Efemeral

Efemeral
Part 2


__ADS_3

“Beberapa orang harusnya tahu. Bahwa hanya Tuhan sang penentu. Entah kamu akan bahagia atau sial itu bukan kehendakmu.” —— Efemeral


...✏✏✏...


PLAK!


"Aduuuuuh! Buuuun!" rengekan beserta cebikan bibir keluar dari mulut Disha. Gadis itu mengusap pahanya yang panas akibat pukulan keras yang Anita layangkan.


"Mulutnya, Sayaaang." tegur Anita. Dengan nada lembut namun jelas terselip ancaman besar di sana.


"Ih! Orang bener! Mana ada tunang—"


"Disha.."


"—ngan! Pacar Disha mau dikemanain hah?! Ini orang asing seenak—"


"Disha.."


"—jidat bilang Disha tunangannya! Hell! Disha gak relaaa."


"Disha! Diem!" perintah Anita. Sudah cukup geram melihat putrinya yang terus menerus bicara ngeyel sedari tadi.


Alhasil, Disha hanya mampu menekuk bibir ke bawah.


"Nit, kayaknya kedatangan aku salah ya ke sini?" karena mendengar cerocosan Disha tadi, Ranti jadi berpikiran bahwa kehadirannya begitu mengganggu.


"Salah banget, Tan!" sahut Disha. Ngotot. Bersemangat. Tapi, dalam hati. Karena ia tak mau mati terkena tatapan laser seorang wanita di sampingnya.


"Enggak, Ran! Astagaaaa. Ini cuman anak aku yang mabok marimas kayaknya. Jadi ngawur gini. Haduh," elak Anita. Langsung mencari alasan apapun yang masuk akal.


Mabok marimas dari mana anjir? Dahlah, gue pasrah berubah jadi domba kurban tahun depan.


Tak ada kata yang mampu Disha katakan secara gamblang, keras, dan jelas karena di bawah sana. Sesuatu menekan punggung kakinya keras. Siapa lagi pelakunya kalau bukan sang ibunda dengan sandal tercintanya.


"Anak kamu suka gitu, Nit?"


Anita mengangguk tanpa ragu. "Anak aku emang rada unik, Ran. Kadang bisa abis satu renteng dia nyemilin marimas doang."


Tawa Ranti terdengar mengudara. Rasa-rasanya Disha ingin menenggelamkan diri saja melihat sosok di samping Ranti juga tengah menahan tawa. Tolong hentikan Anita berbicara sekarang juga!


"Bisa ngobrol berdua dulu, Nit?" pinta Ranti. Menggerakkan tangan dengan isyarat bahwa ia hanya ingin mengobrol intens dengan Anita saja.


Anita yang semula bingung kemudian menganggukan kepala setuju. Kepalanya menoleh ke samping. "Kamu bisa anter Arjuna keliling, 'kan?"


Rasanya Disha ingin mencibir sikap Anita yang tiba-tiba manis sampai-sampai mengelus rambutnya namun pada akhirnya yang gadis itu lakukan hanyalah mengangguk. "Komplek, 'kan, Bun?"


"Emang mau keliling Bundaran HI?" canda Anita. Tidak lucu sama sekali. Disha enggan tertawa namun melihat pelototan Anita dan gesekan sendal di bawahnya membuat gadis itu pura-pura tertawa kaku.


"Hehe, enggaklah, Bun."


"Yaudah sana, yang lama yaa."


"Iya, Bunda." sahut Disha. Setuju.


"Tante titip Juna dulu yaa, Disha." ujar Ranti. Tanpa diduga-duga bangkit, membawa jemari Arjuna bertemu dengan jemari mungilnya.

__ADS_1


"Ini kebalik gak sih, Tan?" ceplos Disha. Bukannya seharusnya cowok yang diharuskan menjaga?


"Ekhem!" deham Anita. Memindahkan pelan-pelan sandalnya kembali ke atas punggung kaki Disha. Matanya melirik anak gadisnya, memperingati.


"Untuk kali ini, biarin kamu yang jaga anak Tante dulu yaa. Nanti, kalo udah ke sana-sana, pasti Juna yang bakal jagain kamu kok." Ranti tak mengelak ataupun marah. Dan Disha jadi suka serta berharap mempunyai ibu seperti wanita lembut ini.


"O-oke, Tan." akibat ringisan yang tertahan, Disha hanya mampu berkata demikian.


Entah karena kerasukan setan mana, Disha mengayunkan kaki sembari mengangguk menatap Arjuna. Kalau di adegan film-film, Disha ini adalah remaja yang tengah dimabuk cinta dan enggan mencintai sendirian, "Ayo."


Arjuna mengangguk, pamit singkat dengan Ranti dan Anita lalu berjalan keluar bersama Disha. Masih dengan bergandengan tangan.


"Kok aku gak deg-degan, Nad?"


Disha menoleh dengan dahi terlipat bingung, Nad? Siapa pula yang cowok di sampingnya panggil ini.


"Ngomong ke siapa lo?"


"Kamu."


Sontak Disha mendelik, melepas genggaman tangannya segera kala mereka telah keluar melewati gerbang rumahnya.


"Jijik, sumpah! Jangan ngomong gitu deh, geliii." ujar Disha. Memprotes secara frontal.


"Kenapa? Kamu kan tunangan aku?" Arjuna bertanya heran dengan binar mata menyendu.


Oh, ayolah, wajah cowok itu memang bertambah imut namun Disha rasanya ingin muntah saja.


Gadis dengan balutan kaos oblong kuning berpadu celana kolor hijau menghentikan langkah. Melipat tangan depan dada serta mengangkat tinggi-tinggi wajahnya. Angkuh dan berlagak sombong. "Pertama, gue anti banget sama cowok yang ngomong mode lembek gitu." tidak tahu untuk ke depannya bahwa Disha akan menelan ludahnya sendiri. "Kedua ... gue sama lo gak pernah tuh pacaran! Jadi, gak usah halu pake bilang gue tunangan lo, paham?"


"Terus kita ini apa?"


"Aku gak mendramatisir, Nad. Aku cuman tan---"


"Berhenti bilang pake mode lembek gitu! Argh! Denger gak sih?" kata Disha. Memutuskan melangkahkan kaki lebar-lebar lebih dahulu. Tak tertinggal, hentakan kaki dan ekspresi stres mendominasi tingkah gadis itu.


"Nadisha!" panggil Arjuna. Berlari kecil menyusul langkah Disha dengan ekspresi bingung.


Kali ini, Disha tak memberontak. Gadis itu justru dengan senang hati menghentikan langkah.


"Lo mau tau kita ini apa, bukan?" tawar Disha. Membalikkan tubuh dengan senyum tertera.


Arjuna belum sempat menjawab, Disha lebih dulu menariknya menuju ke sebuah taman komplek.


"Lo sini dulu," Disha menyuruh agar cowok itu berdiri di sisi bangku taman. "Gue janji bakal kasih tau lo, nanti."


"Gak boleh duduk?" tanyanya.


"Nggak! Bangku ini haram buat didudukin pantat lo!" jawab Disha.


"Kamu mau kemana?"


"Gak lama. Lo tinggal tunggu sini aja bisa 'kan?"


Arjuna mengangguk patuh. Disha jadi girang sendiri dalam hati. Mengapa cowok ini begitu bodoh?

__ADS_1


Menepuk lengan Arjuna singkat, Disha bergerak melangkah menjauh. Tidak. Disha tidak bermaksud meninggalkan cowok itu. Disha hanya ingin memberi cowok itu sedikit hadiah.


"Naya!"


Seorang bocah dengan tubuh berisi lengkah dengan kedua pipi chubby yang tengah menyuapi hewan peliharaannya dengan sosis itu menoleh dengan raut masam.


"Nay, lo kok dipanggil gue diem aja sih?" heran Disha.


"Nama aku Nayaka, Kak! Bukan Naya!" protes bocah itu akhirnya bersuara kala Disha mendekat.


"Loh? Bukannya sama aja? Bener dong kalo gue panggil lo Naya?" timpal Disha. Mengernyit bingung.


"Tapi, aku cowok, Kak! Malu kalo dipanggil gituan!"


Tawa Disha pecah begitu saja. Gadis itu menunjuk muka Nayaka sebentar lalu kembali tertawa. Berulang terus hingga Nayaka muak.


"Kalo cosplay jadi orang gila jangan di depan Yuna, Kak. Nanti dia takut!" omel Nayaka. Mengomentari tingkah Disha yang mirip orang gila tersebut. Nayaka takut kalau hewan peliharaannya jadi trauma melihat tawa seseorang.


"Eh, buset sepenting itu nih anjing bagi lo?" Disha melongo. Mengusap dada, sabar. "Gue ketawa aja gak boleh, astaga.."


"Yuna itu belahan ginjal aku!"


"Pffftt! Kok ginjal?" Disha menutup mulut. Menahan tawa.


"Ya karena kalo orang hidup pake satu ginjal bakalan sakit. Sekarat terus meninggal."


Jawaban yang benar-benar ajaib. Disha jadi tak mampu berkata-kata. Alhasil, Disha memilih mengingat kembali tujuan awalnya.


Berdeham, Disha mencoba melembutkan nada suaranya. "Nay---"


Tatapan sengit langsung Nayaka berikan begitu mendengar Disha hendak memanggilnya Naya.


Udah untung gue gak panggil lo Sugiono.


"Aka," panggil Disha. Meniru apa yang biasanya dijadikan teman bocah itu panggilan.


"Apa?"


"Gue boleh minta ***** eh! Tolong?" Disha bertanya dengan nada yang masih sama lembutnya. Jarang sekali bukan melihat gadis itu berujar layaknya gadis normal.


Nayaka mengangkat sebelah alis.


"Boleh pinjem Yuni bentar nggak?"


...—————————l...


To be continued.


Assalamu'alaikum, guys.


Hope u like it.


Selamat memasuki dunia Disha yg isinya ceplas-ceplos semua :)


Kira-kira dibolehin Naya gak tuh?

__ADS_1


Vote, comment and share, yaps.


See you ☁


__ADS_2