
Jakarta.
Setelah sampai di Jakarta Boy dan Tita langsung pulang ke apartemen mereka, dan selama diperjalanan pulang Tita hanya diam tidak seperti biasanya yang selalu ceria dengan segala tingkahnya, hingga membuat Boy curiga apa yang terjadi pada istrinya.
Namun Boy lebih memilih diam dan tidak bertanya pada Tita, karena ia harus segera pergi ke mansion utama di mana Dad Dafa dan Liam sudah menunggunya.
"Tit aku harus pergi sekarang karena ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan, kau tunggu di apartemen jangan kemana-mana!" Boy sengaja tidak mengajak Tita ke mansion utama, karena ia takut Mom Luna akan menahan mereka untuk tinggal di mansion.
"Ya ..." jawab Tita dengan cepat dan singkat tanpa menatap wajah suaminya.
Membuat Boy mengerutkan keningnya. "Kau baik-baik saja?"
"Ya ..." Tita menganggukkan kepalanya.
Boy lagi-lagi mengerutkan keningnya, karena wanitanya itu hanya menjawab kata 'Ya' dengan kepala yang mengangguk.
"Aku ingin bercinta denganmu sekarang! Boleh?" tanya Boy dengan seringai tipis dibibirnya.
"Ya ..." Tita kembali menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu ayo cepat!" Boy menarik pinggang Tita, lalu mengecup bibir merah yang sejak tadi memanggilnya untuk disentuh.
Emph
Tita yang terkejut langsung mendorong tubuh Boy. "Apa yang kau lakukan?" pekik Tita sambil mengusap bibirnya yang terasa bengkak.
__ADS_1
"Tentu saja bercinta bukankah tadi kau mengatakan, ya." Boy menarik satu sudut bibirnya.
"Kapan? Tita tidak mengatakan iya." Protes Tita.
Pletak.
Boy menjitak kepala Tita dengan gemas.
"Sakit B ..." teriak Tita dengan wajah yang kesal.
"Makanya jangan suka melamun!" Boy mengangkat tangannya.
"Sudah jangan di jitak lagi." Tita mundur beberapa langkah.
"Ck .. kau itu." Boy tertawa geli, karena sebenarnya ia hanya ingin melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Aku berangkat, dan jangan lupa apa yang aku katakan tadi!" Boy mencium bibir Tita lalu berjalan keluar dari Apartemen.
"Ah ya ampun .. tadi B menciumiku sebelum berangkat kerja." Tita mengusap bibirnya, ia merasa bahagia karena perlakuan Boy kini sudah semakin hangat padanya.
Namun rasa bahagia itu langsung menghilang saat Tita teringat pembicaraan Kak Eve dengan Boy saat di Bali.
"Aku harus bertanya pada Kakak." Tita mengambil ponselnya.
Saat ia hendak menekan nomer ponsel kak Eve, ponsel miliknya lebih dulu berbunyi menampilkan nomer seseorang yang hendak dihubunginya.
"Kebetulan sekali." Tita mengangkat ponselnya. "Halo kak."
__ADS_1
"Tita kau dimana? Kakak dari tadi menekan bel pintu kenapa tidak dibuka? Dan kenapa vila nya terlihat begitu sepi?" Sahut Eve lewat sambungan ponselnya.
"Oh ya ampun kak, aku lupa memberitahu kakak kami sudah pulang ke Jakarta."
"What?" pekik Eve dengan wajah yang terkejut. "Ta-tapi kenapa pulang mendadak?"
"Karena ada pekerjaan yang harus dikerjakan oleh B, itu sebabnya kita pulang mendadak." Terang Tita.
"Sial!" Eve mengepalkan kedua tangannya dengan erat, melampiaskan kemarahannya saat mengetahui Boy sudah kembali ke Jakarta.
"Kak Eve kau masih di sana?" tanya Tita karena tidak mendengar suara kakaknya.
"Ya aku masih di sini, ya sudah kalau begitu aku tutup teleponnya."
"Tunggu dulu kak jangan tutup teleponnya! Ada yang ingin aku bicarakan."
"Kau ingin bicara apa? Katakan?" Eve yang sebenarnya sudah malas berbicara dengan adiknya, terpaksa mendengarkan apa yang ingin dikatakan Tita.
"Kakak kapan pulang ke Jakarta? Karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan." Tanya Tita.
"Hari ini juga aku pulang Ke Jakarta." Jawab Eve dengan cepat. "Setelah sampai aku langsung ke apartemen mu."
"Baiklah kalau begitu aku tunggu." Tita langsung menutup ponselnya, kemudian langsung duduk di atas sofa dengan kening yang berkerut.
Tita tidak menyangka jika kakaknya langsung pulang ke Jakarta, dan begitu bersemangat untuk datang ke apartemennya.
__ADS_1
"Sebelum aku bertanya pada Kak Eve, ada yang harus aku lakukan lebih dulu." Tita menekan nomer seseorang, seorang pria yang selalu membantunya selama ini dan pria itu tentu saja Agam.