Efemeral

Efemeral
Part 19


__ADS_3

Ada saat-saat tertentu, di mana Disha menyesal lebih memilih bersama seorang Gangga ketimbang yang lain. Dan saat itu berlaku untuk sekarang. Disha jadi menyesal telah mengabaikan seorang Arjuna. Lebih baik bersama tunangannya itu ketimbang bersama Gangga dan berujung naik darah karenanya.


Disha mencoba semakin melajukan kursi rodanya cepat. Berharap Gangga kehilangan jejaknya lalu ia mampu menikmati udara dengan tenang.


Disha pun membelokkan kursi roda. Berhenti pada sebuah pemandangan yang membuatnya terdiam beberapa saat. Ah, ralat, lama.


"Papa! Papa! Aku mau kupu-kupu!"


Di sana gadis dengan seragam khas rumah sakit nampak duduk di kursi taman. Di pangku oleh pria yang sepertinya ayah dari gadis kecil berumur 7 tahun itu.


"Yang mana?" Papa gadis kecil yang rambutnya terurai itu menatap bingung ke depan. "Kamu bisa melihat, Mina?"


Gadis bernama Mina itu menggeleng lalu tertawa, "Papa kena tipu, hahaha. Masih gelap semuanya. Cuman Mina mau minta dikasih satu aja kupu-kupu di pemandangan Mina sama Tuhan, kira-kira boleh gak ya?"


Disha tercekat. Tidak tahu harus merasa bagaimana. Dalam dadanya bermacam rasa bergejolak. Jadi ... gadis di depan sana itu tidak bisa melihat keindahan yang Disha lihat saat ini? Gadis bernama Mina itu bahkan tidak mampu memilih salah satu pun kumpulan kupu-kupu beragam warna yang berterbangan menghiasi taman rumah sakit sore itu. Mendadak Disha merasa begitu beruntung.


"Pasti dibolehinlah, asal anak Papa jangan nyerah dulu ya. Mina harus terus semangat biar bisa sembuh. Nanti, Tuhan pasti kabulin apa yang Mina mau." Papa Mina meyakinkan putrinya. Sembari mengusap rambut gadis manis itu lembut. Namun, Disha jelas tahu bagaimana khawatir dan cemas membelenggu pria itu sebab gemetar tangannya tak mampu terhindarkan kala jatuh di kepala sang putri.


"Tapi, Pa.. apa pas Mina bisa ngelihat, Mina bakal ngelihat Mama juga?"


"Bisa." tidak ada keraguan dalam kalimatnya. "Kamu bahkan bisa lihat Mama bareng bintang-bintang. Mama udah jadi artis paling bersinar loh di langit. Kamu pasti kagum banget ke Mama nantinya."


"Wah, bener, Pa?! Mina jadi gak sabar pengen cepet-cepet bisa lihat Mama!" Mina berseru begitu semangat.


"Papa enggak nih?"


"Ya Papa nanti, nomor duanya!"


Kemudian kedua pasang ayah dan anak itu tertawa lepas. Disha merasa kasihan pada Mina. Tapi, apa yang Papa Mina katakan bukanlah sebuah kebohongan atau kesalahan. Mungkin, hanya begitulah cara yang bisa Papa Mina lakukan untuk menghibur Mina kecil yang malang. Jujur, jika melihat interaksi mereka berdua. Disha merasa iri teramat hebat. Sesak bercokol dalam dadanya. Melebur bersama riuh rindu yang terlalu lama berdesakan.


Yah, Disha kangen..

__ADS_1


Disha menatap langit dengan tatapan berkaca-kaca. Disha tak menyangka bahwa sudah nyaris 2 tahun ayahnya berpulang ke Sang pangkuan Maha Kuasa. Masih timbul sisa-sisa ketidakrelaan yang kadang bergabung dengan tanya tak henti-hentinya mengerubung dalam kepala.


Mengapa Ayah pergi begitu cepat?


Mengapa Ayah pergi tanpa aba-aba?


Mengapa Ayah tak mau menunggu Disha dewasa dan memberi segala yang Ayah minta?


Mengapa Ayah pergi ... saat Disha butuh sandaran kokoh untuk melawan kejamnya dunia?


Seumur hidup, Disha belum pernah jatuh cinta. Kecuali pada sang ayah. Ya, kata orang definisi cinta pertama adalah ayah. Maka, Disha adalah salah satu garda terdepan yang menyetujui kata orang tersebut. Tidak ada kasih sayang setulus ayahnya. Disha menjamin semua itu.


Siang itu, Disha kecil yang baru pertama kali pulang dari MOS SMP masuk ke rumah dengan wajah kecut. Bibirnya tertekuk. Jidatnya terlihat banyak lipatan. Dan tangannya terlihat mengepal erat samping badan. Rambut gadis itupun terlihat awut-awutan. Benar-benar mencerminkan kondisi si pemilik raga.


Ayah Disha—Tio—yang pulang lebih awal dari bekerja langsung menaruh koran ke meja. Bangkit dengan sigap lalu mendekat ke arah Disha cepat.


"Putri Nadisha sudah pulaaaang!" Tio membentangkan tangan. Layaknya pangeran gagah yang membentangkan permadani untuk kekasihnya. Dan karena itu, kekesalan yang membelenggu hati Disha hancur dalam sekejap mata. Disha tersenyum malu-malu.


Disha suka itu. Suka sekali saat lelahnya diri saat pulang terbayarkan oleh pelukan hangat yang Tio tawarkan secara tulus dan penuh kasih sayang. Tanpa ragu, Disha pun meringsek masuk ke dalam dekapan ayahnya.


Dan saking ramah dan hangatnya pelukan itu, Disha sampai-sampai menangis. Membuat Tio sedikit cemas dan bingung. "Putri Nadisha kenapa menangis? Apa yang sudah membuat Putri Nadisha bersedih? Katakanlah pada Ayah."


Tangisan Disha makin menjadi. Gadis perempuan yang mulai menginjak masa remaja itu mengalungkan kedua lengannya ke leher sang ayah erat-erat. Menggeleng beberapa kali. Membuat Tio mengusap punggung mungil putrinya lembut. Mencoba menenangkan anaknya. "Udah, udah, nangis aja dulu. Ceritanya nantian. Berat banget ya? Mau Ayah nyanyiin gak?"


Disha mengangguk-anggukkan kepala. Antusias. Gadis itu bahkan menjauhkan diri cepat. Kemudian dua tangan mungil gadis itu menangkup gemas pipi ayahnya yang besar. "T-tapi Ayah nyanyi pake gitar ya?"


"Gak pake suling aja, Yang Mulia?"


Disha melipat tangan depan dada. Mengalihkan muka lalu menghentak-hentakan kaki kesal. Ayah ini hobi sekali meledeknya. "Gak mauuuuuuu. Disha maunya pake gitar!"


"Yaudah, yaudah, Putri Nadisha mandi dulu sana. Ayah juga mau dandan dulu. Biar bisa tampil maksimal di depan Putri Nadisha."

__ADS_1


"Ih, Ayah jorok belum mandi!" Disha menjepit lubang hidungnya seolah-olah ayahnya mengeluarkan bau tak enak.


"Enak aja Ayah udah mandi yaa. Ayah mau tampil keren juga tau," Tio membusungkan dada, sombong.


"Ih pengawal kok sombong banget yaa," Disha mencibir. Lalu tertawa dan berlari cepat masuk ke dalam. Pergi menemui Anita agar mau membantunya bergegas mandi untuk menyaksikan kontes kecil yang akan segera ayahnya tampilkan.


Tanpa sadar Disha menangis membayangkan momen-momen bersama ayahnya. Gadis itu benar-benar rindu akan ayahnya sekarang ini. Hanya pada Tio, Disha merasa jiwanya yang hancur, terhibur dan bahagia. Dan kini ... Tio sudah terbang tinggi di tempat yang Disha sendiri tak bisa gapai. Disha berharap banyak dosanya tidak menghalangi keinginannya berkumpul dengan sang ayah di surga.


"Cengeng,"


Teguran sekaligus cibiran yang tak lain dan tak bukan dari Gangga itu tak Disha hiraukan. Gadis itu masih terlarut dalam dimensi rindu yang orang lain mungkin susah untuk menariknya kembali dalam dunia nyata.


Gangga mengernyit, heran karena Disha masih saja menangis. Sekarang gadis itu bahkan melengkungkan bibir di sela-sela air mata yang jatuh membasahi pipinya. Gangga mengalihkan pandang. Melihat apa yang Disha perhatikan begitu khidmat. Dan setelah mengetahuinya, Gangga tertegun. Tahu betul apa yang sahabatnya itu rasakan.


"Lo kangen Om Tio?" Gangga merangkul pundak Disha sembari merundukkan badan. Mensejajarkan tinggi mereka. Dan untungnya kali ini, Disha meresponnya.


Dan dengan wajah banjir air mata, Disha menoleh. Dengan bibir tertekuk, Disha mengangguk lemah.


"Mau gue nyanyiin?" Disha terdiam menatap Gangga tak menyangka. Belum usai keterkejutannya sampai Gangga kembali melanjutkan kalimatnya, "Pake gitar juga, mau?"


..._______________...


To be continued.


Assalamu'alaikum guys.


Part ini khusus untuk Ayah Tio, Disha dan Gangga dulu yaw.


Semoga sukaaaak.


See you ☁

__ADS_1


__ADS_2