Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 88


__ADS_3

Setelah sampai di Perusahaan Kenz. Drc. Boy segera masuk ke dalam ruangannya, bersama dengan Liam yang sudah menunggu di depan pintu ruang kerjanya.


"Bagaimana? Apa sudah berhasil?" tanya Boy dengan tidak sabaran, ia ingin segera melihat apa saja yang dilakukan oleh Tita dan Agam di ruang kerja sepupunya itu.


Boy boleh saja kalah karena tidak bisa membuat Tita membatalkan niatnya untuk bekerja bersama dengan Agam, tapi setidaknya ia bisa memantau apa saja yang dilakukan oleh Agam dan Tita dari kejauhan. Jadi jika ada sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi, Boy bisa segera bertindak.


"Maaf Tuan." Liam menundukkan kepalanya.


"****! Jangan bilang Alex tidak berhasil meretasnya?" geram Boy.


"Alex sudah berhasil meretasnya, tapi hanya kamera CCTV yang ada di ruang kerja Tuan A yang tidak berhasil, karena kamera CCTV di ruang tersebut mati." Terang Liam.


"Sial!" Boy menggebrak meja kerjanya dengan keras. "Sepertinya A sengaja melakukannya."


"Anda benar Tuan." Ucap Liam dengan raut wajah yang datar namun terselip seutas senyum dibibirnya. "Aku tidak pernah menyangka bisa menyaksikan kedua orang hebat dari klan Arbeto dan Mateo yang saling menunjukkan kekuatan mereka. Siapakah yang akan menjadi pemenangnya? Apakah Arbeto atau Mateo." Gumam Liam dalam hati.


"Hei! Kenapa kau tersenyum?" sentak Boy dengan tatapan yang tajam.

__ADS_1


"Eh maaf tuan, tadi aku—"


"Ck, sudahlah ...." Boy segera mengambil kunci mobilnya lalu melemparnya kearah Liam. "Ayo kita berangkat!" Boy melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.


"Tapi Tuan kita mau kemana?" Liam berjalan di belakang tuan Boy.


"Kita ke perusahaan A." Jawab Boy yang saat ini tengah berdiri di depan pintu lift.


"Ta-tapi Tuan setengah jam lagi kita ada rapat dengan —"


"Aku tidak peduli." Boy segera masuk kedalam lift.


"Tapi Tuan rapat kali ini sangat penting." Liam berusaha membujuk tuannya untuk mengurungkan niatnya.


"Sudah aku katakan aku tidak peduli, apa kau tahu? Di sana A dan Tita sedang berduaan." Geram Boy.


"Tuan A dan Nona Tita berduaan?" Liam mengerutkan keningnya. "Bukankah Nona Tita bekerja dengan Tuan A? Jadi mana mungkin mereka berdua? Di sana pasti ada asisten Tuan A dan karyawan yang lainnya." Tutur Liam.

__ADS_1


"Kalau aku berkata mereka berduaan ya berdua!" Dengan kesal Boy membentak asistennya.


"Tuan, kenapa Anda marah-marah seperti itu?" tanya Liam dengan hati-hati. "Atau jangan-jangan Anda sedang cemburu?"


"Ck, kau itu bodoh ya? Tentu saja aku cem— " Boy tidak meneruskan perkataannya saat ia tersadar kata yang ingin meluncur dari bibirnya. "Mana mungkin aku cemburu." sambung Boy dengan ekspresi wajah yang kaku.


"Kalau Anda tidak cemburu, untuk apa Anda datang ke Perusahaan Tuan A?" Liam semakin memojokkan tuan Boy.


"Aku .. aku hanya ingin melihat apakah Tita bekerja dengan benar atau tidak." Boy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu berdeham untuk menetralkan rasa gugupnya.


"Oh ... " Liam menganggukkan kepalanya. "Tapi Tuan, kenapa Anda tidak menghubungi ponsel Tuan A saja, dan bertanya apakah Nona Tita bekerja dengan benar atau tidak?" Liam terus memojokkan tuan nya.


"Kenapa jadi kau yang mengatur? Terserah aku ingin melakukan apa!" sentak Boy.


"Iya Tuan, tapi tindakan Anda ini justru semakin membuat aku curiga kalau Anda memang cemburu pada—"


"Stop Lia!" Boy yang kesal karena terus di pojokan oleh Liam, langsung menekan tombol lantai ruangannya. "Kita balik ke ruang kerjaku! Apa kau puas?" tanya Boy dengan wajah yang kesal, karena rencananya yang ingin menemui Tita dan Agam terpaksa dibatalkannya, agar Liam tidak lagi menyangka dirinya cemburu.

__ADS_1


"Cemburu?" Boy tersenyum sinis. "Ck, mana mungkin aku cemburu." Gerutu Boy dalam hati namun tanpa sadar dadanya terasa begitu sesak.


__ADS_2