Efemeral

Efemeral
Part 16


__ADS_3

Gina mematung diam. Agak tidak percaya melihat keberadaan seseorang di depannya kini.


"Lo mau di situ terus sampe Disha mati?" sarkas cowok itu.


"O-oh iya bentar, Yon."


Deon, cowok yang terkenal dengan sifat cuek dan sinisnya itu rupanya berstatus sebagai pacar seorang Disha dalam sembunyi-sembunyi. Alias backstreet. Lain hal jika bersama dengan Disha, Deon akan berubah sifatnya 180 derajat. Tidak akan ditemukan Deon yang tidak berperasaan. Hanya ada Deon yang merasa takut kehilangan.


Gina pun menyingkir, pun dengan Blinda yang masih dengan kepanikannya menyerahkan Disha dengan cuma-cuma. Toh, Blinda juga tahu kalau cowok di depannya ini adalah kekasih kesekian dari seorang Nadisha Maktika Pratiwi Juliansyah.


Dalam sekali gerak, Deon membopong tubuh Disha di depan. Ala bridal style. Dan seisi kelas langsung bersorak heboh. Merasa tidak menyangka dan tak lagi meragukan pesona seorang Disha.


Blinda tak bisa diam saja, ketimbang di kelas terus dengan cemoohan penghuninya, Blinda memilih berjalan cepat. Mengejar langkah Deon. Dan gadis itu berhenti beberapa langkah kala di depan sana, Deon juga menghentikan langkahnya.


"Kenapa dia?"


Deon melirik Gangga tak minat. "Lo gak bisa liat sendiri?"


"Gue tau dia alergi,"


"Yaudah, minggir."


"Gak, biar gue aja yang bawa dia. Sini."


Deon berdecak kasar, "Gak usah halangin gue bisa gak sih, Ngga?!"


"Nggak. Sampe kapanpun gue bakal terus ganggu lo. Siniin Disha buru."


"Nggak, Disha pacar gue."


"Gue sahabatnya!"


"Status lo lebih rendah dari gue." Deon menatap Gangga remeh.


Gangga sudah emosi, untung saja sebelum Gangga merealisasikan emosinya, Blinda lebih dulu datang. Melerai pertikaian yang amat membahayakan bagi nyawa sahabatnya itu.


"Bisa gak usah ribut dulu? Kasian Disha!"


"Gue cuman mau bawa cewek gue, nih anak ngalangin gue segala." Deoj beralasan. Melirik Gangga sinis.


Blinda menghela napas. "Yon, biarin Gangga yang ba---"


"Kok lo gitu sih, Blin?! Gue pacar Disha! Gue lebih pantes!"

__ADS_1


Blinda memejamkan mata sejenak sebelum kemudian kembali bicara, "Bukan masalah pantes atau enggak pantesnya, Yon. Gue tahu. Tahu banget kalo lo sayang banget ke Disha. Tapi tolong, Disha gak mungkin cukup dibawa ke UKS. Dan untuk hal kayak gini Disha perlu dibawa ke rumah sakit dan ..." Blinda menjeda kalimatnya. Seperti ada batu kasar yang menyangkut di tenggorokannya. Blinda benar-benar merasa tidak nyaman kala matanya bersitatap dengan Gangga. "Cuman Gangga yang lebih paham kalo masalah kayak gini, jadi please.. Yon, jangan egois."


Deon terdiam. Nampak bergelut beberapa saat dengan pikirannya sebelum kemudian dengan tidak ikhlas menyerahkan tubuh Disha pada Gangga. Cowok itu juga merapikan anak rambut Disha sembari memberi kecaman pada Gangga. "Kalo dia sampe kenapa-kenapa, gue abisin lo."


Gangga mendengus kasar. Tidak usah diancam pun, Gangga tidak akan pernah membiarkan sesuatu terjadi pada Disha. Maka dari itu, Gangga memilih pergi saja tanpa mempedulikan Deon yang emosinya sudah benar-benar ingin keluar dan dilampiaskan pada cowok yang berstatus sahabat Disha itu.


Blinda beralih mengikuti langkah Gangga, namun begitu cowok itu menghentikan langkah mendadak. Blinda menghela napasnya sesaat.


"Bisa tolong gue? Sampein ke Pak Ilham, gue pinjem mobilnya. Terus lo tau hal yang selanjutnya lo lakuin kan?"


Blinda diam saja sembari mengangguk.


"Makasih, gue bakal inget jasa lo."


Mendengar Gangga berkata demikian tentu saja membuat Blinda merasa tak karuan. Hatinya benar-benar campur aduk rasanya sekarang. Senang bercampur bingung. Namun setelahnya ia bergegas melakukan apa yang Gangga inginkan. Memberi tahu Pak Ilham alis om cowok itu sekaligus merancang kalimat izin untuk kepergian seorang Disha dan Gangga.


Walau rasanya berat, tapi Blinda sudah terbiasa. Toh, mana ada sih cowok yang tidak peduli dengan sahabatnya sendiri? Bukan hal aneh lagi menurut Blinda.


...*****...


Gangga menaruh tubuh Disha di kursi depan. Samping kemudi. Lalu cowok itu mengenakan sabuk pengaman juga di tubuh Disha. Gangga sempat mengehentikan sejenak kegiatannya ketika wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari wajah Disha.


Ruam-ruam terlihat sudah memenuhi muka pucat gadis itu. Bibirnya pun ikut-ikutan pucat.


"Apa yang lo kasih ke mereka sampe mereka sebegitu pedulinya ke lo sih, Dis?" heran Gangga. Menghela napas sebelum kemudian menjauhkan wajahnya. Keluar dan menutup pintu perlahan.


Saat melewati pos satpam, Gangga sengaja membuka kaca jendela. Dengan tenang ia berujar, "Pak saya izin bawa temen saya ke rumah sakit dulu."


"Loh, emangnya kam---"


"Saya sudah punya SIM. Dan bisa tolong bukakan gerbang untuk saya? Temen saya gak bisa dibiarkan lama-lama."


Satpam bernama Pak Didin itu melihat jelas kondisi Disha yang memang tampak tak baik. Tanpa banyak tanya lagi, pria berkumis itupun membuka pintu gerbang. Membiarkan Gangga melajukan mobil usai ucap rasa terimakasih.


Gangga tahu kemana ia harus pergi sekarang namun cowok itu juga butuh kepastian akan keputusan seseorang.


Dan saat lampu merah, Gangga mengambil ponsel. Menghubungi Anita yang syukurlah panggilan diangkat walau di dering ke empat.


"Assalamualaikum, halo, Tan?" Gangga menyapa dengan setenang mungkin. Walau di dalam sana, dadanya bergejolak tak enak.


"Wa'alaikumussalam. Ya halo, Ngga? Tumbenan jam segini telfon? Emang lagi gak ***?"


"Tan, ini soal Disha.."

__ADS_1


"Disha kenapa, Ngga? Bikin ulah lagi dia? Omelin aja, Tante dukung 100 persen kok. Emang kadang suka bandel tuh anak,"


"Disha pingsan, Tan. Dia kena alergi. Ini Gangga mau bawa Disha ke rumah sakit."


Nada sok tidak peduli Anita berubah menjadi nada panik dalam beberapa detik saja. "Disha pingsan?! Alergi?! Kok bisa, Ngga?! Emang dia makan apa bisa sampe pingsan gitu?!"


Gangga menimang, agak tidak yakin dan bodohnya ia lupa bertanya dulu pada Blinda dan Deon tadi, "Disha cuman alergi sama kedelai. Kayaknya Disha gak sengaja minum susu atau yogurt kedelai, Tan."


"Aduhhh, ini akan kadang-kadang kalo makan minum langsung hap aja gak liat apa bahannya. Hikss, bawa ke rumah sakit langganan aja ya, Ngga."


Gangga rasanya ingin tertawa. Agak tergelitik hatinya kala menghadapi orang tua yang peduli namun malah masih sempat-sempatnya memberi ejekan pada sang putri.


"Ngga, kamu denger Tante kan?! Kamu gak kecelakaan karena bawa Disha kan?!"


"Aku baik-baik aja, Tante. Ini lampunya udah ijo, aku naruh HP dulu di depan."


"Hem, bagus Ngga bagus. Kamu itu bener-bener teliti banget. Gak kayak Disha kambing itu! Hiks, pokoknya buruan bawa ke rumah sakit ya, Ngga. Tante nyusul secepatnya." lihat bagaimana labilnya wanita yang berstatus ibu dari Disha itu.


"Iya, Tante. Aku mat---"


"Bisa ubah jadi panggilan video dulu gak, Ngga? Tante mau lihat anak kambing itu dulu."


Gangga bergerak cepat mengubah panggilan suara menjadi panggilan video, syukurlah jalanan di depannya sedang cukup lengang.


"Layarnya kenapa item semua, Ngga? Gelap banget kayak di dalem sumur." Anita berceletuk.


Gangga meringis, lupa bahwa cowok itu mengarahkan kamera belakang. Bukan depan. Alhasil, segera Gangga ubah arah kameranya.


"Ngga, Tante tau kamu ganteng, tapi Tante maunya liat anak kambing itu. Liat kamu ntaran lagi yaa."


Lagi, Gangga meringis. Kali ini sekaligus menyengir polos. Kembali memperbaiki posisi ponsel agar kameranya menghadap penuh ke arah Disha.


Sepertinya pergantian panggilan suara menjadi video ini seharusnya tidak terjadi. Karena begitu melihat wajah sang anak, Anita langsung berseru heboh. Menambah kepanikan seorang Gangga Cashel Iskandar.


"ASTAGHFIRULLAH HAL'ADZIM! DISHA KAMBING KENAPA MALAH BERUBAH JADI KODOK ZUMA GITU, NGGAAA!"


..._____________...


To be continued.


Assalamu'alaikum guys.


Aduuh, sekarang Gangga yang muncul dulu yaa. Luv sama Bunda Anita yang perasaan setengah-setengah, gak bisa full cemas sekalian 😭🙏💜

__ADS_1


Moga sukaaak.


See you☁


__ADS_2