Efemeral

Efemeral
Part 5


__ADS_3

"Ke kamar Bunda sekarang, Disha!"


Baru saja mereka sampai dan Arjuna menurunkan Disha di sofa. Anita sudah lebih dulu datang mendekat. Sendiri. Entah di mana keberadaan Ranti. Yang jelas, raur wajah Anita benar-benar membuat Disha tak bisa melawan. Gadis itu pun bangkit laku berjalan lunglai menuju kamar Bundanya yang ada di sisi tangga.


"Muka kamu kenapa, Jun?" Anita bertanya dengan nada cemas kala melihat wajah Arjuna yang jauh dari kata baik-baik saja.


"Jatuh, Tan." jawab Arjuna. Berdusta.


Anita mengangguk, "Tante ambilin kotak P3K sama es batu dulu. Kamu tunggu sini."


"Gak usah, Taβ€”"


"Nurut kalo kamu mau tinggal di sini."


Arjuna hanya mampu menghela napas. Pasrah. Cowok itu membiarkan Anita pergi ke arah dapur. Dan beberapa saat setelahnya, Anita sudah kembali datang dengan baskom es batu dan kotak P3K.


"Kamu bisa obatin luka kamu sendiri, 'kan?" Anita bertanya sembari menaruh apa yang dibawanya ke atas meja.


Arjuna mengangguk tanpa protes.


"Bagus. Tante mau urus anak gadisnya bau kambing itu dulu, oke?"


Arjuna terkekeh pelan seraya mengangguk. Membiarkan Anita pergi. Dan beberapa detik setelah punggung Anita menghilang, Arjuna mendatarkan kembali wajahnya. Cowok itu membungkus es batu dengan kain lalu menempelkannya di sudut bibir secara perlahan.


"****!" Arjuna rebahkan punggung di kursi dengan kedua bola mata memejam.


...🌐🌐🌐...


"Amnesia Retrograde."


Disha refleks memegang bagian dadanya yang berdebar sebab Anita mendadak membuka pintu kamar dengan ekspresi serius.


"Astaga, Bund! Disha kaget ini loh. Untung gak teriak jailangkung nih mulut!"


"Kamu masih mau bercanda saat tahu gimana kondisi Arjuna sekarang hah?"


Begitu Arjuna dan Disha bergandengan tangan keluar rumah. Ranti bangkit buru-buru. Mendekat ke pintu lalu menguncinya. Hal itu tentu membuat Anita terheran-heran.


"Loh, kenapa dikunci, Ran?"


"Anita, aku mau ngobrol serius sama kamu."


Anita mengangguk saja kala Ranti membawanya duduk bersebelahan di sofa panjang. Setelahnya, Ranti terlihat menghela napas panjang lalu menatap Anita berkaca-kaca.


"Arjuna amnesia, Nit. Dia kehilangan ingatan masa lalunya."


"Gak mungkin, gimana bisa itu terjadi?"

__ADS_1


"Arjuna kecelakaan. Awalnya aku kira itu cuman kecelakaan biasa. Tapi ternyata, kecelakaan ini buat Arjuna kehilangan memori masa lalunya. Dokter bilang, sebenarnya kecelakaan ini gak sepenuhnya jadi alasan Arjuna amnesia. Katanya ... otak Arjuna emang udah bermasalah sejak lama. Dia ..."


"Pelan-pelan aja, Nit.."


"Dia koma 3 minggu. Dan bangun-bangun, Arjuna keliatan ketakutan, Nit. Arjuna bilang gini "Maa, Kavin mana? Katanya dia mau pinjam tugas prakarya aku. Aku mau kasih buku aku ke Kavin, Maa." dia tiba-tiba nyeletuk gitu dengan ekspresi ketakutan yang gak aku duga-duga, Nit."


"Tapi ... bukannya itu wajar, Ran? Kali aja anak kamu emang lagi inget sama teman kelasnya."


"Masalahnya, Kavin itu teman SMP Arjuna, Nit. Dulu, Kavin selalu bully Arjuna. Gak satu kali aja, Arjuna ngadu kalo tubuhnya sakit karena kenapa pukul sana-sini sama Kavin."


"Ran.."


"Arjuna kehilangan ingatan 5 tahun lalunya, Nit dan itu cukup menyedihkan dan membahagiakan bagi aku."


"Kamu bahagia padahal anak kaku sendiri amnesia, Ran?"


Ranti terlihat menghela napas pelan. "Bukan tanpa alasan, Nit. Semenjak SMA, anak aku udah mulai gak bener pergaulannya. Dia ikut geng motor, tawuran, bolos, bahkan gak sekali dua kali sekolah panggil aku karena Arjuna ketahuan bully adik kelasnya."


Anita menutup mulut. Syok. Tak menyangka.


"Lalu..?"


"Yaa, aku rasa buntu saat itu, Nit. Aku bener-bener dikejar waktu. Aku harus buru-buru ambil tindakan. Biar Ajruna gak kembali ke jalan yang salah. Lalu, aku keinget kamu.. kamu yang dulu ngasih pesan ke aku saat punya anak perempuan pertama kali. Dan entah kenapa, aku jadi kepikiran tentang pertunangan Arjuna dengan anak kamu."


"Ran, tapi ini benar-benar gak masuk di akal aku, kamu ... apa agak terlalu jahat kamu bilang tentang pertunangan sama Arjuna?" Anita terlampau bingung dan tak habis akal akan jalan pikiran sahabatnya ini.


"Ran, kamu sadar gak sih kalo kamu tuh jahat?"


"Nit.. aku mohon ... izinin Arjuna tinggal di sini yaa, 2 bukan aja deh. Nanti segala biaya keperluan Arjuna aku transfer. Aku harus urus abang-abang kembarnya dulu, mereka belum tahu apapun tentang kondisi Arjuna." Ranti coba bujuk Anita. Wanita itu tampak menggenggam erat jemari Anita.


"Ran, tapi aku gak yakin Arjuna mau sama Disha yang kayak gitu."


"Anita, itu masalah belakangan. Entah mereka akan terlihat cinta atau enggak, itu bukan urusan kita. Biar mereka sendiri yang ngejalanin. Syukur-syukur, Arjuna bisa cinta beneran sama Disha. Dan begitupun sebaliknya."


"Aku agak ragu, but it's okay lah, Ran."


"Makasih Nit Nit!" Ranti langsung peluk Anita erat dengan perasaan buncah bahagia.


"Ish, jangan panggil kayak gitu!"


"Maksudnya, Disha kayak gitu tuh, kayak apa ya, Bund? Di sini Disha merasa Bunda lagi ngeremehin anak sendiri ya." Disha langsung sela sinis usai Anita selesai bicara.


"Loh? Kamu gak ngaca emang? Kelakuan kamu tuh mirip reog kesurupan!"


"Khayal Bunda tuh! Mana ada reog kesurupan!"


"Ada. Kamu buktinya. Makanya, mulai sekarang Bunda saranin, baik-baik deh kalo sama Arjuna. Pasang senyum manis di wajah gak seberapa kamu itu, rayu atau gombalin dia kek." cerocos Anita.

__ADS_1


Disha melongo karenanya, "Bunda mau ngajarin Disha jadi murahan? Ayolah, Bund! Disha udah punya masa depan sendiri!"


"Misi dipin misi dipin, halah, prut!" Anita dengan gemas mencubit bibir Disha yang mengerucut ke depan, "Masa depan kamu tuh Arjuna Sakti Pradigta."


"Aduhhh, Bund, sakittt!" keluh Disha seraya mencoba menjauhkan tangan Anita. Dengan lirih ia berujar, "Gak atau aja seserem apa Arjuna tadi."


"Sekali-kali nurut kek Dis. Jangan buat Bunda keluar suara emas mulu. Jadi anak berbakti deh, emangnya kamu gak mau masuk surga? Inget ya, Disβ€”"


"Syudah, cukup! Disha udah tau kelanjutannya." potong Disha dengan muka mendramatisir buatannya.


"Nah, bagus kalo udah tau!" Anita meraup wajah Disha gemas. Wanita itu kemudian merangkum pipi Disha agar hanya menatapnya seorang. "Jadi, mulai sekarang, perbanyak deket-deket sama Juna yaa. Bunda bakal sujud syukur kalo Juna sampe cinta beneran ke kamu, Dis."


"Kalo gitu kenapa gak Bunda aja yang ngedeketin Arjuna?! Sekalian tuh, Bunda yang tunangan sama dia! Beres, 'kan?!" Disha buru-buru bangkit usai menyelesaikan kalimatnya.


"Disha kambing! Anak siapa kamu, hah?!"


"Wle!" Disha menjulurkan lidahnya pada Anita. Gadis itu lalu membuka knop pintu cepat-cepat.


Alangkah terkejutnya saat Disha membuka pintu, wajah Arjuna sudah terpampang nyata di depannya. Luka di wajah cowok itu kelihatan sudah diobati.


"Kamar gue di mana?"


Disha tersedak mendadak. Bola mata gadis itu melotot. Tidak menyangka kalau Arjuna akan seberdamage ini dengan gaya bicaranya yang baru.


Anjir!! Jangan sampai gue jilat upil gue sendiri gegara kembaran Rahwana ini!!


"Disha?"


"Kamar kamu di atas, Jun. Di samping kamar anak kambing ini, gak papa, 'kan?" Anita datang menyela pembicaraan.


"Gak papa, Tan." Arjuna mengangguk setuju.


"Disha?" Arjuna kembali memanggil gadis yang tampak terdiam tersebut.


"Duh, Jun. Sadar gak sih, Disha tuh abis kepincut sama pesona suara kamu tadi? Iya, 'kan, Sayang?" Anita menepuk punggung Disha dengan tenaga yang tidak bisa dibilang kecil.


"Ah? Eh? Oh? Ih! Enggak! M-mana ada!"


"Muka lo merah, Dis. Masih kecapean karena lari-larian tadi? Istirahat gih," Arjuna mengacak pelan rambut Disha sembari mengulas senyum manis.


"Awas! Jangan pegang-pegang!" Disha langsung berlari menjauhi Wejuna dan Anita yang sudah tertawa kompak di tempat.


"Semoga nyaman tinggal di sini ya, Jun." Anita memberi pesan sebelum melangkahkan kaki menuju dapur.


Arjuna mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas, "Semoga dan Disha juga."


β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2