
"Kau ..." Geram Boy dengan wajah penuh kekecewaan. "Sejak kapan kau berbohong? Apa jangan-jangan sejak kau mengaku sedang menstruasi?"
Tita terdiam dengan kepala yang tertunduk.
"****!" Boy mencengkram tangan Tita dengan erat, melampiaskan amarah yang ada dihatinya. Sungguh ia tidak menyangka kalau selama ini dirinya dibodohi oleh seorang Tita Anggora.
"B sakit." Lirih Tita berusaha melepaskan cengkraman tangan suaminya.
"Sakit kau bilang? Lalu bagaimana denganku? Kau kira aku tidak sakit menahan hasratku gara-gara kebohonganmu." Boy menghempaskan tangan Tita dengan kasar lalu turun dari atas tempat tidur. "Jika kau tidak ingin disentuh olehku, katakan dengan jujur! Maka aku akan mencari wanita lain diluar sana yang bisa memuaskan hasrat ku." Boy berjalan menuju pintu kamar.
"Ya carilah wanita lain diluar sana yang bisa memuaskan hasrat mu! Setelah itu ceraikan aku!" Teriak Tita.
Membuat langkah Boy Arbeto yang hendak membuka pintu kamar terhenti saat itu juga, dengan amarah yang sudah tidak terbendung lagi Boy berjalan kembali kearah tempat tidur.
__ADS_1
"Apa kau bilang?" Boy mencengkram rahang Tita dengan kasar, hingga membuat wajah wanita itu mendekat ke wajahnya.
"Ce-rai-kan a-ku B." Jawab Tita dengan terputus-putus, ia merasakan rasa panas di rahangnya karena cengkraman tangan Boy.
"Berani sekali kau berkata seperti itu." Boy ******* kasar bibir mungil Tita, menekan tengkuk wanita itu hingga membuat ciuman mereka semakin dalam.
Boy terus ******* bibir Tita tanpa ampun, walau sejak tadi wanita itu terus memberontak dengan memukul dada bidangnya.
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi!" Ucap Boy setelah melepaskan ciumannya. "Kalau tidak aku akan berbuat yang lebih parah dari ini." Boy mengusap bibir Tita yang terlihat bengkak karena perbuatannya.
Apa Boy tidak mengerti sama sekali, bahwa ia sanggup melayani hasrat pria itu asal melakukannya dengan cinta bukan dengan *****.
"Kau masih bertanya kenapa?" Boy menatap wajah Tita, ia bisa melihat dan mendengar wanitanya menangis dengan terisak, dan entah mengapa hatinya terasa sangat sakit. "Dengar Tit! Aku sudah pernah mengatakan bukan, apa yang sudah menjadi milikku tidak boleh disentuh orang lain. Itu artinya selamanya kau tidak akan aku lepaskan." Boy merangkum wajah Tita lalu menyatukan kening mereka. "Jadi jangan pernah menyebut kata itu lagi." Lirih Boy.
__ADS_1
"Tapi B kau tidak mencintai aku, jadi untuk apa —" perkataan Tita menggantung di udara saat tiba-tiba bibirnya di kecup dengan sangat lembut oleh suaminya.
Secara perlahan kecupan itu berubah menjadi ciuman yang menuntut dan semakin dalam, lidah mereka saling membelit dan bertukar saliva membuat ciuman itu terasa semakin panas.
"B ...."
Tita mulai mendesah saat ciuman itu turun ke leher jenjangnya, dan semakin turun ke dadanya bersamaan dengan remasan di salah satunya.
"B berhenti!" Tita meng-gelengkan kepalanya sambil menahan tangan pria itu yang hendak masuk ke dalam bagian intinya.
"Kau tidak ingin?" Boy menyesap dada Tita lalu menggigitnya hingga meninggalkan jejak kemerahan.
"Aku ...." Tita menggigit bibir bawahnya saat lagi-lagi pria itu menyerang titik sensitifnya.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu sayang." Bisik Boy sambil mendekap tubuh wanitanya, mendorong dengan halus hingga Tita telentang kembali di atas tempat tidur.