
"Yuna, Kak!" koreksi Nayaka cepat.
"Ah, ya itu! Gue boleh pinjem Yuna bentar nggak?"
"Buat apa?" ekspresi judes Nayaka terpampang jelas. Bocah itu memang anti melihat Yuna dipegang oleh orang lain.
Disha menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Em ... pokoknya gue mau pinjem Yuna. Sebentar doang kok,"
"Gak."
"Ish, Nay---ekhem! Aka yang baik, lucu, gumusss tiada kiraaa, boleh yaa?" pinta Disha. Terpaksa mengeluarkan jurus menjijikan. Memasang puppy eyes dan menyatukan telapak tangan depan dada.
"Boleh, tapi harus ada imbalannya." Nayaka sedikit terbujuk melihat ekspresi mirip orang menahan berak milik Disha.
"Apa? Apa? Sebut aja!"
"Beliin pizza satu box."
"Heh, lo masih bocil udah belagak mau makan pizza? Usus lo gak kuat, meledak entar!" sela Disha. Memprotes apa yang bocah itu inginkan.
"Bukan buat aku, tapi buat Yuna." kilah Nayaka.
Disha mendelik di tempat, tak menyangka akan ucapan bocah 10 tahun di depannya. "Gabut banget lo sampe nyuruh gue beli pizza buat nih anjing?"
"Kalo gak mau ya gak usah!" cibir Nayaka. Hendak membawa anjing peliharaannya meninggalkan Disha.
"Eh, Iya! Iya! Gue mau, deh." masalah pizza bisa dipikir belakangan. Disha langsung menyetujui cepat.
"Buktiin dulu."
"Buktiin gimana? Gue gak mungkin beli pizza sekarang 'kan? Gak nyempet," elak Disha.
"Pesen lewat _online_ 'kan bisaa."
"Gue gak bawa---"
Benda tipis tersodor di hadapan Disha cepat, "Hp, 'kan? Nih, pake punya aku!"
"Hadeh, hadeh, yaudah sini." Disha menerima dengan ekspresi kesal. Kira-kira sudah berapa lama ia menguras waktu demi membujuk bocah ajaib di depannya ini? Sudahlah, Disha hanya perlu menyelesaikan semua ini dengan cepat. "Gak percayaan banget lo, astagaa."
"Nih udah, 'kan?" Disha menunjukkan bukti pemesanan.
Senyum yang terbit di bibir Nayaka berubah menjadi ekspresi syok kala tanpa ba bi Bu Disha sudah mengambil alih Yuna dan membawanya pergi.
"Baru mau aku kasih tahu undang-undang Yuna." lirih Nayaka. Mengangkat bahu acuh, Nayaka putuskan menekan nomor seseorang di ponselnya.
"Hallo?"
Nayaka tak membalas.
__ADS_1
"Hallo?!"
Nayaka masih bungkam.
"Hallo?! Gak dijawab, aku matiin sekara---"
"Jangan!" Nayaka akhirnya bersuara. Bocah itu menggigit bibir bawahnya, gugup. "Aku cuman mau bilang, kalo aku udah pesenin pizza buat kamu."
"Serius?!"
Nayaka mengangguk antusias tanpa sadar. "Nanti aku---"
Tut!
Panggilan sudah lebih dulu dimatikan.
...πππ...
Sementara itu, Disha tengah bersenandung ria sembari menatap beberapa kali anjing di sampingnya. Gadis itu tak bisa menahan senyum membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
Langkahnya memelan kala ia sudah sampai di taman. Disha bisa melihat jelas Arjuna masih di sana. Dengan posisi sama. Sempat terbersit rasa tak tega namun Disha menepisnya cepat-cepat. Masa bodo! Ini demi kepentingan masa depannya. Disha harus bertindak segera.
Gadis itu membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan Yuna. "Denger ya, njing! Lo udah gue bayar pake pizza. Jadi, lo harus nurut sama apa yang gue omongin sekarang."
Anjing itu tampak membuka mulut, hendak menggonggong namun Disha sudah lebih dulu memberi pelototan yang syukurnya mampu membuat Yuna diam.
"Lo liat tuh cowok?" Disha menunjuk Arjuna dengan telunjuknya, Yuna refleks mengangguk. "Gue mau lo ke sana. Gigit tuh cowok, terserah mau bagian apa. Terus kejar cowok itu, sekencang, secepet apapun kemampuan lo. Jangan sampe lepasin tuh cowok, ngerti?"
Maka, usai melangkah pelan beberapa jengkal hingga berada cukup dekat dengan Arjuna. Disha melepas tali yang mengikat Yuna. "Lakukan tugas lo, Yuniiiii!"
Awalnya, Disha memang senang melihat anjing itu berlari. Tapi, baru beberapa langkah Yuna malah berbalik membuat Disha melotot seketika. Bingung sekaligus panik.
Mengapa anjing itu malah jadi mengejarnya?!
Sialan. Sialan. Sialan. Disha hanya bisa berlari sambil merutuk dalam hati. Ini semua pasti karena Disha salah memanggil nama anjing itu!
"AAAA! HEHH! BUKAN GUE YANG HARUS LO KEJAR ANJING!!"
Teriakan dan gonggongan Yuna yang jauh dari kata lirih membuat atensi Arjuna teralih. Cowok itu menoleh. Menemukan Disha yang tengah susah payah berlari, menghindari kejaran seekor anjing.
"WOIII! TOLONGIN GUE!! ANJIR!! MALAH BENGONG DOANG LO SETAN!" omel Disha kala mendapati Arjuna hanya diam. Melongo di tempat.
"KAMU LAGI APA?" tanya Arjunya, bingung bercampur polos.
"LAH SETAN! LO GAK LIAT GUE LAGI DIKEJAR ANJING APA?! HAH! BEGO LOO!" balas Disha. Berteriak kesetanan. Gadis itu masih sibuk memutari area taman guna menghindari serangan yang mungkin bisa saja Yuna berikan.
"MAU AKU BANTU?!"
"KAGAK USAH DITANYALAH TOLOL!"
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban Disha barulah Arjuna bergerak. Cowok itu berlari usai memungut sebatang kayu asal. Dengan hati-hati Arjuna menyalip langkah Yuna.
Setibanya di dekat Disha, cowok itu menodongkan kayu sembari menepuk-nepuk punggungnya.
"Lo ngapain kek gitu?! Bengkek gak tau tempat aja, dasar remaja jompo!" cibir Disha sebal. Tak paham akan isyarat yang Arjuna berikan.
Arjuna nampak mendengus sebal, "Naik ke punggung aku cepet!"
"O-oh."
"Buruan Nadisha!"
Setelah ngelag beberapa detik, Disha melompat naik ke punggung Arjuna. Sempat terdengar umpatan Arjuna tapi setelahnya cowok itu bergegas bangkit dan membawa Disha menjauh usai melempar kayu sembarang ke samping.
"Masih ngejar nggak?" tanya Arjuna. Di sela-sela dirinya berlari.
"MASIHHH! HUAA! BURUAN JUUN!"
Pelukan di leher Arjuna berubah menjadi seperti cekikan, semakin menjelaskan bahwa gadis itu sedang ketakutan bukan kepalang. Untung saja Arjuna tak memprotes apapun.
Akhirnya setelah melewati jalanan dan menjadi tontonan gratis para penghuni komplek. Arjuna memelankan laju larinya kala Disha menyeru bahwa Yuna tak lagi mengejar.
Tepat di belokan menuju rumah Disha, cowok itu berhenti mendapati punggungnya di pukul keras oleh Disha. "Stop!"
"Hah, dasar anjing gak punya otak!" decak Disha. Turun dari gendongan Arjuna dengan kaki gemetar. Gadis itu bahkan bersandar di tembok karena kelelahan dengan mata terpejam.
Semua tak berlangsung lama.
Mendadak, Disha mendapati benda nyaris sedingin es menyentuh area atas wajahnya. Rupanya Arjuna. Dengan lancang cowok itu sedang membenarkan letak poni dan mengusap keringat di dahi Disha pelan.
Disha membuka mata dengan napas tertahan. Apa yang akan cowok ini lakukan padanya?!
"Jadi ... kita itu apa, Nadisha?"
Di tengah-tengah deru napas cowok itu yang masih berantakan, sulit diatur dengan baik, sempat-sempatnya Arjuna menagih janji seorang Disha.
...βββββββββ...
To be continued.
Assalamu'alaikum, guys.
Apa yang kamu lakuin kalo ada di posisi Disha pas dikejar Yunaπ
Pas dikibulin Nayaka?
Pas dibaperin mendadak sama Arjuna?
Vote sama komennya jangan lupa yaa.
__ADS_1
See you βοΈ