
Keesokan harinya.
Boy yang marah pada Tita karena wanita itu bersikeras untuk tetap bekerja di perusahaan Agam, memilih untuk mendiamkan Tita dan tidak mempedulikan keinginan wanita itu yang memintanya untuk mengantar ke Perusahaan Agam.
"Masuklah!" Boy membuka pintu mobilnya untuk Eve.
"Terima kasih." Eve hendak masuk ke dalam mobil, namun langkahnya terhenti saat ia mendengar suara Tita.
"B .. kak Eve .. tunggu!" Tita berlari dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang memerah karena kesal.
Bagaimana Tita tidak merasa kesal jika suaminya itu meninggalkan dirinya begitu saja, saat Tita tengah mengambil tas kerjanya yang ada di dalam kamar. Dan kekesalannya itu semakin menjadi-jadi saat Tita melihat Boy membuka pintu mobil untuk kakaknya.
"Aku saja tidak pernah diperlakukan semanis itu oleh B." Gerutu Tita dalam hati.
"Kenapa aku ditinggal?" tanya Tita pada Boy sembari menahan semua umpatan yang ingin meluncur dari bibirnya, jujur saja ia merasa semakin panas dengan kedekatan yang terjadi antara kak Eve dengan suaminya.
Apalagi saat kejadian sarapan pagi tadi di ruang makan, dimana kakaknya itu membuatkan sarapan untuk mereka dan kak Eve melayani Boy dengan sangat cekatan, sampai tidak memberikan Tita kesempatan sama sekali untuk melayani suaminya.
"Kau naik taksi saja karena aku sudah terlambat." Boy berjalan ke sisi pintu pengemudi.
__ADS_1
"B ..." Tita menarik tangan suaminya, lalu menatap pria itu dengan tatapan yang memohon. "Antar Tita please."
Boy menghela napasnya dengan kasar, sebenarnya ia tidak tega menolak permintaan Tita, tapi karena dirinya masih marah karena wanita itu tidak mau menuruti permintaannya, Boy pun memilih untuk tidak peduli dengan menolak permintaan istrinya itu.
"Aku tidak bisa." Boy hendak membuka pintu mobilnya.
"Ya sudah kalau tidak bisa, Tita akan menelepon A dan memintanya untuk —"
"Cepat masuk!" sela Boy dengan sangat tegas.
Dirinya tidak akan membiarkan Agam menjemput Tita, sudah cukup bagi seorang Boy Arbeto menahan amarahnya karena tidak bisa melarang Tita bekerja di perusahaan Agam, terlebih setelah pembicaraan mereka sebelum keluar dari dalam kamar.
Tentu saja Boy berkata tidak cemburu, dan Tita langsung berkata jika dirinya tidak cemburu maka ia harus menginjinkan wanita itu untuk bekerja di perusahaan Agam, dan mau tidak mau akhirnya Boy mengijinkan Tita bekerja di perusahaan milik sepupunya itu.
"Cepat masuk!" Boy mengulang perintahnya saat melihat Tita hanya diam saja.
"Eh iya." Tita tersenyum, ia tidak menyangka jika ancamannya itu sangat ampuh.
Dengan segera Tita berjalan menghampiri kak Eve yang masih berdiri di samping pintu mobil, namun Tita sangat terkejut saat kakaknya itu langsung masuk dan menutup pintu depan mobil. Dan dengan terpaksa akhirnya Tita membuka pintu bagian belakang lalu duduk di dalamnya.
__ADS_1
"Kau sedang apa?" Boy yang sudah berada di kursi pengemudi menatap kearah belakang. "Cepat duduk di depan!"
"Eh tapi ...."
Tita terdiam karena tidak enak hati jika mengusir kakaknya yang sudah duduk di kursi depan tepat di samping suaminya.
"Cepat duduk di depan!" sentak Boy karena lagi-lagi wanita itu hanya diam saja. "Dan kau Eve, pindah ke belakang!" Ucap Boy dengan sangat tegas.
"Oh ya ampun, maaf aku sampai lupa ada Tita di sini ..." Eve tersenyum kaku.
Ia segera membuka pintu mobil lalu menyuruh Tita untuk duduk di kursi depan, dan Eve sendiri langsung masuk ke kursi belakang.
Dan di sepanjang perjalanan menuju tempat kerja mereka, baik Boy, Tita, dan Eve tidak ada yang bersuara sama sekali, mereka sibuk dengan pemikiran yang ada dibenak mereka masing-masing.
Boy yang tidak sabar menunggu kabar dari Liam, setelah semalam memerintahkan asistennya itu untuk menyuruh Alex meretas kamera CCTV yang ada di seluruh gedung perusahaan Agam.
Sementara Tita sedang sibuk membuang rasa curiganya, tentang kemungkinan besar Kak Eve tertarik pada Boy seperti yang pernah dikatakan oleh Agam.
Dan Eve memilih tenggelam dalam pemikirannya sendiri tanpa satu orang pun yang tahu apa yang ada di isi kepalanya itu.
__ADS_1