disha.


"Siapa tuh?"

__ADS_1


Setahu Disha, ia sudah kenal semua dengan saudara-saudaranya. Baik dekat maupun jauh. Setidaknya Disha hapal muka mereka. Tapi tadi? Ah, sudahlah, masa bodo. Lebih baik Disha merebahkan diri saja di sini.


Baru saja kepalanya menyentuh tanah, teriakan sang ibunda tercinta lebih dulu membuyarkan niatnya.


"DISHA! TURUN SEKARANG!"


"GAK MAU, BUN! DISHA SIBUK!"


"SIBUK APAAN? BARING GITU DIKATA SIBUK? TURUN GAK KAMU?!"


Secepat kilat Disha membuka mata, menoleh kemudian menyengir kala melihat sang bunda sudah berada di ujung tangga dengan sapu lidi di genggaman. Kalau sudah begini, mau tak mau Disha harus menurut. Alhasil, dengan decakan sebal mendominasi, Disha menuruni tangga menghampiri sang bunda.


"Dari tadi kek turunnya! Gak malu apa sama tamu yang udah nunggu?" omelnya. Anita. Sembari memukul-mukul sapu ke telapak tangan dengan ekspresi sengit.


"Bunda yang emangnya gak malu? Teriak-teriak kayak di hutan. Kalo Disha jadi Bunda sih, malu yaa."


"Diem kamu!" Anita menjewer telinga Disha.


"Bunda kayak gini juga buat manggil-manggil kamu!"


"Duh, duh, yaudah, Bun. Lepas! Disha udah di sini juga." pinta Disha sambil mencoba melepaskan jeweran Anita. Nihil. Ia tak mampu.


"Ikut Bunda kamu!"


"Ya lepas dulu, Bun, ah!"


"Jaga sikap!" titah Anita usai melepas jeweran di telinga putrinya.


Di belakang punggung Anita, Disha memainkan bibir. Meniru apa yang Anita ucapkan. Tanpa suara. Biarlah ia dicap durhaka.


"Duh, maaf ya, Ran. Nunggu lama ya? Manggil anak aku dulu, soalnya rada budeg orangnya. Jadi susah," ujar Anita begitu enteng memaparkan sifat buruk anaknya sendiri. Sungguh, panutan.


Wanita dengan kemeja putih yang masih tampak cantik itu tersenyum. Makin menambah kadar kecantikannya. Membuat Disha refleks memegang wajahnya sendiri. Merasa insecure seketika.


"Nggaklah, Nit. Aku yang minta maaf. Takutnya ganggu jamu karena mendadak dateng." balasnya. Dengan suara lembut yang sangat beda jauh dibandingkan Anita.


Kekehan Anita terkumandang. Wanita itu menggeleng sembari menarik bahu Disha mendekat. "Justru aku seneng malah, Ran. Oh ya, kenalin, ini anak aku, Disha namanya."


Ranti nampak mengulum bibir. Lantas membiarkan tangannya dicium oleh Disha. "Udah tau aku, Nit. Saya Ranti, teman SMP Bunda kamu."


Disha hanya ber-oh ria, gadis itu tersenyum tipis sambil mencoba keluar dari rangkulan Anita yang menyesakkan.


Berhasil lepas, Disha malah digiring duduk ke sofa. Alhasil, ia menurut saja. Duduk berhadapan dengan sang tamu.


"Ada perlu apa nih ke sini? Tumben-tumbenan."


Ranti tertawa, "Salah ya, Nit?"


"Enggak. Soalnya dari yang aku tahu, kamu 'kan sibuk. Kerja sama ngurus anak-anak kamu."


"Si kembar udah gede, Nit. Lagi kuliah. Tinggal nih," Ranti melirik putranya lewat ekor mata. "Kenalkan namanya Arjuna."


"Ganteng ya, Ran." puji Anita. Tanpa malu. Membuat Disha mendelik kecil di tempatnya. Belum sadar umur kayaknya.


"Jun? Kenalin ini temen Mama. Tante Anita sama putrinya, Disha." kata Ranti.


Arjuna yang tampak masih meneliti kondisi sekitar itu noai kikuk lalu menebar senyum. Sialnya, begitu manis!


"Hallo, Tan. Aku Arjuna." ujar Arjuna sebelum akhirnya beralih menatap Disha yang tengah memutar bola mata. Terlihat malas sehingga gadis itu berpura-pura sibuk menggigiti kuku jarinya. "Dan kamu, Nadisha?"


Sedikit tersentak, Disha mengangguk sekali. "Iya."


"Tunangan aku, Ma?"


"HAH? Anjing! Apa?!"


———————


To be continued.


Assalamu'alaikum.


Opini kalian tentang part 1?


I hope you like it.


⚠ Terdapat kata-kata kasar, mohon jangan ditiru.


Vote sama komennya dung.


See you on next chapter {}


12/12/2022.

__ADS_1


__ADS_2