
"Jadi, kamu masih nggak mau putusin pacar-pacar kamu itu?"
Disha menundukkan kepala dalam. Mulutnya bungkam. Baru saja bangun beberapa saat lalu namun Anita sudah menjejali bermacam omelan tentang tingkahnya yang tak kunjung berubah.
Arjuna mendekat dengan heran. Cowok yang sebelumnya duduk di sofa dengan jarak membentang dengan Gangga itu menatap Anita ragu, "Bukannya Disha cuman punya satu pacar Tan? Itupun udah putus."
Anita sedikit terlonjak, sebelum kemudian wanita itu menatap Disha tajam. Bingung. Bagaimana cara menjelaskan sifat putrinya yang begitu ramah ke lawan jenis itu? Anita tidak yakin kalau Arjuna masih mau melanjutkan pertunangan setelah fakta ini terungkap.
Namun, lebih membebani lagi jika mereka semakin banyak berbohong. Lebih baik, Anita jujur saja. Apa adanya. Walau ia tak yakin akan hasil akhirnya.
Sebelum bicara, Anita menghembuskan napas lelah. "Maaf kalo ini buat kamu kaget dan sakit hati,"
"Emangnya kenapa, Tan?" Arjuna makin penasaran.
Sementara di sebrang sana, Gangga hanya mampu berdecak. Tersenyum mengejek. Lihat saja, pasti cowok itu akan langsung memutuskan hubungan pertunangan kala tahu bagaimana tingkah Disha terhadap lawan jenisnya.
"Sebenernya.. Disha itu punya pacar banyak, suka gonta-ganti---"
"Maksudnya Disha.. itu playgirl, Tan?" Arjuna memotong.
Anita betulan ingin terbahak kala mendengar Arjuna berujar demikian. Berbeda hal dengan Disha yang langsung mendongak. Menatap Arjuna tajam.
"Ya mungkin semacam itu. Disha bisa punya pacar 10 sekaligus."
Arjuna terdiam beberapa saat. Membuat jantung Anita nyaris berhenti berdetak karena sungguh wanita itu tidak tahu apa yang ada di kepala Arjuna sekarang.
Keyakinan Gangga pun semakin kuat kala cowok dengan seragam yang tak lagi tapi itu pasti akan mencak-mencak. Mencaci maki Disha dan tanpa berpikir panjang akan segera memutuskan pertunangan mereka. Gangga jadi tak sabar.
"Jun---"
"Maklum aja sih, Tan. Orang anak Tante manisnya kebangetan gini. Siapa coba yang gak klepek-klepek?"
Praduga mereka semua terpatahkan. Disha yang awalnya merasa senang bahwa hidupnya akan terbebas dari seorang bernama Arjuna mendadak berkeinginan pingsan kembali. Bagaimana bisa, dengan enteng, Arjuna malah memujinya manis?
"Arjuna, kamu gak marah?"
Arjuna menatap Anita sembari menggeleng. Sebelum kemudian menaruh sebelah tangannya di atas puncak kepala Disha. Di sana ia mengelus rambut Disha lembut, "Cuman nyeri dikit, Tan. Abis itu pasti ilang kok. Ya kan, Disha?"
"Gak usah pegang-pegang!" Disha menepis cepat tangan Arjuna. Sebab kedua pipinya sudah berubah merona karenanya.
Anita menatap Disha tajam, "Jaga sikap kamu, Disha."
Disha hanya mampu memajukan bibir bawah. Mengalihkan muka. Dan membiarkan Anita kembali mengobrol bersama Arjuna.
__ADS_1
"Tante bener-bener gak nyangka kalo---"
"Ngga, anterin gue jalan-jalan ke taman!"
"Sama gue aja, Nad." serobot Arjuna.
"Ngga, mau gak?!" Disha mengabaikan Arjuna.
Gangga yang merasa ini kesempatan bagus pun beranjak cepat, bangkit lalu mengambil kursi roda di pojok ruangan kemudian mendekati Disha.
"Bantu gue turun."
"Nadisha, sama gue aja ya?" Arjuna berujar lagi.
"Lo masih harus ngobrol sama Bunda. Gue bosen, mau jalan-jalan dulu." ucap Disha tanpa menatap Arjuna.
Gadis itu terlihat turun dan duduk di kursi roda dibantu oleh Gangga. Sementara Gangga dalam diam, ua memberi senyuman mengejek pada Arjuna. Arjuna yang melihatnya hanya mengepal erat tangan di samping badan.
"Tan, saya izin bawa Disha jalan-jalan ke taman dulu."
Anita mengangguk. Tak bisa berkelit ataupun mencegah, sebab Gangga memang sangat patut dipercaya dan terlalu baik pada keluarganya.
Setelahnya, Gangga dan Disha pun keluar dari kamar inap. Meninggalkan Anita dan Arjuna. Berduaan. Lalu seolah mendapat situasi emas yang tepat, Anita menatap Arjuna lekat.
...*****...
"Hah.. anjir, gue berasa sesek napas di dalem sana!" keluh Disha. Seraya menyenderkan punggung ke kursi sembari memejamkan mata.
"Butuh bantuan napas?"
Disha menoleh ke belakang cepat, "Gila lo, Ngga."
Gangga menarik satu helai rambut Disha. Yang mana membuat sang empu merintih kesakitan. "Anjir, sakit, Ngga!"
"Makanya sering-sering laundry otak lo deh, Dis. Biar gak mikir kotor mulu kerjaannya." ujar Gangga yang berhasil membuat wajah Disha cemberut. Kesal.
"Ya lagian napas buatan kan emang nyambungnya ke situ, lo aja yang sok polos, bilang aja kalo sebenernya lo mau---"
Detak jantung Disha nyaris berhenti berdetak kala tiba-tiba kursi rodanya berhenti bergerak dan berbalik beberapa detik di lorong yang cukup sepi. Tahu-tahu di depannya sudah aja wajah Gangga yang sejajar dengan wajahnya. Nyaris berjarak satu jengkal saja. Dan Disha lagi-lagi merasa sesak napas tanpa aba-aba.
"Mau apa?"
Dan yang membuat Disha memejamkan mata ialah harum mulut Gangga yang aromanya nyaris membuat siapa saja betah berbincang lama-lama dengan cowok itu. Tidak tahu permen apa yang selalu cowok itu santap. Atau mungkin, Gangga menelan sebotol parfum secara cuma-cuma. Disha benar-benar tak tahu.
__ADS_1
"N-nggak! Apa sih lo!"
Gangga tersenyum. Entah bermaksud apa. Cowok itu memegang kepala Disha. Ah ralat, menekan salah satu telapak tangannya di saja. Lagi, Disha menunjukkan ekspresi sebalnya.
"Gak usah ngomong hal yang bisa buat bahaya dateng, paham?"
Disha mengernyit. Sebelum kemudian menepis sebelah tangan Gangga dengan keras. "Nggak! Awas lo! Ntar gue tambah pendek!"
"Lo udah pendek dari dulu, cebol."
"Gang--- Gangga ihhhhhh!" belum juga melampiaskan emosi sebab disebut cebol, Gangga kebih dulu memutar kursi roda Disha. Membuat gadis itu mencak-mencak sendiri. Menahan diri agar tak memukul Gangga sampai cowok itu sekarat.
Sementara Gangga, tanpa sepengetahuan Disha. Tersenyum geli sendiri. Begitu manis kalau saja Disha bisa melihatnya dan menyaksikannya. Atau mungkin.. bisa menjadi candu yang berujung rindu kalau-kalau gadis lain tahu.
"Huaaaa! Seger banget ya Allah!" Disha merentangkan tangan. Sembari tersenyum lebar. Betul-betul menikmati segarnya angin taman rumah sakit yang berhembus ke wajahnya.
Namun semua tak berlangsung lama ketika Gangga mendadak meraup wajah Disha kasar. "Jangan senyum lebar gitu, mirip joker lo."
Disha merengut kesal, "Nggak usah bikin kesel gue bisa gak sih, Ngga?!"
"Nggak. Lo gak liat orang-orang pada natap lo kek pasien RSJ?"
Disha langsung menatap sekeliling. Iya. Memang benar orang-orang tengah melihatnya. Tapi, itu jelas bukan tatapan merendahkan. "Apaan?! Mana ada mereka begitu, orang mereka pada terpesona sama gue!"
"Punya pala jangan kegedean, mau ngalahin Dora lo?" Gangga menempeleng kepala Disha yang terlalu percaya diri itu.
"Ganggaaaaa! Gue lagi sakit loh ya! Lo mah hobi banget buat gue nambah sakit!" protes Disha. Meraih tangan Gangga lalu meremasnya dengan sebal. Disha bahkan menekan-nekan punggung tangan Gangga dengan jempolnya.
"Gak kerasa apa-apa, dasar cebol." ujar Gangga. Tetap membiarkan tangannya dipegang oleh Disha. Dan Disha pun semakin kesal karenanya. Tanpa ba bi bu, Disha gigit telapak tangan Gangga kuat.
Bukannya merintih, Gangga malah menggelengkan kepala. Tersenyum miris. "Astagaaaa, ternyata lo mau cosplay jadi vampir juga?"
Terlanjur sebal, Disha pilih menghempas kasar tangan Gangga. Lalu tanpa berujar apapun lagi, Disha memilih mendorong kursi rodanya menjauh.
Gangga terkekeh lirih, menatap telapak tangan yang baru saja digigit oleh Disha. Bercak darah tampak terlihat di sana. Bohing jika rasanya tidak sakit. Gangga hanya mampu meringis kecil sebelum kemudian menyusul langkah si tukang ngambek itu.
..._______________...
To be continued.
Assalamu'alaikum, guys.
Alhamdulillah kira-kira apa nih rencana Bunda sama Arjuna? Haha, dasar Gangga, hobi jahilnya gak ketulungan banget astaghfirullah😂🙏
__ADS_1
See you☁