Efemeral

Efemeral
Part 10


__ADS_3

Tapi tunggu! Barusan, Blinda baru saja berpikir menjadikan Disha temannya bukan? Pertanyaannya cuman satu, apa gadis di depannya ini mau? Oh tidak lebih tepatnya, apa Disha sudi berteman dengan bocah kelebihan lemak sepertinya?


Blinda yakin Disha pasti menolaknya mentah-mentah.


"Hei, malah ngelamun. Mikirn apa sih lo?"


"Kamu mau jadi temen aku?"


Blinda beranikan diri melontar tanya. Setelahnya ia menundukkan kepala. Dalam-dalam. Sembari menggigit bibirnya kuat-kuat. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Blinda ini kenapa sih, kenapa melontar tanya retoris yang jelas-jelas hanya akan menyakitinya kemudian?!


"Maulah! Ngapain juga gue ngejar-ngejar lo kek sinetron India padahal ujung-ujungnya gue gak ngajak lo temenan. Rugi doooong!" sahut Disha.


Berhasil membuat Blinda senang bukan kepalang. Gadis itu bahkan langsung menarik cepat lengan Disha, membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya.


"Eh, eh?!"


"Makasih, makasih udah mau jadi temen aku."


Terkesan sederhana memang, namun bagi Blinda yang sedari dulu hanya belajar sendirian di rumah, ini adalah hal paling menyenangkan.


Blinda punya teman. Dan itu lebih dari sekedar menggembirakan.


"Woii, Blin! Ngelamun ya lo?!"


"Anjing!" refleks Blinda mengumpat kala Disha tanpa diduga datang, merangkul bahunya sembarang dengan cengiran lebar.


"Aduh aduh, _toxic_ amat tuh mulut! Diajarin siapa lo?" Disha menjauhkan diri. Menatap Blinda dengan kedua bola memicing. Tangan gadis itupun berada di sisi pinggang. Bak ibu yang sedang memergoki anaknya berkata kasar pada orang yang lebih tua.


"Lo."


Dan karena itulah, Disha tertawa. Mengurai tangan kemudian menepuk-nepuk pundak Blinda. Tanpa bicara pun, Disha mengakui. Benar adanya apa yang Blinda katakan.


"Padahal dulu, tutur kata lo sopan banget loh, Blin. Sekarang kok, bisa jadi kasar banget ya.." heran Disha.


"Bacot, buruan masuk mobil!" ketus Blinda.


Disha hanya menganggukan kepala dengan bibir mengerucut. Gadis itu masuk ke dalam mobil mengikuti Blinda. Lalu, ketika sampai di dalam, mereka pun melakukan rutinitas sebelum berangkat sekolah. Lebih tepatnya Disha, gadis itu membiarkan Blinda menoleh bedak di wajah serta mewarnai bibirnya yang sedikit pucat.


"Serius deh, Blin. Tadi lo diem aja gitu lagi mikirin apa sih? Gak mungkin mikirin utang 'kan ya. Jelas bokap lo tajir melintir, yakali anaknya malah ngutang." cerocos Disha. Masih penasaran akan Blinda yang diam saja tadi.

__ADS_1


"Gak ada," jawab Blinda. Singkat. Kalau saja Disha tahu apa yang Blinda khayalkan tadi, sudah tentu jelas Disha akan menertawakan dirinya.


"Halah, udah mulai berani bohong nih ke gue? Ay--- aduh, Blin! Bedaknya kena mata iniii!" Disha berseru heboh kala matanya malah Blinda taburi bedak.


"Makanya diem. Jangan banyak bacot!"


Disha memajukan bibir bawahnya saja sebagai balasan.


"Imbalan gue mana?" tagih Blinda. Seraya menatap alat-alat untuk merias wajah Disha kembali ke tempat semula serta menyuruh sopir agar melajukan mobil segera.


"Aduh, Blin.. gimana ya gue ngomongnya?" Disha terlihat menggaruk rambut dengan ekspresi tak enak. Walaupun begitu, gadis itu kelihatan sibuk ber-selfie ria di ponsel milik Blinda. Beda merk bos. Jelas ponsel milik Blinda jauh lebih lebih bagus ketimbang ponsel yang Disha punya.


"Apa? Ingkar janji lo?"


"Duh, berasa lagi selingkuh gue.."


"Hobi lo, kambing."


"Ya Allah, Blin.. gak gitu, em.. gimana ya, bocahnya lagi ngambek ke gue. Jadi, agak sulit gitu deh buat diajakin foto." pada akhirnya Disha pun berucap jujur.


Blinda menghela napas pendek. Menyenderkan punggung ke kursi sebelum kemudian memejamkan mata erat. "Dahlah, capek juga gue lama-lama."


Apa yang sebenarnya terjadi? Yaps. Seharusnya, jikalau memantau pada rutinitas seorang Disha, gadis itu tentulah akan berangkat sekolah bersama sang sahabat alias Gangga. Tetapi, berhubung cowok itu kesal akibat ulah Disha maka jadilah sekarang, Disha nebeng seorang Blinda.


Dan ya ... sahabat perempuan satu-satunya Disha ini memang sudah cukup lama menyukai sahabat laki-laki Disha. Singkatnya, Blinda menyukai Gangga. Tetapi, Gangga tak pernah rasakan yang sama.


Blinda selalu meminta imbalan pada Disha berupa sebuah foto Gangga. Entah itu sendirian atau bersama Disha. Blinda tak apa. Asalkan Gangga ada di sana. Nyata dan tak direkayasa. Maka Blinda akan menerima dengan hati bahagia. Tetapi ya begitu, entah Gangga pura-pura tidak peka atau memang enggan menanggapi rasa yang Blinda miliki, cowok itu lebih sering bersikap cuek dan datar. Berbanding terbalik kala cowok itu tengah bersama Disha.


"Sudah sampai, Non."


Mereka akhirnya tiba di sekolah. Blinda bergerak memasang earphone di kedua telinga sebelum kemudian turun diikuti oleh Disha.


Walaupun sudah menginjak jenjang SMA, masih banyak yang suka menggunjing bentuk tubuh Blinda. Diam-diam bahkan terang-terangan, mereka seolah lupa bahwa manusia diciptakan tak sempurna.


Blinda menatap lurus, tak perlu repot-repot melihat Disha yang sudah melingkarkan tangan di lengannya sembari sesekali melotot pada siswi yang mengejek Blinda dengan volume suara yang keras.


"Lo gak usah dengerin omongan mereka ya, Blin. Cukup jadiin aja omongan mereka batu loncatan. Biar lo bisa makin tinggi, tinggi dan mereka gak bakal bisa gapai sama hina lo lagi." kata Disha. Berhasil membuat Blinda menolehkan kepala. Sejenak. Lalu dua manik itu bertemu. Disha tersenyum lebar.


Dan Blinda masih yakin kalau bersama Disha, semuanya pasti akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Eh ada le mineral? Kebetulan banget gue lagi hauss." begitu sampai ke bangku mereka duduk yang tak lain tak bukan berdampingan, Disha mendapati sebotol le mineral yang masih tersegel rapi di atas meja. Gadis itu tersenyum senang, tanpa ragu membuka tutup botol lantas meminumnya.


"Langsung minum aja lo!" tegur Blinda.


"Ya mau gimana lagi, Blin. Haus gue."


"Gak takut di campur sama sesuatu apa, lain kali waspada dulu napa, Dis." Blinda ucap kekhawatirannya.


"Yaelah, Blin. Enggak mungkinlah. Ini paling dari cowok yang diem-diem demen sama gue. Jiaahhh. Manis bener.. tapi lain kali kasih yang lebih berbobot dikit kali ya, contohnya soju apa wine gitu.."


"Istighfar lo, setan!"


"Setan disuruh istighfar ya kebakar, bego!"


"Lo mengakui lo setan berarti?"


Disha sudah membuka mulut, hampir membalas pertanyaan Blinda. Namun seruan sang ketua kelas membuat kalimatnya tertahan di tenggorokan.


"WOI! BAKAL ADA MURID BARU MASUK KELAS KITA!"


"Cewek apa cowok, Gus?"


"Cowok!"


Disha menatap Blinda dalam diam. Tidak jadi membalas pertanyaan Blinda namun gadis itu membuka mulut untuk sebuah kalimat baru.


"Perasaan gue kok gak enak ya, Blin.."


"Bukannya ini bagus buat lo yang suka berburu cogan?"


—————————


To be continued.


Assalamu'alaikum.


Berburu cogan katanya ;) haloo gaesss. Semoga suka sama part ini yaw. Maaf kalo tidak sesuai ekspektasi atau malah terbilang aneh 🙏


Vote & komennya janlup, ehe.

__ADS_1


See you☁


__ADS_2