
"Permisi Pak?"
Blinda masuk sembari mengucap permisi, pun masih bersama Disha yang kini hanya diam saja. Memilih menutup mulut, mengirit suara dan tidak menguras tenaga demi seorang pria yang pasti menyambut setiap pengunjung dengan ramah. Ralat, terlampau ramah.
"Duhai, Blindaaa, ada gerangan apa kau ke sini? Oh bersama Disha pula, kenapa temanmu kelihatan tinggal tulang berbalut kulit saja?"
Untuk yang satu itu, Disha tak bisa protes. Gadis itu hanya diam. Mendelik. Mengumpat mati-matian dalam hati akan ungkapan yang Pak Diki atau yang lebih Disha suka sebut sebagai Pak Diksi. Sebab, segala omongan yang keluar dari mulut pria berkepala 4 itu selalu saja nyaris lebay dan berhubungan dengan yang namanya peribahasa atau hal-hal yang berbau diksilah.
"Lemes, Pak. Belum sarapan dia." jawab Blinda. Kemudian menyingkirkan Disha pelan yang sedari tadi tengah bersandar padanya agar menjauh. Disha pun menurut dengan wajah cemberut.
"Kami diberi hukuman sama Bu Inul supaya mengambil---"
"Blin, boong dikit napa sih, lo gak liat bukunya sebanyak itu hah?" Disha berbisik lirih di telinga Blinda. Mengecam gadis itu agar mau berdusta.
"Ada apa bisik-bisik begitu? Riuh angin pun kalah pelan dengan bisikanmu Disha." Pak Diki menyerobot.
"Ini loh, Pak. Kami diberi hukuman sama Bu Inul supaya mengambil alih tugas menata buku Bapak." Blinda tetap pada pendiriannya. Jujur. Dan didapatlah cubitan pedas di perut sang sahabat.
"Begitulah? Alangkah beruntungnya saya, oh tapi alangkah mirisnya kalian saat ini. Tapi tidak apa-apa bukan kalian mengerjakan apa yang seharusnya saya tekuni?" tanya Pak Diki. Entah merasa senang atau kasihan.
"Nggak papa, Pak. Bapak bisa kerjakan tugas yang lain." Blinda membalas sesopan mungkin.
Berbeda dengan Disha yang rasa-rasanya gatal sekali ingin mendebat dan memprotes apa yang akan dilakukannya setelah ini.
"Yasudah kalau begitu, semoga kalian bisa mengerjakannya sampai tuntas dan Bapak bisa pergi dengan rasa ikhlas." ujar Pak Diki.
"Bapak mau mati?" ceplos Disha. Antara kesal dan muak. Dan Blinda langsung mendelik, mencubit lengan Disha kuat. "Argh, sakit Blin!"
"Mengapa Disha berujar demikian? Kematian memang rahasia Tuhan. Tapi Bapak belum cukup bekal untuk dimakamkan." Pak Diki menimpal. Masih dengan kalimat syair yang membuat Disha berpikir lebih keras lagi. Sampai kapan pria ini berdiri di depan mukanya sementara dalam dadanya emosi Disha mulai bergejolak.
"Disha cuman lagi gak fit aja, Pak. Mohon maaf, Bapak bisa melipir pergi? Kami mau mulai menjalankan tugas yang Bu Inul beri." Blinda mengusir Pak Diki sesopan mungkin.
Pak Diki tersenyum sumringah, memegang kepala Blinda sembari berujar, "Kata-katamu bagus juga, Blinda. Kapan-kapan mau belajar bersama?"
Blinda hanya mengangguk. Lalu Pak Diki pun pergi usai mendoakan agar Disha lekas sembuh.
__ADS_1
"Lama-lama, gue bisa jadi penyair juga nih, Blin kalo deket-deket sama Pak Diksi." walaupun lemas, Disha tetap membantu Blinda menata buku sesuai apa yang diperintahkan Bu Inul.
"Ya baguslah. Kali aja lo bisa buat buku, dijual trus dapet duit." celetuk Blinda.
"Ya iyaa sih, tapi gue aja gak terlalu suka baca, kecuali sama buku-buku yang emang penting aja gitu buat kenal gimana tipe-tipe cowok dan cara ngatasinnya." ujar Disha. Membuat Blinda menempeleng kepala gadis itu dan Disha yang tengah lemas itupun limbung. Jatuh ke lantai. Yang untungnya beralaskan karpet tebal warna biru.
"Ya Allah, Blinda.. lo mah tau gue lagi lemes pake segala tempeleng pala.." keluh Disha. Seraya bangkit dengan wajah yang ditekuk. Sementara Blinda hanya meminta maaf singkat, sebenarnya gadis itu juga khawatir pada Disha. Namun melihat Disha yang masih saja bisa mengomel padanya, Blinda rasa Disha tak apa-apa.
Beberapa menit setelahnya. Tinggal beberapa tumpuk buku yang perlu ditata di rak. Disha izin keluar perpustakaan sebab gadis itu mengaduh kebelet pipis lagi. Aneh. Padahal beberapa saat lalu Disha sudah izin padanya ke toilet.
Namun Blinda hanya mengiyakan, membiarkan Disha pergi setelah gadis itu terlihat mengecek ponselnya dan seperti tersenyum senang?
Keluar dari perpustakaan. Murid-murid sudah mulai berlomba-lomba keluar kelas. Disha bisa melihatnya sebab letak perpustakaan yang ada di lantai dua.
Kemudian setelahnya ia mengecek ponsel, memberi pesan lagi pada salah satu pacarnya. Menanyakan di mana lokasi pacarnya sekarang yang katanya hendak mengantarkan makanan padanya.
Sembari melangkah beberapa jengkal ke ujung pembatas tembok perpus yang tingginya hanya sebatas pinggang remaja laki-laki, sebuah kantong plastik besar tersodor di depan Disha.
Masih dengan menundukkan kepala, Disha tersenyum lebar. Dengan suara cemprengnya ia berujar, "Kok cepet banget sih, Yon datengnya?"
Pantas saja Deon, pacar Disha yang kesekian diam saja kala gadis itu ajak bicara. Rupanya yang di depannya ini bukan cowoknya yang ramah dan romantis itu melainkan hadir cowok kaku dan cuek yang berstatus sebagai sahabatnya sendiri.
"Ngapain di sini? Lo pasti salah _server_, Blinda belum keluar woi." sudah menjadi hal wajar, Disha selalu mengaitkan segala hal saat di sekolah tentang Gangga pada Blinda. Beda tempat jika di rumah, gadis itu pasti akan bertindak tidak tahu diri pada cowok yang disukai Blinda tersebut.
"Ngga? Malah diem aja sih, niu kreseknya, kasih aja ke Blinda noh. Chat suruh keluar gitu," Disha juga hobi sekali mencomblangkan sahabatnya ini dengan Blinda. Dengan harapan Gangga bisa membalas perasaan yang Blinda punya.
Gangga memang menerima kresek yang ia beri pada Disha lagi. Tapi cowok itu hanya mengambil botol Aqua, menaruh kresek ke lantai lalu membuka penutupnya untuk ia sodorkan pada Disha.
"Ngga, gu---"
"Minum, napas lo bau."
Disha merengut kesal, tak urung cowok itu menerima botol minuman yang Gangga beri. Meneguknya hingga tersisa separuh.
"Ambil," Gangga kembali menyodorkan kantong kresek para Disha.
__ADS_1
Disha menggelengkan kepala, "Nggak. Gue udah kenyang."
"Mana ada kenyang cuman karena minum doang,"
"Serius, Ngga. Makanya gue heran, lo beli minuman di mana sih? Kok manjur bener.." Disha tertawa ngakak pura-pura.
Namun kenyataannya perut Disha malah berbunyi keroncongan lagi. Hal yang sontak mengundang tawa Gangga dan ringisan malu dari seorang Disha.
"Yakin udah kenyang?"
"Nggaaa! Jangan ledekin gue ah! Jahat lo mah!" Disha memukul-mukul lengan Gangga dengan tenaga yang tidak bisa dibilang kecil.
"Gue diem aja tuh,"
"Tapi lo ketawa, tuh kaaan! Gangga ih! Berhenti gak lo?!" Disha kembali protes saat Gangga menguarkan tawa lagi.
Namun Gangga malah semakin gencar menertawakan Disha.
Disha menghentakkan kaki kesal. Menilik ponsel yang berdenting. Lalu mendelik kala membaca satu pesan yang langsung membuatnya mengalihkan pandangan.
"Blindaaa haiii!" Disha melambaikan tangannya. Menyapa sang sahabat karib yang rupanya sudah berdiri di depan perpustakaan tersebut. Dan saat itu pula, Gangga menghentikan tawanya.
Belum juga Gangga melontar kata lagi pada Disha, gadis itu sudah lebih dulu berlari, mendekati Blinda sembari menenteng tinggi kresek di tangannya.
Dari jarak jauh, Gangga masih bisa mendengar apa yang Disha katakan. Mendengus sebal, Gangga pun melangkahkan kaki pergi. Tanpa membalas tatapan yang Blinda layangkan lebih dulu.
...______________...
To be continued.
Assalamualaikum guysss. Haloooo.
Seplay girl nya Disha, nih cewe gak bakal lah gebet doi sahabat sendiri, manfaatin mah iyaa🙏😭
Mogaa sukaak.
__ADS_1
See you☁