
"Blin lihat, doi lo ngasih cemilan sekresek nih!" Disha berujar dengan nada gembira. Gadis itu melangkah mendekat lalu menyodorkan kresek pada Blinda.
"Blin? Pegang buruuu." Disha menggoyangkan kresek di tangannya. Namun Blinda malah menatap entah kemana.
Mendengus sebal, Disha melambai-lambaikan tangan kirinya ke depan wajah Blinda. "Hoiiii! Ngeliatin siapa sih lo? Gue sampe dianggurin gini."
Blinda balas mendengus, gadis itu menatap Disha lekat nan tajam. "Katanya mau ke toilet?"
Menyengir, Disha merapikan anak rambutnya yang berantakan. "Kan tadi udah, Blin."
"Mana tuh? Gue gak liat, lo kalau asyik ngapel sama sobat lo kan?" tanya Blinda, sengit.
Disha menowel dagu Blinda sembari tersenyum geli, "Ohhh ceritanya cemburu nih sama gue?"
Blinda membuang muka kesal, "Gak ada guna cemburu sama cewek seribu pria kek lo!"
"Iya itu lo tau, kenapa segala salah paham sih?" Disha masih tak habis pikir.
"Gue bukannya salah paham, tapi lo aja yang tukang kibul. Ijinnya pergi ke mana, taunya malah pergi ke sana."
"Ya Allah, Blin, gue gak bermaksud nikung lo ya! Suw---"
"Gue ng---"
"Dengerin dulu! Gue ketemu Gangga gak sengaja, Blin. Serius. Awalnya gue cuman mau ketemu pacar gue, Deon. Katanya dia mau ngasih gue sesuatu," Disha mengotak-atik ponselnya lalu menunjukkannya pada Blinda. "Nih, gue nggak bohong, Blin."
"Jangan salah paham ya, please.. gue beneran gak niat ambil Gangga dari lo kok. Gue juga tau, Gangga kan udah lo stempel dari dulu." cerocos Disha. Seraya menatap Blinda serius agar gadis itu bisa percaya akan apa yang dia ucapkan.
"Lagian siapa juga yang salah paham," ujar Blinda. Disertai decakan. Gadis itu menyentil gemas dahi Disha. "Jangan sok tau kalo jadi orang oke? Cocokan jadi tempe juga."
"Dikit lagi lucu, Blin. Tapi ya gimana, lo emang kelihatan salah paham gitu sama gue." ujar Disha. Lalu kembali menyodorkan kantong kresek di tangannya ke Blinda. "Nih pegang!"
"Ogah!"
"Blin, ah! Tinggal terima juga. Ini dari Gangga loh, yakali lo mau tolak."
"Bukunya belum selesai diberesin, Dishaaa."
"Bohong! Gak mungkin lo keluar kalo semuanya belum kelar."
"Ck bentar lagi masuk, males ah bawa makan-makanan."
"Kan bisa lo makan di rumah Blindaaa."
__ADS_1
"Gue masih mampu beli sendiri kali,"
"Terima Blinda, atau mau gak gue kasih foto Gangga lagi hm?"
Untuk yang terakhir itu, Blinda akhirnya luluh juga. Dengan rasa kesal yang ia tahan mati-matian sebab berhadapan dengan seorang keras kepala seperti Disha, Blinda memilih menerima kresek yang Disha beri. Walau ia tahu, Blinda sangat tidak pantas menerima apa yang bukan menjadi miliknya.
"Sedekah buat cacing perut lo."
Disha hanya mampu mendengus, tak urung ia tertawa kecil. Mengantongi apa yang Blinda beri sebelum kemudian mengekori sahabatnya itu untuk kembali ke kelas.
...*****...
"Anjir, Blin, baru aja kita masuk. Mau leha-leha bentar makan cemilan, eh taunya udah ada guru aja. Gak bersahabat banget sih ini bel sekolah." Disha menggerutu sembari menaruh jajan yang Blinda beri ke dalam laci meja tempat dirinya duduk. Gadis itu menghentikan gerakan tangannya kala menyadari sesuatu.
"Blin, bentar! Kok kayak ada botol kecil di laci gue ya," Blinda sontak menoleh pada Disha yang kini sudah memandangnya dengan tatapan ragu. Kemudian Disha menarik pelan tangannya dan mendapati sebuah minuman yang tak dirinya duga dalam genggamannya, "Blin, yogurt!"
Blinda menaruh telunjuk di bibir kala mendengar bagaimana suara Disha yang tidak bisa dikata lirih tersebut, "Gak usah lebay!"
"Yaa maap, abisnya udah berapa hari ini gue gak minum yogurt, hehe. Tau aja nih fans gueee." Disha menatap yogurt di tangannya dengan senyum senang dan bangga.
"Blin, lihatin depan dong, Pak Seno masih madep papan tulis kan? Gak ngadep sini kan? Awasi bentaaaar aja deh, Blin." Disha memberi perintah pada Blinda.
"Mau ngapain sih lo?" Blinda bertanya curiga.
"Jangan lama-lama." pesan Blinda. Ketus.
Disha berdecak lirih, "Iya elah, bawel."
"Bacot, lo kalo minum lama banget bege!" cibir Blinda. Paham akan kebiasaan yang biasa Disha lakukan.
"Nggak ini mah, gue teguk 3 kali abis."
Blinda hanya melakukan apa yang Disha perintahkan. Sembari menilik sekejap sahabatnya itu, Blinda bisa melihat jelas bahwa apa yang dikatakan Disha tidak main-main. Yogurt dalam botol kecil itu berhasil Disha habiskan dalam 3 kali teguk. Dan ya, pada akhirnya Disha memasang wajah pamer karena bisa menjalankan apa yang dirinya katakan.
"Dah kan? Sekarang fokus ke depan."
"Lah? Pak Seno kemana Blin? Kok gak ada?" Disha bingung karena di depan sana sudah tidak terlihat keberadaan Pak Seno.
"Ada urusan, trus kita disuruh garap soal di papan tulis tuh."
Disha menatap malas papan tulis yang berisi beberapa butir soal mengenai sejarah tersebut. Disha malah memilih menumpukkan kedua tangan lalu menaruh kepala di atasnya. "Gak mau ah, magerr."
"Kerjain, Dis. Barang ayo, ntar ngumpulnya gak dadakan." Blinda memberi saran sembari mengguncang tubuh Disha.
__ADS_1
Disha tampak diam saja. Blinda jadi curiga. Jangan-jangan gadis itu susah..?
"Dis, anjir, malah tidur lo!" Blinda kembali mengguncang tubuh Disha. Kali ini ia mendekatkan wajah untuk melihat bagaimana kondisi Disha saat itu. Sudah terlelapkah sahabatnya itu?
"Disha, woi! Jangan tidur dulu bege!"
"B-blin, napas gue kok sesek ba-banget y-ya?" Blinda kaget bukan main kala Disha mendadak berujar dan mendongakkan kepalanya lemah.
"Jangan bercanda lo!"
"M-muka gue kok gatel juga ya.."
"Disha serius, bangun dulu anjir."
Susah payah Disha menegakkan badan. Menghadap Blinda. Dan alangkah terkejutnya Blinda kala mendapati banyak ruam-ruam kecil timbul di wajah dan kedua tangan Disha.
"Muka lo---"
Belum juga Disha menyelesaikan kalimatnya, Blinda dibuat panik bukan main kala Disha langsung ambruk ke depan. Blinda refleks menahan tubuh gadis itu sembari menepuk-nepuk punggung Disha, memastikan apakah sahabatnya ini benar-benar serius atau tengah bercanda. Tapi seperti---
"Anjing, Blinda! Temen lo kena alergi itu, kenapa malah didiemin aja sih?!" salah satu teman kelas Blinda bernama Gina mendekat dengan ekspresi sedikit kesal. Gadis itu makin mendekatkan diri ke Disha. Menelisik kondisi gadis itu lebih jauh sebelum kemudian berteriak pada sang ketua kelas.
"Agus anjir Agussss! Woii, tolongin Disha ini! Dia kena alergi!"
"Agus lagi keluar, Gin. Dari tadi belum balik-balik,"
"Emang dasar ketua gadung tuh anak," Gina mencibir kesal. "Ini woi anak cowok tolong bawa Disha ke UKS!"
"Emang kenapa si Disha?"
"Alergi, bolot! Bisa bahaya kalo gak diatasi segera! Tolong dong anak cowok, mana nih?! Ban---"
"Minggir, Gin."
...______________...
To be continued.
Assalamu'alaikum guys.
Disha kena alergi dan siapakah yang nolong anak pembohong ini?? 😶
Mogaa sukaak.
__ADS_1
See you☁