
"Lo gak papa?"
Disha menganggukan singkat. "Gak papanya gue sampe muka berubah total gini ya, Blin. Iya gak papa kok. Gak papa banget gue mah,"
Blinda menggaruk tengkuk, bingung. Sepertinya ia salah bertanya.
"Nak Blinda biarin aja anak kambing ini nyeloteh, nanti juga jontor sendiri bibirnya baru diem." Anita nampak bangkit. Mendekat ke arah mereka sebelum kemudian menatap Blinda penuh senyuman. "Tante nitip anak kambing ini duluan yaa."
Blinda mengangguk. Menyetujui.
"Kamu gak usah bandel lagi sakit gini, tiduran aja di sini, ditemenin Blinda. Gak usah segala ke taman kalo ujung-ujungnya kamu mewek gak jelas. Paham?" Anita memberi petuah pada Disha. Tak pelak, wanita itu mendaratkan kecupan di kening putrinya.
"Yaudah sih ngapain pake cium-cium segala!" kesal Disha. Walau dalam hatinya ia rasa berbeda.
"Idih, gak usah pede ya kamu! Bau prengus gitu aja sombong! Udah Bunda pergi dulu, jagain ya, Blin. Jangan sampe lepas." Anita berpesan sebelum kemudian pergi dari kamar Disha.
Niatnya wanita itu akan pulang ke rumah untuk mengambil beberapa baju dan mengurus pekerjaan yang terlantar sebelum nanti kembali ke rumah sakit menemani sang putri.
"Dikira bayi kali gue sampe harus dijagain,"
"Emang! Lo itu bloon!" mendadak Blinda berujar kasar pada Disha.
"Apa lo bilang?!"
"Ya bener kan? Bloon, bodoh, bego, tolol! Bisa-bisanya udah tau yogurt ada kedelainya malah lo teguk sampe abis?! Itu lo lagi kebanyakan utang apa gimana?! Masa harus ditempel tulisan gede dulu baru lo nyadar kalo itu ada kandungan kedelainya? Atau harus gue bawa ke lab dulu biar jelas apa aja kandungannya?! C'mon Dis! Be safe! Kesehatan lo tuh nomer 1! Bukan malah asal kenyang lo mau minum dan makan apapun! Ngerti lo?" cerocos Blinda panjang lebar. Kembali ke stelan pabrik. Begitulah Blinda kala khawatir melanda. Apa saja keluar dari mulutnya. Cercaan, makian, umpatan, tidak mempedulikan keadaan sekitar, Blinda seolah-olah menumpahkan segala emosinya lewat kalimat panjang yang nyaris mengalahkan panjangnya rel kereta api.
"Iya, iya, Bu Blinda. Saya mengaku salah." Disha memilih menurut. Patuh serta mengakui kesalahannya. Karena memang betul kali ini dia yang melakukan kesalahan. Disha ceroboh. Dan ia sadar penuh akan itu.
"Ngaku salah aja gak bikin lo sehat kan?! Lo tuh ya, udah dibilangin berulang-ulang kal---"
"Junaaaa!"
Blinda langsung menghentikan kicauannya. Gadis itu terdiam. Melotot pada Disha sebelum kemudian menoleh, menatap sosok yang baru saja Disha panggil.
Yaps, tak lain dan tak bukan memanglah seorang Arjuna Sakti Pradigta.
Kali ini Disha amat bersyukur akan kedatangan seorang Arjuna. Sebab cowok itu, Blinda bisa berhenti menceramahinya.
Disapa dengan senyum lebar Disha membuat Arjuna agak gugup, cowok itu mendekat perlahan. "H-hai, Nad.."
__ADS_1
Blinda berkaca-kaca pinggang langsung. Memberi Disha tatapan haus penjelasan. "Katanya lo udah putusin semua pacar-pacar lo? Ini..?"
Disha hendak buka mulut. Menjawab. Namun Arjuna lebih dulu mengulurkan tangan, mengenalkan dirinya pada Blinda. "Gue Arjuna, tunangan Nadisha."
Blinda menyambut uluran tangan itu dengan segan, "Blinda."
"Salam kenal ya, Blinda." Arjuna lantas mengangkat kresek yang sedari tadi ia pegang. Persis ke depan seorang Disha. Disha menatap heran kresek itu. Hidungnya kembang kempis sebelum kemudian matanya membola. "Gado-gado?!"
Arjuna mengangguk, "Mau di makan sekarang?"
"Mauuuuu!"
"Bentar, gue ambil wadah dulu yaa."
Disha mengangguk. Mengiyakan. Bagaimana bisa Arjuna bertingkah semanis ini padanya? Ah, apa Disha yang baru sadar setelah sekian lama? Tapi hanya dengan gado-gado memang Disha gampang digoda.
"Disha! Gue belum selesai ngomong yaa! Gue masih punya uneg-uneg buat lo! Jangan alihin pembicaraan!" Blinda menyeru kesal.
"Blin, gak bisa pending dulu apa ngomelnya? Gue lagi sakit loh,"
"Ya karena lo lagi sakit! Kalo nanti-nanti, lo pasti bakal ngulanginnya lagi! Ah, lo tuh bisa gak sih waras dikit?"
"Sori, bisa keluar? Lo terlalu berisik di sini. Disha butuh istirahat."
"Sial, awas lo, Dis!"
Blinda pilih mengalah. Gadis itu melenggang keluar dari kamar Disha dengan rasa kesal menggebu. Bisa-bisanya dia diusir oleh cowok yang notabenenya baru di hidup Disha itu? Hah, sial!
"Maaf kayaknya gue terlalu kasar sama temen lo." ujar Arjuna kala punggung Blinda sudah tertekan pintu.
"Gak, lo gak salah. Blinda emang harus digituin biar bisa diem. Makasih ya, Jun." Disha berujar dengan ... tulus? Terbukti dari senyum yang terbit di wajah gadis itu kala Arjuna berikan gado-gado yang sudah berada di wadah itu pada Disha.
Arjuna berdeham. Agak heran dengan sikap Disha. Namun tak urung dia bersyukur juga.
"Lo udah mau nerima gue, Nad?"
Terburu-buru memang pertanyaan itu, dan karena pertanyaan dadakan itu, Disha harus rela terbatuk-batuk. Menahan perih dalam tenggorokannya.
...*****...
__ADS_1
Blinda tidak pulang. Ya, urusan gadis itu dengan Sang sahabat belumlah selesai. Jangan harap Blinda pergi begitu saja. Lagipula, Blinda juga sudah diamanahi oleh Anita untuk menjaga Disha. Jadi, tidak ada alasan tepat untuk Blinda meninggalkan rumah sakit itu secepatnya.
Blinda memutuskan membelokkan langkah, hendak menuju kantin. Masih dengan wajah misuh-misuh yang kali ini dibarengi melihat sesuatu hal di ponsel, Blinda memutuskan mendongak sejenak.
Alangkah terkejutnya kala gadis itu melihat sosok yang tak asing keluar dari salah satu kamar di rumah sakit tersebut. Buru-buru Blinda langsung kembali fokus ke ponsel. Lihat saja taktik yang akan ia gunakan setelah ini.
Brukk!
"E-eh, maaf.." Blinda hendak berjongkok. Mengambil ponselnya yang terjatuh. Namun sang penabrak sudah lebih dulu memgambilkan ponselnya. Blinda langsung ucap terimakasih bercampur kalimat tanya kaget, ah hanya sekedar pura-pura. "Gangga?"
"Hem, sorry gue juga nabrak lo."
Yaps. Sudah ditebak bukan untuk apa Blinda mau pura-pura terkejut atau mengalihkan pandangan segera? Yaa, sebab cowok yang disukainya ini.
"Engg, gak papa, Ngga. Gue aja yang gak fokus liat jalan." Blinda memilih mengakui kesalahannya. Sesekali, gadis itu curi-curi pandang ke wajah Gangga.
Cowok itu nampak tampan dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya. Begitu rapi. Yang selalu membuat Blinda bertanya-tanya, apa Gangga memang seperfeksionis itu ya? Ah. Tapi yang membuat Blinda salah fokus adalah ekspresi cowok itu. Seperti terlihat agak sendu?
"Gue duluan."
Oh ... oke, Blinda hanya bisa mengangguk kaku. Pertemuan mereka memang selalu sesingkat itu. Lagipula, Blinda ini siapa? Hei, sadar! Blinda bukan siapa-siapa.
Tetapi kini gadis itu jadi penasaran sebenarnya kamar inap siapa yang baru saja Gangga singgahi? Jelas itu bukan milik seorang Disha. Terlampau penasaran, Blinda putuskan mendekati kamar itu.
Entah keberuntungan atau bukan, kebetulan pintu kamar itu sedikit terbuka. Blinda mengintip. Ada punggung berbalut jas putih yang jelas milik seorang dokter nampak tengah berdiri tepat di samping ranjang pasien. Entah sedang memeriksa apa. Yang jelas dokter itu menghalangi penglihatan Blinda.
"Geser kenapa sih, ngalangin tau!"
Sampai di saat, di mana dokter itu menepis agak jauh. Blinda mampu melihat jelas pasien di kamar itu.
Seorang perempuan? Mungkin lebih tua 2 tahun darinya? Tapi siapa?
...________________...
**To be continued**.
Assalamu'alaikum, guys.
Hayyuloh, Disha udah mau buka hati kah? Dan siapa tuh yang abis Gangga 'singgahi'?
__ADS_1
Semoga sukaaaak.
See you☁️