Efemeral

Efemeral
Part 8


__ADS_3

"Haha hehe! Berdiri kamu! Mau lesehan terus sampe diajak main suster ngesot?!"


Melihat mimik muka mengerikan khas Anita, Disha lantas bergegas bangkit cepat. Setelahnya, Disha melangkahkan kaki mendekat ke arah bundanya dengan cengiran yang tak kunjung pudar.


"Abis kencan sama siapa kamu? Cantik banget.." Anita mengusap kepala Disha seraya memasang senyum lembut di wajahnya yang mengeras tadi.


"Sama Luk--- Akh! Bundaa!"


Dan ya, beberapa detik setelahnya, ekpresi Anita kembali ke semula. Mengeras dengan emosi menggebu dalam dada. Wanita itu juga langsung memindahkan posisi tangannya ke telinga Disha dan menjewer kuat-kuat di sana.


"Dasar anak bandel! Udah berapa kali Bunda bilang hah?! Putusin semua pacar kamu! Putusin Disha! Putusiiiiiin!" geram Anita. Kemudian tanpa ragu, wanita itu menarik Disha masuk. Masih dengan posisi tangan berada di telinga gadis itu.


"Bunda kenapa maksa banget sih? Ak--- Akh! Sakit, Buuun!" baru saja Disha mau menimpa. Anita malah makin semangat menjewernya.


"Duduk kamu!"


Disha langsung terhempas duduk di sofa usai Anita mendorongnya kuat ke sana. Untung saja empuk!


"Kamu tau apa lagi kesalahan kamu selain kencan diem-diem hah?!" Anita melontar tanya.


Disha mendongakkan kepala seraya mengelus telinganya yang pasti sekarang sudah berwarna merah padam, "Yo ndak tau, kok nanya saya?"


"Disha kambing! Bunda nanya kamu serius-serius yaa!"


"Ya, maaf, Bun. Lagian Disha beneran gak merasa punya dosa apapun lagi selain pergi sama Luki kok. Emang Disha ada salah lagi apa? Nggak deh, Bun. Pasti Bunda 'kan yang ngada-ngada? Hayo ngakuuuuu."


Anita menghela napas kasar sembari memijit pelipis yang pening mendadak, wanita itu kemudian beralih menaruh kedua tangan di sisi pinggang. Kemudian matanya kembali melotot tajam. "Kamu! Bukannya udah Bunda suruh buat cari Juna! Kenapa malah perlu keluyuran hah?!"


"Ya ngapain di cari sih, Bun. Udah gede juga tuh anak." balas Disha, enteng.


"Gede gede mbahmu! Dia itu tunangan kamu, Disha! Bisa-bisanya kamu biasa aja pas dia hilang! Malahan kamu enak-enakan kencan! Ya Allah.. gak tau Bunda tuh otak kamu isinya apa!"


"Ya---"


"Tan! Juna gak nemuin Disha! Dia udah balik atau---" sosok berambut acak-acakan itu mendadak masuk dari arah luar, deru napasnya terlihat berantakan dan sorot mata cemas yang semula menggantung di kedua mata mendadak melenyap kala Arjuna menemukan sosok Disha di sana. "Huft.. syukurlah, udah pulang."


"Ya Allah, Jun.. kamu abis nyari ke mana sih? Kok keringatnya banyak banget gini, malem-malem loh, Jun." heran Anita. Melembutkan suara lantas menggiring cowok itu untuk duduk. Di sebrang Disha.

__ADS_1


"Ya muter-muter gitu, Tan.. gak jauh-jauh kok." balas Arjuna sekenanya.


"Masa? Haduh! Maafin anak Tante yang gak tau diri ini yaa. Sebentar Tante mau ambilin minum buat kamu dulu, ngos-ngosan banget napas kamu tuh."


"Bun, Disha ambilin juga dong. Mau sirup marjan yang melon!" seru Disha.


Anita tak menggubris, wanita itu hanya melirik Disha tajam kemudian berlalu menuju dapur.


Sisalah kedua sejoli yang terdiam bersamaan di ruang tamu. Disha yang biasanya rame kala itu hanya mampu menyenderkan kepala ke sofa dengan kedua mata terpejam.


"Lo abis ke mana, Nad?"


Sumpah. Sumpah. Sumpah! Disha kaget bukan main kala Arjuna kini sudah berpindah posisi. Menjadi duduk di sampingnya. Niat hati ingin mengumpat sebab detak jantungnya terpompa cepat, namun yang terdengar hanyalah hembusan napas pendek lelahnya.


"Bukan urusan lo."


"Kening lo kenapa memar gini?" bukannya berhenti bertanya sebab Disha lontarkan dengan nada pedas, cowok itu malah berulah. Dengan santainya, menyentuh dahi Disha yang terasa nyut-nyutan sedari tadi.


"Jatoh di depan." cuek Disha.


"Mau gue kompres pake es batu, nggak?"


"Berapa kali gue bilang, ini. Bukan. Urusan. Lo! Jadi stop bertingkah seolah-olah lo khawatir sama gue!" Disha muak. Sungguh. Kehadiran Arjuna benar-benar membuatnya selalu mendapat masalah. Padahal Disha hanya ingin melakukan rutinitas biasanya lalu pulang dengan hati bahagia, tapi karena cowok di depannya ini! Disha bahkan harus menahan malu sebab perutnya berbunyi keroncongan. Tepat di depan wajah seorang Arjuna. Sialan sekali!


"Lo laper?" tanya Arjuna. Sembari menahan senyuman geli yang hendak terbit.


"Bacot, ketawa ketawa aja." sinis Disha. Melihat jelas ekpresi cowok di depannya.


"Maaf.. maaf.. lo mau makan gado-gado yang gue beli tadi nggak? Tapi gue gak yakin rasanya masih enak.." Arjuna berujar seraya menggaruk tengkuk. Bukannya tak yakin akan cita rasa gado-gado yang dirinya beli tadi namun Arjuna membeli gado-gado kisaran 1 seperempat jam yang lalu. Jadi, mungkin gado-gado itu sudah ... ya begitulah.


Disha mencebikkan bibir. Mengejek Arjuna terang-terangan, "Kenapa? Lo pikir gue itu lo? Gak mau makan makanan yang udah lama kebeli? Sori, perut gue emang semurah itu. Beda sama perut lo yang levelnya makan makanan cepat saji di resto-resto."


"Gak usah dengerin omongan anak kambing itu, Jun! Nih mending kamu minum aja dulu." Anita tiba-tiba datang. Membawa dua gelas seraya mengusung senyum manis teruntuk Arjuna dan delikan tajam untuk sang putri, "Minum sampe habis. Biar pasokan nyinyir di tenggorokan kamu jadi manis."


Tak urung, Disha hanya mampu menyengir. Mengambil gelas miliknya lalu menyeduhnya sampai tandas. Tanpa jeda. Dan semua itu disaksikan oleh Arjuna yang sedari kapan, kedua bola matanya tak berkedip. Menatap Disha lekat.


"Minumnya yang anggun dikit napa, Dis. Gak liat muka-muka _ilfeel_ Juna kamu?"

__ADS_1


Disha memutar bola mata. Mengabaikan pernyataan sang bunda. Gadis itu malah kini asyik menjilati telunjuknya yang baru saja menjelajah ke dinding dalam gelas. Membersihkan sisa-sisa sirup yang masih menempel.


"Haduh, Tante gak bisa berbuat banyak, Jun. Tante ngantuk, mau tidur duluan. Kamu kalo ngantuk langsung tidur aja, gak usah ngurusin si Disha." usai memberi petuah pasrah, Anita akhirnya melenggang pergi masuk kamar setelah mendapati Arjuna mengangguk.


"Masih laper gak?" Arjuna putuskan bertanya. Ketimbang keduanya terlihat canggung.


"Masihlah! Pake nanya lagi! Cowok bukan sih lo?! Gak peka amat, beda banget sama---"


"Sama siapa?" Arjuna penasaran sebab Disha tak lagi melanjutkan kalimatnya.


"Gak penting, sana ambilin gado-gado gue, huss huss!" Disha mengibas-ngibaskan tangan, mengusir Arjuna pergi.


Menurut saja, Arjuna lantas mengambil gado-gado di dapur. Tadi dirinya menaruh gado-gado tersebut di atas saji. Setelah mengambil sendok serta piring dan meletakkan gado-gado ke atasnya, Arjuna lantas kembali menuju ruang tengah.


Meletakkan piring di atas meja, tanpa banyak bicara, Disha membuka karet pembungkus gado-gado, kemudian memakannya dengan lahap.


Arjuna menatapnya lekat dari samping, melihat bagaimana rakus dan berantakannya Disha saat menyantap makanan.


Sebenarnya, apa yang membuat cowok itu jatuh cinta pada gadis itu sehingga mereka bisa terlibat pertunangan? Dilihat dan diteliti secara dalam, Disha tentu bukanlah sama sekali tipe Arjuna. Mulut gadis itu terlalu pedas. Tingkahnya terlalu bar-bar. Aneh. Arjuna makin bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa Disha dan Arjuna bertunangan sementara Disha terlihat sangat amat membencinya?


Dan juga, bagaimana mereka bisa terlibat pertunangan sedangkan hanya ada cincin silver yang Arjuna kenakan sebagai bandul kalung sementara Disha tampak tak memakainya? Apa benar, Disha benar-benar membenci kehadirannya? Atau bagaimana?! Kenapa susah sekali membuat ingatan dalam kepala Arjuna itu muncul?!


"Disha..?" panggil Arjuna. Disha hanya membalas dengan deheman karena mulutnya masih sibuk mengunyah, "Boleh gue cium lo?"


Entah setan mana yang merasuki Arjuna malam itu, Disha sampai tersedak hebat, tak berkesudahan.


—————————


To be continued.


Assalamu'alaikum.


Jun, sabar, Jun, mulut Disha emang pedes banget. Hobinya aja makan gado-gado :)


Apanihhh cium-cium?😭


Vote sama komennya, manteman jangan lupa yaa.

__ADS_1


See you☁


__ADS_2