
Sementara itu ditempat yang lainnya, di sebuah mansion yang tak kalah besar dari mansion milik keluarga Arbeto. Tampak dua orang wanita sedang berbincang, tanpa mempedulikan seorang pria tampan yang berada diantara mereka.
"Jadi kau lari dari kakakku?" tanya Baby dengan wajah yang terkejut.
Tita menjawab dengan anggukan kepala.
"Kenapa kau lari dari kakakku? Apa kakakku melakukan sesuatu yang jahat? Kalau iya aku akan menghajarnya." Ucap Baby dengan berapi-api.
"Tidak .. B tidak berbuat jahat padaku." Jawab Tita.
Sementara Agam yang mendengarkan perkataan Baby hanya menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang datar.
"Menghajar B? Yang ada dia yang akan dihajar oleh B." gumam Agam dalam hati sembari menatap ke-dua wanita yang saat ini tengah berbincang. "Kenapa aku mau saja menuruti kemauan Baby untuk pulang ke mansion? Dan lihatlah sekarang! Aku jadi terjebak bersama kedua wanita itu, belum lagi jika B datang." Agam menghela napasnya dengan kasar.
"Apa? Jadi kau berpura-pura hamil dan sekarang kakakku tahu kalau kau berbohong?" pekik Baby dengan wajah yang terkejut.
Tita kembali menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"What? Tadi kau bilang apa?" Agam ikut terkejut mendengar perkataan Tita.
"A diamlah! Jangan ikut campur urusan wanita!" sahut Baby dengan wajah yang kesal.
"Kalau aku tidak boleh ikut campur, lalu untuk apa aku dipanggil kemari?" Agam lagi-lagi menghela napasnya dengan kasar.
"Untuk jadi pendengar yang baik!" jawab Baby dengan tersenyum.
__ADS_1
"What?" Agam meng-gelengkan kepalanya.
"Dan tentu saja untuk menyegarkan mataku, karena melihat wajah tampanmu itu membuat mataku yang suntuk ini kembali segar, setelah semalaman tidak bisa tidur memikirkan mantan kekasihku yang baru saja meninggal." Cerita Baby panjang lebar.
Agam sendiri tidak menyahuti perkataan Baby, ia lebih memilih menatap ponselnya dari pada mendengar cerita wanita itu.
Drt .. drt.
Agam menatap sebuah nama yang muncul di layar ponselnya yang berdering.
"Dia ada bersamaku." Ucap Agam setelah mengangkat ponselnya sembari menjauh dari dua wanita yang saat ini masih sibuk mengobrol. Ia tahu kalau sepupunya itu pasti akan bertanya tentang Tita.
"Aku tahu, sekarang dengarkan! Kau harus menjaga Tita."
"Emm ..." Jawab Agam singkat dan datar.
"Apa?" Agam tak percaya dengan yang didengarnya.
"Ya singkirkan adikku dari Tita, karena dia membawa pengaruh buruk untuk Junior B."
Agam menjauhkan ponselnya lalu mengusap telinganya, ia bingung kenapa seorang Boy Arbeto memintanya untuk menjauhkan Baby dari Tita, dan satu lagi siapa itu Junior B?
"A kau dengar aku!" Boy menatap ponselnya untuk mengecek apa sambungan teleponnya terputus, karena sepupunya itu hanya diam saja.
"Ya aku mendengarmu dan katakan siapa itu junior B?" tanya Agam.
__ADS_1
"Junior B itu anakku."
"Anak?" Agam semakin bingung. "Sejak kapan kau mempunyai anak? Tita saja belum mengandung."
"Hari ini Tita mengandung, eh maksudku baru hari ini aku mengetahui kalau istriku sedang hamil." Ucap Boy dengan senyum bahagia di wajahnya.
"Apa Tuan? Nyonya Tita sedang hamil?" Liam yang sedang menyetir sampai menginjak rem dengan mendadak.
"****!" Boy mengumpat saat ponselnya terjatuh karena perbuatan Liam. "Kau ingin mati ya?" geram Boy.
"Maaf Tuan aku begitu terkejut dan bahagia mendengar kabar kehamilan istri Anda." Ucap Liam dengan gugup sembari menjalankan kembali mobilnya.
"Ck .. untung saja aku sedang bahagia, kalau tidak sudah aku potong gajimu." Ucap Boy sembari mencari ponselnya yang terjatuh. "A kau masih di sana?" tanya Boy setelah mendapatkan ponselnya kembali.
"Ya aku masih di sini."
"Baguslah sekarang cepat kau jauhkan adikku dari Tita! Aku tidak ingin anakku stres mendengarkan celotehan Baby."
Agam yang bingung tidak menjawab perkataan Boy dan langsung mematikan ponselnya. "B bilang Tita hamil? Tapi tadi Tita bilang dia berbohong tentang kehamilannya."
Di saat Agam tengah bingung ponselnya kembali berdering, dengan malas ia pun mengangkatnya.
"Apa lagi?"
"Tidak ada." Boy menutup ponselnya dengan cepat. "Begini baru benar." Ucap Boy setelah puas membalas perbuatan Agam, yang menurutnya tidak sopan karena sudah berani mematikan sambungan telepon darinya.
__ADS_1
"Tita Anggora tunggu aku!" Boy tersenyum bahagia saat mengingat Alana mengatakan wanitanya itu positif hamil.