
“Manusia diciptakan beragam rupa. Bukan untuk saling mencela melainkan untuk saling melengkapi segala kurang yang dipunya." —— Efemeral
*****
Bocah perempuan berseragam putih biru itu melangkah turun dari mobil dengan ekspresi girang. Akhirnya. Setelah sekian lama. Dirinya bisa merasakan bagaimana rasanya bersekolah sungguhan.
Senyumnya terukir sangat lebar. Usai diberi kecupan di kening dan pipi oleh mama dan papa, gadis itu mengangguk-anggukkan kepala. Mendengarkan segala nasihat orang tuanya dengan setia kemudian mengakhirinya dengan memberi salah hormat.
Blinda Ratnaduhita begitu bahagia. Teramat. Hingga ia rasa perutnya penuh akan kupu-kupu. Berterbangan. Blinda tak mampu menjabarkan bagaimana perasaannya dengan gamblang sekarang.
Tetapi, semesta memang hobi memberi canda. Blinda yang semua bahagia bukan kepalang mendadak melunturkan senyuman.
Mengapa? Mengapa tak ada yang membalas balik senyuman yang ia tebar?
"Kenapa? Kenapa malah yang Blinda dapati sebuah tatapan cemooh, hina serta ejekan? Kenapa mereka melihat Blinda seolah-olah ia itu manusia aneh yang baru saja turun ke bumi?
Blinda tak tahu. Terlampau lugu. Gadis itu hanya mampu menundukkan kepala. Mendengar bermacam bisik kelewat keras yang kini mulai memenuhi telinganya.
"Dihhh, dia senyum-senyum lebar gitu, dikira cantik apa?"
"Paraaah, gak sadar diri hahahaha."
"Udah weh udah, maklumi aja tuh bocah badannya segede kuda nil."
"Loh kenapa?"
"Tiap hari kan makan mulu. Hahahaha!"
"Ohiya hahahaha!"
"Lebar banget tuh badan, abis berendam pake minyak jelantah kali yaaa?"
"Hust, jangan gitu. Ntar dia denger, trus nangis.."
"Biarin. Palingan nambah jelek kalo tuh anak nangis, hahahah!"
Benar saja. Blinda kini mulai meneteskan air mata. Blinda tahu. Sangat amat tahu dan sadar betul bagaimana bentuk tubuhnya. Blinda bukan gadis cantik dengan tubuh tinggi semampai. Blinda hanya gadis pendek dan ... gemuk. Berat badannya bahkan berada di angka 50 padahal umurnya masih 12 tahun.
Tetapi, apa semua itu menjadi patokan orang-orang dalam menilai seseorang? Mengapa harus dengan mengukur berat badan?
__ADS_1
Mengapa mereka tak lebih mementingkan hal yang lebih penting dari itu? Contohnya ketulusan. Apa mereka tidak berpikir bahwa perkataan mereka menyinggung relung hati Blinda?
Apa memang seperti ini suasana sekolah yang sebenarnya?
Brak!
Sedang asyiknya melamun, Blinda tak sadar jika dirinya berhenti tepat di tengah koridor. Gadis itu jelas menghalangi lalu lalang siswa dan siswi SMP Merpati. Dan karena itu pula, seseorang menabrak tas serta punggung Blinda cukup keras.
Blinda masih berdiri tegak di tempat, sementara seseorang yang menabrak Blinda malah jatuh. Menubruk lantai keras.
Semua itu jelas makin membuat atensi penghuni koridor terarah ke Blinda.
"Anjirr, ngalangain jalan aja tuh anak baru!"
"WOII, KALO BERHENTI LIAT-LIAT SEKITAR DONG! DIPIKIR TUBUH LO ITU GAK NGALANGIN JALAN APA!"
"Bener-bener gak tau diri!"
"Kasian si Disha tuh. Pasti sakit banget abis nabrak kuda nil."
"Malahan diem aja tuh anak, nangis juga lagi. Cengeng banget!"
Niat hati, Disha ingin marah. Menyumpah serapah sebab karena gadis berlemak berlebihan di depannya ini, gadis itu sampai jatuh. Pantatnya panas dan nyeri membentur ubin koridor yang tidak ada lembut-lembutnya sama sekali.
Tetapi ... mendengar bermacam umpatan, serapah dan ejekan yang dituju untuk gadis itu hingga sang gadis yang dikata murid baru itu menangis terisak-isak, Disha jadi tak tega.
Disha juga perempuan. Tidak seharusnya mereka mencela sampai sebegininya. Disha hanya terjatuh biasa. Tidak mati ataupun sekarat. Pun ini bukan sepenuhnya salah si murid baru, Disha yang terlalu terburu-buru dan teledor sebab belum mengerjakan PR. Alhasil, ia berlari kencang tak memperhatikan lingkungan sekitar dan tabrakan ini pun tak terelakkan.
"Hei, gue gak papa, kok." Disha coba buka suara lebih dulu. Gadis itu bangkit seraya mengusap-usap pantatnya yang masih sedikit nyeri.
"Gue gak papa kok, jangan nangis.."
Disha perlahan sentuh tubuh murid baru yang bergetar hebat, namun yang ada tangan Disha malah ditepis begitu kencang. Disha sampai terkaget sendiri beberapa detik.
Sampai kemudian Disha sadar, murid baru itu sudah berlari menjauh. Tidak ada pilihan lain, Disha pilih mengejar gadis itu.
Disha nyaris menghela napas kecewa kala tak mendapati jejak gadis itu, namun samar-samar telinganya menangkap suara seseorang yang tengah menangis.
Tidak salah lagi. Itu pasti si murid baru! Disha berjalan perlahan. Mencoba sebaik mungkin tidak menimbulkan suara lalu menghampiri si murid baru yang tengah duduk di sisi kanan tangga.
__ADS_1
"Kenapa lo malah kabur? Gue nakutin lo ya?" Disha berjongkok tepat di depan Blinda.
Blinda nampak berhenti menangis sejenak. Tubuhnya menegang. Wajah gadis itu terangkat perlahan dan terpampanglah wajah Disha yang tengah tersenyum meringis di depannya.
Kenapa Disha meringis usai menatap wajahnya? Apa wajah Blinda memang sejelek dan semengerikam itu? Blinda kembali mengubur wajahnya di lipatan lutut.
"Eh, eh, muka gue serem kah? Serius.. sori kalo gue buat lo nangis gini."
Blinda mengernyit. Mengapa malah gadis di depannya ini yang mengaku bahwa wajahnya seram? Blinda benar-benar tak paham.
Blinda refleks menggelengkan kepala. "Bukan karena kamu."
"Hah? Serius?! Untunglah, gue kira lo nangis karena gue. Bisa mati muda gue digrebek emak bapak lo kalo sampe gue diaduin karena buat lo nangis kejer gini. Btw, lo nangis karena apa deh?"
Cerewet. Itu yang terlintas di otak Blinda saat mendengar kalimat panjang tak berbeda yang keluar dari bibir Disha. Gadis itu tanpa sadar mendengus. Mulai mengangkat kepala kemudian memajukan tas dan mengambil sapu tangan dari dalam sana.
"B-blinda ya?" terdengar terpatah-patah kala Disha melontar tanya skeptis pada Blinda.
Blinda mengangguk, gadis itu mulai membersihkan wajahnya dengan sapu tangan. Tak heran akan Disha yang mengenal namanya sebab di sapu tangan yang Blinda kenakan memang tertera jelas namanya.
"Cantik banget nama lo. Kayak orangnya. Imut," celetuk Disha. Tidakk nyambung sama sekali. Tapi semua itu berhasil membuat pipi Blinda bersemu merah.
"Gue Disha. Nadisha Maktika Pratiwi Juliansyah. Anaknya Bunda Anita sama Ayah Angga. Oh ya gue puny---"
"Kamu cerewet." potong Blinda. Sedikit kesal mendengar suara Disha yang terus-menerus bicara.
Mencoba untuk tidak marah, Disha putuskan menggaruk rambut sembari meringis kaku. "Hehe, gue emang aslinya gini, Blin."
Blinda mendengus tanpa sadar. Sepertinya asyik jika ia punya teman seperti Disha. Hari-harinya pasti tidak lagi sunyi. Ramai tiada henti. Tapi minusnya, Blinda harus sering-sering ke THT setelah ini, mengingat betapa berisik dan cerewetnya gadis di depannya ini, tentu gendang telinganya akan sedikit oh tidak, sering bermasalah.
—————————
To be continued.
Assalamu'alaikum, guys.
Kukasih flashback sebelum Disha dan Blinda berteman ya?
Semoga syukaaak 💜
__ADS_1
See you☁