
Tidak ada yang semelegakan ini. Disha benar-benar ucap syukur ratusan kali dalam hati. Pasalnya, begitu melihat Bu Yani datang memasuki kelas bersama murid baru berjenis kelamin perempuan. Hati Disha rasanya berangsur-angsur tenang. Membahagiakan. Disha betulan ingin salto berulang-ulang kali di ubin kelas sekarang.
Sementara di sebrang sana, Agus terlihat dicecar oleh makian kaum hawa penghuni kelas. Mereka kompak mencaci Agus yang salah besar dalam memberitahukan berita terbaru tadi. Sudah capek-capek berharap, menanti jikalau jodoh kini hanya berjengkal beberapa kaki. Eh malah, langsung dihancurkan oleh fakta bahwa murid baru tersebut berjenis kelamin perempuan.
"Silahkan perkenalkan diri kamu."
Gadis dengan rambut panjang menyentuh punggung itu tersenyum lebar. Terlihat sangat manis. Disha bahkan menjadi insecure mendadak. Begitu pangling akan satu buah gingsul di sisi kiri gadis itu.
"Halo semuaaaa! Aku, Amoza Saharani. Bisa dipanggil Moza. Semoga kita bisa jadi teman baik yaa."
Kaum adam sontak bersorak heboh. Suaranya betulan membuat penting telinga Disha. Bagaimana tidak? Cowok itu terkenal dengan suara berat yang kalau-kalau saja sudah berteriak, kerasnya toa masjid bahkan kalah telak.
"Sudah diam!" satu gebrakan tangan Bu Yani ke meja berhasil membuat suasana kelas berangsur-angsur tenang.
"Niat belok lo, Dis?"
Disha menoleh. Menatap Blinda dengan puluhan tanya di kepala. "Maksud lo?"
"Dari tadi ngeliatin si Moza terus-terusan. Pake senyum lagi. Jadi, curiga gue." Blinda mengutarakan isi kepalanya.
"Sembarangan!" Disha memukul gemas lengan Blinda. "Gue masih suka laki ya!"
"Bisa gak usah pake pukul-pukul?" protes Blinda. Mengusap lengannya sebab tenaga Disha tidak bisa dianggap remeh.
"Lonya ngeselin sih!"
"Lo lebih dari itu!"
"Heh! Lo nuduh gue enggak-enggak ya! Yakali gue gak sakit hati!"
"Halah, hobi lo aja buat cowok-cowok sakit hati! Gue kira hati lo gak ada!"
"Blin, gak usah ngajak gelut ya lo!"
"Lo duluan yang ngeselin setan!"
"Anjir, tampil juga ya lo lama-lama!"
"DISHA BLINDA! JANGAN BUAT KERIBUTAN DI KELAS!" Bu Yani berteriak dengan napas memburu kesal. Bukannya mendengarkan apa yang tengah dirinya jelaskan, kedua murid perempuan itu malah asyik berdebar tanpa tahu situasi.
"Lo sih, Blin."
"Bacot, salah lo juga."
"Yaudah maafin gue."
__ADS_1
"Ogah."
"Blin, lo kok gitu sih?!"
"Ya emangnya kenapa? Masa ngasih minta maaf harus pake segala dipaksa sih? Kan harus sesuai keinginan hati." balas Blinda yang berhasil membuat Disha benar-benar tak menyangka.
Berdecak, Disha lantas berujar. "Kagak paham gue lo ngomong apa! Ribet! Tinggal maafin aja kenapa sih?"
"Gak usah maksa gue deh, Dis."
"Gak usah ngeyel deh lo, Blin."
"Biar suka-suka gue."
"Blinda jangan sampe gue panggil lo guguk ya!"
"Ting---"
"KALIAN BERDUA KALAU MASIH MAU BERDEBAT, KELUAR SAJA DARI SINI! BIKIN POLUSI UDARA AJA!"
"OKE!"
Disha dan Blinda saling tatap sinis kala menyadari bahwa keduanya berujar dengan kalimat dan di waktu yang sama. Tanpa banyak omong lagi, kedua manusia itu beranjak bangkit. Saling senggol menyenggol sebelum kemudian keluar kelas diiringi helaan napas berat dari Bu Yani.
Setelah cukup jauh mereka jalan bersama-sama dengan beberapa centi jarak membentang. Keduanya kompak menghentikan langkah. Tepat di koridor yang kebetulan kala itu sepi. Setelahnya mereka saling pandang. Dan Disha menebar senyum lebar lalu tertawa bahagia seraya mendekat dan memeluk erat Blinda.
"Hem, gue tau." Blinda hanya menanggapi cuek.
Tidak ada sejarah yang mencatat bahwa Blinda dan Disha pernah benar-benar bertengkar. Kedua gadis itu terlihat kompak. Entah dalam hal saling melengkapi ataupun saling membuat orang oain naik tensi. Blinda dan Disha sepaket.
Jadi, ini semua terjadi sebab Disha yang mengasuh pada Blinda bahasa perutnya sangat perih dan butuh asupan segera. Blinda yang notabenenya peka pun mengikuti alur yang Disha buat. Berpura-pura saling debat kemudian ditegur dan berakhir dengan dikeluarkan dari kelas agar apa yang Disha inginkan bisa terwujud.
Terdengar konyol dan kekanak-kanakan memang, namun jujur demi seorang Disha, Blinda pasrah-pasrah saja. Lebih tepatnya, Blinda yang memang kelewat baik di sini.
Tidak takut ketinggalan pelajaran sebab Disha bisa merayu salah satu pentolan kelas untuk memberinya catatan nanti.
Gadis itu dengan santai merangkul lengan Blinda, menyeretnya menuju kantin. Tanpa peduli bahwa Ham istirahat masih cukup lama untuk dibunyikan.
"Buuu, gado-gadonya 2 bungkus yaa."
Begitu sampai di kantin, Disha langsung menuju ke stan penjual gado-gado. Diikuti oleh Blinda yang memutar bola matanya malas.
"Cabenya 11, ketupatnya dibanyakin trus---"
"Bumbunya banyakin juga trus timunnya sedikit aja kan, Neng?" lanjut ibu-ibu penjual gado-gado tersebut. Sebenarnya, bukan hanya gado-gado sih yang Bu Rasmi jual. Ada rujak buah, rujak sayur, ketoprak serta makanan-makanan yang tentunya membutuhkan bumbu dan berisi beberapa bahan yang notabenenya masih mentah.
__ADS_1
Disha menyengir lebar, membuat bentuk hati dari jari telunjuk dan jempolnya kemudian mengarahkannya pada Bu Rasmi, "Aaaa Bu Rasmi emang paling hapal deh sama aku!"
Bu Rasmi hanya membalas dengan gelengan kepala dan senyum maklum, lalu wanita itu melontar tanya pada Blinda, "Neng Blinda mau pesen juga?"
"Ak---"
"Bikinin rujak buah aja, Bu. Eh, gak ding, potong-potongin buah aja, Bu buat dia. Gak usah pake bumbu." serobot Disha. Blinda menoleh ke samping, menatap temannya itu tak percaya.
"Apa lo apa? Jangan pikir gue gak tau pas balik kemarin malem lo goreng sosis lagi ya!"
"Ngarang lo ya!"
Disha merogoh saku, mengambil ponsel kemudian membuka chat dari seseorang yang tak asing lagi bagi Blinda, "Masih kau ngelak pas gue tunjukkin ini?"
"Ya-yaudah terserah lo!"
Terlanjur kesal, Blinda putuskan mencari kursi lebih dulu. Sementara Disha nampak tersenyum menang, memasukkan kembali ponsel ke saku lalu beranjak pergi mendekati Blinda yang sudah duduk di meja pojok dengan ekspresi tak ramah.
"Wah, sengaja amat lo ya, Blin. Cari kursi yang jauh-jauh biar gue capek jalan gini." cerocos Disha sebelum kemudian ikut duduk di depan Blinda dengan sorot mata yang menajam.
"Bacot, duduk tinggal duduk."
"Diriku semakin tidak yakin kalau adinda adalah Blinda gemas yang dulu menangis di ujung tangga." Disha meremas seragamnya sembari memasang ekspresi nelangsa.
Blinda namun tak suka akan itu.
"Hahahaha, ternyata lo masih sama, Blin. Cemberut-cemberut lo ini nih, masih persis kayak dulu gue ketemu pertama kali sama lo. Lucu banget. Pengin gue jorokin ke jurang masaa." Disha menunjuk-nunjuk Blinda dengan tawa yang terurai keras. Blinda ingin marah tapi melihat sosok Disha di depannya malah membuat Blinda ikut terbawa suasana. Tanpa sadar, gadis itu pun mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas.
"Idih, geli juga kan lo pasti!"
"Apaan, enggaklah. Eneg gue liat muka ingusan lo dulu."
Disha yang semula tertawa langsung mendatarkan wajah, gadis itu bangkit. Kemudian menunjuk Blinda dengan ekspresi kesal. "Tunggu pembalasan gue, Blin. Gue pergi dulu. Jangan sekali-kali lo berniat makan gado-gado gue yaa!"
Blinda mengangkat bahu acuh tak acuh, sudah hapal betul kemana gadis itu akan pergi. Lagipula, dibanding mengkhawatirkan gado-gado milik gadis itu di makan oleh Blinda, kenapa tidak khawatir saja jika Blinda memesan menu lain ketimbang memakan apa yang tadi Disha pesan?
Ide bagus. Karena Blinda orangnya tidak tegaan. Maka akan Blinda realisasikan apa yang otaknya pikirkan sekarang.
...—————————...
To be continued.
Gatau lagi sama duo makhluk aneh ini😭🙏 semoga kalian kuat terus mengenal jauh cerita ini. Aamiin.
Semoga sukaaaa 💜
__ADS_1
See you ☁