
"Bundaaaa!"
"Percuma. Ngomong sama kamu tuh gak bisa selalu serius. Bunda capek. Udah sana, masuk aja kamu. Solat isya! Jangan tidur! Bunda mau cari Arjuna dulu! Kalo kamu udah selesai solat, ikut cari juga, paham?!" setelah melayangkan pukulan terakhir ke kepala sang putri, Anita mengeluarkan ceramah panjangnya.
Disha hanya mampu mengelus kepalanya. Berulang sembari merutuk akan perbuatan sang Bunda yang terus memukulnya hanya karena seorang Arjuna. Benar-benar keterlaluan! Disha semakin tak suka akan kehadiran cowok itu.
Menurut akan sang perintah sang Bunda, Disha pun masuk kembali ke kamar. Mengambil wudhu lantas melaksanakan ibadah sebagai seorang muslim.
Begitu selesai solat, Disha langsung mengarahkan kaki menuju lemari. Menaruh mukena di lemari paling bawah lantas mulai menelisik lemari bagian atasnya. Mencari-cari dengan cermat, pakaian mana yang akan dikenakan dirinya malam ini. Seraya mengetuk telunjuk ke dagu, Disha menelusuri lipatan-lipatan pakaian dalam lemari.
Model lemari Disha memang masih sederhana. Hanya lemari kayu biasa yang ukurannya sedang. Tidak terlalu besar ataupun tidak terlalu kecil. Beberapa bagian lemarinya pun terlihat sudah keropos. Termakan rayap. Dan Disha terlampau enggan meminta pada Bunda agar membeli lemari baru. Karena menurutnya, asal masih bisa menampung pakaian maka akan tetap Disha pertahankan dan gunakan.
Setelah menemukan pakaian yang dirasa pas digunakan. Disha pun bergegas berganti pakaian. Dan saat dirinya tengah melihat penampilannya lewat cermin berukuran separuh badan di pojok kamar—pemberian sang sahabat— Disha menepuk Dahinya keras.
Tangannya dengan gesit mengambil ponsel di atas kasur. Tanpa basa-basi, ia tekan nomor seseorang yang tersemat paling atas dan butuh beberapa menit untuk panggilannya berbalas.
Terdengar bunyi grasak-grusuk sebelum kemudian suara tak asing masuk ke gendang telinga Disha.
"Halooo, Dis? But---"
Disha mengangguk kuat. Tanpa peduli bahwa anggukannya tak mungkin terlihat, gadis itu memotong kalimat sang lawan cepat. "Sangat! Gue sangat butuh bantuan lo, Bliiin!"
Decakan bibir terdengar dari seberang. "Bagian siapa malem ini?"
Menyengir, Disha menjumput anak rambutnya ke belakang telinga perlahan. "Si futsal, hehe."
"Gak usah nyengir segala. Sharelock. Gue usahakan gak telat."
"Wokeeh! Makas---"
Belum juga Disha berucap terimakasih, panggilan lebih dulu dimatikan sepihak. Raut muka Disha yang antusias pun berubah masam seketika.
"Sialan nih bocah!"
...*****...
"Lo gila nyuruh gue ke sini?"
Disha mendongakkan kepala. Tersenyum lega kala mendapati bestie nya itu datang dengan cepat. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.35 dan tentulah kalau sahabatnya itu telat atau memakan waktu lama dalam perjalanan, rencana dirinya pasti hanya tinggal wacana semata.
"Duh, gak usah protes deh, Blin. Mending sekarang cepet lo dandanin wajah gue. Keburu Luki jemput gue nih!"
Beginilah memang tujuan Disha memanggil seorang Blinda Ratnaduhita. Gadis bertampang judes ini memang sudah menjadi sahabat serba guna bagi Disha sejak lama. Mereka berteman atas dasar simbiosis mutualisme. Dan bagi mereka, tidak masalah sama sekali. Selama mereka bisa saling melengkapi kebutuhan satu sama lain, maka tidak ada alasan untuk mereka memutuskan tali pertemanan.
__ADS_1
Dan di sini, sebenarnya lebih dominan Disha yang sering membuat repot seorang Blinda. Tetapi untungnya, meskipun Blinda sering berkata pedas, gadis itu selalu bisa membantu segala masalah milik Disha. Tanpa kecuali. Dan Disha sangat bersyukur atas itu.
"Gak waras. Lo gak ngotak pake baju apa sekarang? Buruan masuk aja ke mobil gue."
Usai menitah mutlak, Blinda melenggang pergi. Meninggalkan Disha yang mau tak mau harus membuntuti langkah sahabatnya.
Dengan bibir mengerucut, Disha masuk ke dalam mobil Blinda yang bisa dikatakan tidak murah. Sudah menjadi rahasia umum kalau sahabat sekaligus teman sebangku Disha ini adalah orang kaya. Namun, kadang Disha itu terheran-heran, mengapa Blinda berbeda dengan orang kaya biasanya? Gadis itu lebih memilih berpakaian simple. Tidak suka berias. Dan jarang sekali mengenakan pakaian-pakaian mewah. Berbanding terbalik sekali dengannya yang tiap harinya selalu ingin tampil cantik dan elegan. Walau kenyataannya semua itu ... susah.
"Lo pasti cuci muka pas lagi keringetan lagi 'kan?" Blinda bertanya sambil mulai membubuhi wajah Disha dengan bedak tipis. Bibirnya terlihat berdecak kesal.
Disha menyengir polos, "Masa iya gue tayamum padahal jelas-jelas air kran rumah gue nyala sampe tumpah-tumpah?"
Blinda memutar bola mata jengah. "Alasan. Lo 'kan bisa keringin pake handuk?"
"Gak kepikiran, Blin. Waktunya udah mepet," kilah Disha. Yang kemudian mengerutkan hidung. Merasa mencium aroma sesuatu. "Lo abis nyemil sosis lagi?"
Blinda terlihat terkejut sekejap sebelum kemudian menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Y-ya."
"Tuh! Lo aja masih suks ngebantah omongan gue! Gimana bisa gue nurut sama lo?!"
"Tapi enak, Dis."
"Ya tapi gak baik buat lo, Blin."
Dan satu kesamaan mereka berdua. Mereka sama-sama keras kepala. Saling hobi ingkar janji atau pura-pura lupa atas apa yang sudah disepakati bersama.
"Ya, maaf.." ujar Blinda. Dengan nada yang bisa dinilai terkesan merasa bersalah.
"Kali-kali coba makannya pake nasi, Blin. Kan lo gak bakal gue omelin mulu. Makannya juga yang normal. Jangan satu kemasan lo abisin langsung, gak bagi-bagi ke gue lagi." tutur Disha sembari meraih ponsel dalam tas. Membuka kamera lalu memotret dirinya untuk dikirim kepada Luki.
"Gak bisa, Disha. Gak usah maksa gue mulu deh."
"Yaudah. Yaudah. Sakit perut nanti lo juga uang ngerasain 'kan? Bukan gue. Santuy.." walau terkesan berujar santai, Disha sebenarnya tengah menyindir gadis di sampingnya.
"Iya-iya. Nih pake hoodie gue. Baju lo gak bener banget, masa ketek kusam gitu bisa keliatan."
Disha kontan melotot. Bukan hanya karena Blinda mengkritik model bajunya melainkan juga karena gadis itu membuka hoodie putih yang dikenakannya tanpa aba-aba. Dan lebih parahnya, Blinda malah bersikap santai ketika tubuhnya hanya berbalut tank top polos warna hitam.
"Blin! Mending gue pake baju sendiri aja deh. Lo gila apa pake begituan doang?!" sewot Disha. Bukannya apa-apa. Masalahnya, mereka kini sedang berada di mobil. Bertiga. Dengan sopir tua berjenis kelamin laki-laki yang nampak diam saja sedari tadi.
Blinda yang mengerti jalan pikiran Disha pun tanpa banyak bicara langsung bergerak menarik tali di depannya. Dan dalam sekejap, penyekat berbentuk mirip horden pun turun ke bawah. Menghalangi area pandang sang sopir yang berada di kursi kemudi.
"Gak usah lebay, Dis."
__ADS_1
Disha mengusap dada. Lega. Pikirannya memang telah terkontaminasi hal-hal buruk sepertinya.
"Syukur deh. Gue cuman mau lo aman aja, Blin." ujar Disha. Dan Blinda sangat mengerti itu. "Makasih udah bantuin gue yaa."
Blinda menahan Disha yang hendak menutup pintu saat sudah keluar mobil. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum. "Imbalannya?"
"Iya-iya besok gue kasih!"
"Bagus. Udah sana!"
"Ya Allah, Blindaaaaa. Untung gue kagak jatuh anjir.." sungut Disha kala bahunya didorong mendadak dan cukup keras oleh Blinda.
Nihil. Bukannya mendapat permintaan maaf. Mobil gadis itu sudah lebih dulu melaju kencang. Disha menendang angin malam demi melampiaskan kekesalan. Dan setelah sadar sesuatu, Disha bergegas berlari menuju tempat di mana Luki akan menjemputnya.
"Huh .. huh .. huh .."
"Kamu lari-larian, Sayang?"
Disha yang napasnya tak teratur itu memegang dadanya kaget begitu melihat keberadaan Luki yang sudah menunggunya dari atas motor.
"Jangan ngagetin aku, tolong!"
"Sori. Sori." Luki mengambil sebelah tangan Disha lantas mengusapnya lembut seraya meminta maaf.
"Gak, enak aja. Kamu pikir aku punya jantung cadangan apa?" Disha menarik tangannya cepat. Melipat depan dada lantas memalingkan wajah sebal.
"Pulang futsal aku traktir makan deh."
"Oke, deal! Awas aja kalo kamu bohong!" sahut Disha cepat dan penuh nada mengancam.
Dan beginilah sisi lain seorang Disha. Sebuah sikap yang sedikit mustahil bisa Arjuna lenyapkan dan terima.
Genit dan banyak maunya.
Astaghfirullah, Disha..
...—————————...
To be continued.
Assalamu'alaikum.
Guys, gini aku mau jelasin dulu oke sama sifatnya Disha.
__ADS_1
Ini orang emang hobi cari pacar, tapi belum sampe kebawa hati. Disha lagi ada di proses cari-cari. Jadi ... boleh aja kalian bilang kalo nih orang gak ada akhlak mainin perasaan orang, tenang. Karma is real kok.
See you ☁