Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 45


__ADS_3

"Iya sih, sayangannya kau itu tampan." Sahut Tita dengan jujur.


Membuat Boy menarik kedua sudut bibirnya, sedangkan Tita lebih memilih untuk menatap jendela mobil dari pada menatap Boy, ia masih merasa kesal pada sikap suaminya saat di kantor tadi, selain itu Tita juga merasa takut pikiran kotornya kembali bertraveling karena melihat ketampanan seorang Boy Arbeto.


"B bangunkan aku jika sudah sampai."


Tita menutup kedua matanya dan langsung tertidur tanpa menunggu jawaban dari Boy.


"Sial! Apa dia pikir aku ini supir? Untung saja dia itu istriku kalau bukan sudah aku tendang keluar dari mobil." Boy menatap sekilas pada wajah Tita yang sudah tertidur. "Gadis gila ini lumayan cantik juga." Tanpa sadar Boy tersenyum dan senyuman itu berubah menjadi seringai tipis dibibirnya. "Aku akan memberikan sedikit pelajaran padamu karena sudah berani menggoda A."


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Boy sampai di sebuah mansion yang sangat luas dan mewah.


"Tit bangun." Boy menepuk bahu istrinya.


"Eh, sudah sampai?" Tita mengusap kedua matanya lalu menatap kearah jendela mobil. "Kita dimana? Dan rumah siapa ini?" tanya Tita dengan wajah yang terkejut, saat menatap bangunan yang begitu besar dan mewah.


"Kita ada di mansion utama, sekarang cepat turun!"

__ADS_1


Boy keluar dari dalam mobil setelah merapihkan kemejanya yang terbuka, lalu menunggu Tita tepat di depan pintu masuk mansion.


"Mansion utama?" Tita segera menyusul Boy Arbeto yang sudah berada di luar. "Mansion utama ini milik siapa?" tanya Tita setelah berada di samping suaminya.


"Milik keluarga besar Arbeto" Jawab Boy dengan singkat sambil berjalan masuk ke dalam mansion.


"Wah .. Tita tidak pernah menyangka bisa menikah dengan pria dari keluarga Sultan." Gumam Tita dalam hati.


"Tit cepat masuk!" perintah Boy saat melihat istrinya hanya diam saja.


"Iya." Tita segera berjalan masuk kedalam mansion, matanya menatap keseluruhan ruangan yang tampak sangat mewah. "Di mana Mom Luna dan Dad Dafa?" tanya Tita, karena ia tidak melihat keberadaan mertuanya.


Boy berjalan menuju kamarnya, sedangkan Tita terus mengekor dari belakang karena takut tersesat di mansion tersebut.


"Kalau mereka sedang berada di Paris, lalu untuk apa kita kemari?" Tita memasuki sebuah kamar yang begitu luas, bahkan luas kamar itu tiga kali lebih luas dari kamar miliknya.


"Tentu saja untuk bercinta." Boy menutup pintu lalu menguncinya, kemudian berjalan kearah Tita dengan seringai tipis dibibirnya.

__ADS_1


Gleg


Tita berusaha menelan salivanya dengan susah payah saat melihat Boy kembali membuka kancing kemejanya.


"B jangan bercanda." Tita melangkah mundur dengan perlahan.


"Aku tidak sedang bercanda."


Boy membuka kemejanya lalu melemparnya secara asal.


"Ah ..."


Tita menutup mulutnya dengan tangan, saat melihat tubuh tegak Boy dengan dada bidang dan sixpack di perutnya yang hampir membuat air liurnya terjatuh.


"Apa kau sudah siap untuk malam pertama kita? Tapi lebih tepatnya untuk sore pertama kita." Boy menarik tubuh Tita lalu memeluk pinggang wanita itu dengan erat.


"B lepaskan Tita." Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.

__ADS_1


"Diamlah Tit!" Boy semakin erat memeluk tubuh Tita lalu mendekat ke wajah cantik yang ada didepannya. "Apa kau tahu? Aku tidak suka jika apa yang menjadi milikku disentuh oleh orang lain." Ucap Boy dengan ekspresi wajah yang dingin, karena teringat saat kejadian di lift tadi saat tangan Tita dan Agam saling berpegangan.


__ADS_2