
Beberapa hari kemudian.
Di dalam sebuah mobil mewah yang terparkir tidak jauh dari restaurant yang berada di daerah Senopati, terlihat seorang pria tampan yang duduk di dalamnya dengan raut wajah yang tegas, dingin, dan tatapan mata yang mematikan.
Pria itu tampak mengetatkan rahangnya setelah menerima info dari anak buahnya, yang ditugaskan untuk mengikuti Tita yang berada di dalam restaurant bersama Agam.
"Sial!" Boy melempar ponselnya dengan sangat kencang.
Pletak.
Liam reflek mengaduh saat sebuah benda mengenai kepalanya, dengan wajah yang kesal ia mengambil benda tersebut lalu mengembalikannya pada yang punya.
"Tuan jika ponsel ini hilang bagaimana mereka akan mengabari Anda?" Liam menatap tuan nya yang terlihat sedang marah.
__ADS_1
Dilihatnya dengan intens penampilan Tuan Boy yang sangat kusut dan acak-acakan, bahkan rambut yang biasanya tertata rapih kini terlihat seperti rambut seseorang yang baru bangun tidur.
Membuat seorang Liam sampai menggelengkan kepalanya, saat menyadari semua yang terjadi pada Tuan Boy beberapa hari ini, karena efek kecemburuan pria itu pada seorang wanita yang bernama Tita Anggara.
Bahkan efek kecemburuan yang besar itu sampai membuat tuan Boy seperti orang gila, bagaimana tidak di sebut gila? Jika yang dilakukan oleh tuannya itu selama beberapa hari ini, hanyalah menguntit wanita yang berstatus sebagai istrinya itu dan mengabaikan semua pekerjaannya begitu saja.
Bisa dibayangkan bukan? Seorang Boy Arbeto yang terkenal suka berganti pasangan dan selalu di kejar-kejar oleh wanita, kini justru pria itu yang mengejar-ngejar seorang wanita bahkan menguntitnya kemana pun wanita itu pergi.
"Dia mengatakan tidak cemburu dan tidak mencintainya Nona Tita, tapi sikapnya justru berbanding terbalik dengan ucapannya, dimana seorang Boy Arbeto sampai turun langsung kelapangan hanya untuk mengawasi istrinya." Gumam Liam sambil menghela napasnya.
"Kau simpan saja." Ujar Boy lalu menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
Dengan gerakan kasar Boy menarik dasinya, yang entah mengapa terasa mencekik di lehernya.
__ADS_1
"Sial!" Lagi-lagi Boy mengumpat dengan kasar, sambil menahan emosi yang sejak tadi memenuhi rongga dadanya.
Hatinya benar-benar sangat panas dan kepalanya terasa ingin meledak, hanya karena mendengar jika saat ini Tita sedang makan siang berdua dengan Agam. Mungkin terdengar biasa saja bagi orang lain, tapi bagi Boy itu bukan sesuatu yang biasa jika wanitanya setiap hari selalu makan siang bersama dengan Agam dan kali ini mereka makan siang di ruangan khusus, sehingga anak buahnya tidak bisa melihat apa saja yang dilakukan Agam dan Tita di dalam sana.
"Kenapa semuanya jadi begini?" Boy memijat kepalanya yang terasa pusing.
Ia teringat kembali kejadian beberapa hari yang lalu, di mana Boy melihat dan merasakan perubahan yang terjadi pada diri Tita.
Setiap hari wanita itu bangun lebih pagi dari biasanya, dan menyiapkan sarapan pagi mereka tanpa membuat dapur dan ruang makan menjadi berantakan. Walaupun sarapan yang dibuat oleh Tita kadang terasa keasinan atau kemanisan, tapi tetap saja membuat Boy menjadi bingung dengan perubahan yang dilakukan oleh Tita.
Cara berbicara wanita itu juga berubah lebih sopan dan sedikit dingin, dan kini sudah tidak ada lagi suara cempreng dan tawa khas manja seorang Tita Anggara yang didengar oleh telinganya. Bahkan Boy tidak lagi melihat raut wajah kekesalan di diri Tita, saat ia dengan sengaja mengganggu dan mengajak wanita itu ribut.
Tita benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat semenjak bekerja dengan Agam, dan ia merasa tidak suka dengan perubahan tersebut. Di samping karena Boy merasa kehilangan sosok manja, ceroboh, dan menyebalkan dari diri Tita Anggara, ia juga merasa kesal saat melihat wanita nya yang dulu selalu tampil polos, kini memakai make up seperti wanita dewasa pada umumnya.
__ADS_1
Tampilan baru Tita mungkin terlihat sangat cantik di mata orang lain, tapi tidak di mata seorang Boy Arbeto. Bagi dirinya lebih cantik wajah Tita yang dulu yang hanya di poles oleh bedak dan lipstik tipis dari pada saat ini.
"Bisa-bisa aku jadi gila jika terus begini." Boy mengusap kasar wajahnya.