Efemeral

Efemeral
Part 12


__ADS_3

Yang namanya Disha, walaupun tengah berjalan tergesa-gesa, mencoba menahan hajat yang ingin segera terlaksana, masih saja bisa gadis itu melempar senyum manis pada gerombolan kakak kelas laki-laki yang tampak tengah bermain basket di lapangan outdoor. Sesekali, gadis itu bahkan melambaikan tangan dan terus mencoba menggaet perhatian kumpulan kakak kelasnya tersebut.


Dan karena rutinitas centilnya itu, Disha jadi tak memperhatikan apa yang dirinya kenakan. Lagi-lagi, Disha jatuh sebab tali sepatunya lepas dari ikatan. Mengaduh, Disha kembali berikan ceramah pada benda bertali tebal yang sebenarnya mati dan mustahil membalasnya tersebut.


Namun, berkat itu, seorang kakak kelas yang tadinya sedang bermain nampak keluar lapangan. Berlari menghampiri Disha dengan wajah cemas.


"Gak papa, Dek?"


Disha yang semula memasang wajah masam itu langsung menerbitkan senyuman, menepuk-nepuk tangannya sebelum kemudian ia ulurkan ke depan, "Gak papa kok, Kak. Tapi boleh tolong bantu gue berdiri?"


Kakak kelas itu mengangguk. Meraih kedua tangan Disha kemudian dengan bantuan itu Disha mampu berdiri sempurna. Walauoun sebenarnya tanpa bantuan pun Disha bisa, tapi hitung-hitung modus dikitlah yaa.


"Beneran gak papa, kan?"


Disha mengangguk-anggukkan kepala. Memastikan bahwa dirinya benar-benar baik-baik saja. "Gak papa, Kak. Sueeeer deh!" gadis itu bahkan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya di samping wajah untuk meyakinkan cowok itu dan juga sedikit menarik perhatiannya.


"Imut banget sih lo." cowok berkaos olahraga khas SMA Sirius itu nampak tertawa kecil. Nampak begitu manis bagi seorang Disha yang memang imannya lemah ketika berhadapan dengan yang namanya cogan. Cowok itupun melabuhkan tangannya di atas kepala Disha. "Nama lo pasti Disha, kan?"


"Kok Kakak tau?"


"Siapa yang gak kenal Disha, si manis seribu pria, hm?"


Malu! Malu! Malu! Disha benar-benar malu sekarang. Nampaknya desas-desus tentang dirinya yang punya pacar lebih dari selusin sudah tersebar kemana-mana.


"Gak usah tegang gitu kali, Dis. Omong-omong mau nonton bareng gue pulang sekolah?"


"Gak dulu deh, Kak. Gue mau ke toilet duluan ya, Kak. Permisiii." pamit Disha tergesa-gesa. Menjauhi sang kakak kelas yang semula menjadi targetnya dengan langkah lebar.


Sementara itu, kakak kelas yang menolong Disha hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis, "Manis tapi miris."


Di sisi lain, Disha betulan menyesal pergi ke toilet lewat lapangan basket outdoor. Seharusnya juga ia hanya menebar senyum saja, tidak perlu melambaikan tangan pun segala acara tersandung tali sepatunya sendiri. Disha benar-benar ceroboh!


Begitu sampai di toilet dekat tangga, Disha buru-buru menilik satu persatu bilik dal toilet perempuan itu. Mencari yang kosong dan Disha berhasil mendapati bilik paling pojok tidak berpenghuni. Buru-buru Disha masuk lalu menuntaskan hajatnya yang sempat tertahan tadi.


Beberapa menit terlewatkan, Disha pun keluar dari bilik, melihat pantulan wajahnya sejenak di cermin sembari berkomentar, "Duh, pucet banget muka gue. Pantes tuh kakak kelas tanya gue gak papa sampe dua kali. Aishhh, ini pasti gegara gue belum sarapan deh! Lagian segala ngambek juga tuh si Gangga!"


Usai mengomel ria sambil mencuci kedua tangannya, Disha pun mengeringkannya dengan tisu pun mengelap beberapa bulir keringat yang ada di dahinya.


"Aduh, udah kayak orang demam banget gue." Disha bermonolog sembari mengukur senyum bangga.

__ADS_1


Kemudian gadis itu beranjak keluar toilet, seharusnya ia bisa langsung berbelok, tanpa perlu ditarik lebih dulu oleh tangan kekar asing menuju bawah tangga yang notabenenya masih berada di area toilet wanita. Hei! Nanti kalau dikira Disha mau macam-macam bagaimana?!


"Anjir.. seenak jidat pegang tangan gue, lo--- LO LAGI?!" begitu tahu siapa yang menarik tangannya, Disha buru-buru menyentak kasar tangan seorang yang sesungguhnya sedari awal ingin sekali Disha jauhi dan hindari.


Siapa lagi kalau bukan Arjuna.


"Kaget ya? Sori," Arjuna berujar sembari menggaruk tengkuk lehernya. Sialnya, entah mengapa Disha merasa terhipnotis beberapa detik kala cowok itu meringis bersalah di depannya.


"Ya-yaiyalah!" Disha buru-buru kembali ke kenyataan. Gadis itu melipat kedua tangannya depan dada. Menatap Arjuna tajam lagi kesal.


"Sekali lagi maafin gue ya?"


"Ya." singkat Disha. Kemudian menatap Arjuna penuh curiga. "Lo ngapain di sekolah gue?"


"Kapan lo beli sekolah, Nad? Kok Tante Anita gak bilang-bilang."


"Ini emang bukan sekolah punya gue Junaa! Tapi ngapain lo ada di tempat menimba ilmu yang sama kayak gue?!" Disha bertanya dengan nada emosi.


"Sama kayak yang lo bilang tadi, gue ke sini karena mau menimba ilmu." Arjuna menjawab dengan enteng.


Disha betulan geram. Bisa-bisanya Anita tidak bilang kalau Arjuna akan bersekolah di satu atap yang sama dengannya?!


Bunda niat banget buat gue cepet-cepet gila!


"Tunggu, Nadisha." Arjuna mencekal kembali pergelangan tangan Disha. Cowok itu kelihatan masih ingin mengobrol banyak dengan Disha.


Tapi jelas Disha ogah satu oksigen bersama dengan Arjuna! Yang ada oksigen yang seharusnya dihirup Disha malah terkontaminasi dengan racun yang Arjuna bawa.


"Apalagi sih, Jun?! Udah ah, gue laper banget nihh! Lo gak liat muka gue udah pucet gini apa?!" sinis Disha. Menyeru kesal. Sebab perutnya yang kini mulai keroncongan dan sedikit membuat tubuhnya agak lemas.


"Loh, lo sakit, Nad?" Arjuna bertanya dengan nada khawatir.


"Iya. Gue sakit parah. Jadi awas! Gue mau makan duluuu!" Disha berujar dengan hiperbola yang sayangnya tidak bisa Arjuna percaya begitu saja.


"Kalo lo sakit parah gak mungkin bakal berangkat sekolah deh,"


Tunggu. Sebentar. Biar Disha menahan gejolak amarah dalam kepalanya dulu. Tapi kenapa begitu sulit! Bertambah amat sangat mendidih amarahnya kala menyadari kalau sedari tadi Arjuna bertingkah abnormal! Cowok itu benar-benar berubah menjadi sangat menyebalkan!


"Lo kenapa jadi nyebelin gini sih, Jun?! Gak bisa apa, kali-kali gak usah ngurus tenaga gue?"

__ADS_1


"Yaudah ayo, gue gendong lo ke kantin aja."


Dasar tukang modus!


...*****...


Memang benar apa adanya, Arjuna menggendong Disha sampai tiba di kantin. Dan tatapan tajam seorang Blinda adalah sambutan terhangat yang Disha dapat.


"Itu temen lo?" Arjuna bertanya sembari melirik seorang Blinda.


Disha menatap Arjuna sinis, sayangnya, gadis itu tidak bisa turun dari gendongan Arjuna sebab cowok itu benar-benar mencekal kakinya agar Disha tak melepaskan diri. Benar-benar keterlaluan! "Menurut lo?"


Dan ya, pada akhirnya, Arjuna menurunkan Disha tepat di mana Blinda tengah duduk.


"Gue udah bantu lo hemat tenaga. Jadi, jangan salahin gue lagi karena udah nguras tenaga lo ya, Nad." Arjuna berujar dengan lembut seraya mengusap pucuk kepala gadis itu.


Disha menepis kasar tangan Arjuna di kepalanya, "B A C O T! Bacooooot lo!"


Arjuna tak marah, cowok itu malah tersenyum manis. "Belajar buat gak ngomong kasar ya. Gue ke kelas dulu, Nad."


Disha diam. Tak membalas apapun. Sampai Arjuna hilang dari pandangannya dan kini malah Disha terus ditatap tanpa lekat oleh Blinda. Seperti hendak dilahap saja Disha oleh sahabatnya itu!


"Kenapa lo, Blin? Tajem amat mata lo."


"Bisa gak usah ngedrama depan gue? Muak gue, Dis. Mana lo sok jual mahal banget tadi, bikin mual aja!" jawab Blinda. Pedas dan terang-terangan.


"Mual aja sono lo! Makanannya di perut lo juga pasti gak bakal halal tuh!"


"Kata siapa? Gue udah bayar kali!"


"Tapi lo gak nurut apa kata emak lo, Blindaaaa."


...______________...


To be continued.


Guys, makin sini Jjna makin aneh ga sih? Akupun jadi takut.


Ohiya btw dah ketebak dong ya, siapa orang familiar yang udah ngechat sodari Disha.

__ADS_1


Moga suka yaa😁🙏


See you☁


__ADS_2