Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 57


__ADS_3

Bisa terbongkar kelakuannya selama ini yang selalu mengerayangi tubuh Tita tiap malam, dan Boy tidak mau itu terjadi karena harga dirinya bisa jatuh jika wanita itu sampai mengetahui bahwa selama ini dirinya lah yang membuat bekas merah di leher jenjang Tita.


Sudah cukup ia merasa kesal saat Tita mengira perbuatannya itu dilakukan oleh hantu, jangan sampai rasa malu juga dirasakannya.


...🍀🍀🍀...


Keesokan harinya.


Tita yang sudah terbangun dari tidurnya merasakan sesuatu yang tidak nyaman di sekitar punggungnya, namun karena terburu-buru ingin buang air kecil Tita segera berjalan menuju bathroom tanpa menghiraukan rasa tidak nyaman dan pegal di punggungnya.


Setelah menuntaskan hajatnya dan berlanjut dengan membersihkan tubuhnya, Tita berjalan keluar dari bathroom dengan handuk yang melilit di tubuhnya.


"Tit .. apa yang kau lakukan?"


Boy menatap tak percaya pada pemandangan yang dilihatnya saat ini, ia melihat tubuh Tita yang hanya berbalut handuk sebatas dada dan paha, pemandangan yang membuat miliknya yang sudah on ketika bangun pagi jadi semakin menegang.


"Aku baru selesai mandi." Jawab Tita dengan santai, tanpa melihat perubahan di raut wajah suaminya. "B bisa bantu aku?"

__ADS_1


Tita berjalan mendekat kearah pria itu, tanpa menyadari perbuatannya itu semakin membuat Boy salah tingkah sampai harus menelan salivanya dengan susah payah.


"Apa?"


Boy memalingkan wajahnya kearah lain, tidak berani menatap wanita yang pagi ini terlihat sangat sexy dan menggoda.


"Aku merasa punggung ku celekit-celekit dan rasanya tidak nyaman, bisa kau lihat ada apa dipunggung ku?" pinta Tita yang saat ini sudah duduk di atas tempat berhadapan dengan suaminya.


"Ck, aku tidak mau." Boy turun dari atas tempat tidur, ia tidak ingin sampai lepas kontrol dan kembali meniduri istrinya.


"Ish .. kau itu jahat sekali, aku kan hanya meminta tolong." Tita yang kesal berjalan menuju pintu kamarnya.


"Aku ingin meminta bantuan kak Eve atau ayah unta untuk melihat ada apa di punggung ku."


"What? Kau gila ya?" Boy menarik tangan Tita dengan kasar. "Berani keluar kamar aku akan menghukummu."


"Kalau begitu hukum saja aku." Ucap Tita dengan senyum dibibirnya.

__ADS_1


"Hei .. kenapa kau justru bahagia aku hukum? Seharusnya kau itu takut." Boy mengerutkan keningnya.


"Untuk apa aku takut, kalau hukuman yang kau berikan justru membuat aku—"


Tita yang merasa malu tidak melanjutkan perkataannya, kini pipinya terasa begitu panas saat mengingat hukuman dari Boy yang berakhir dengan sebuah ciuman, bahkan sampai mereka bercinta hanya karena Tita melakukan kesalahan yang ia sendiri tidak tahu apa kesalahannya.


"Kenapa kau diam?" Boy menautkan kedua alisnya.


"Sudah ah tidak perlu dibahas lagi, Tita mau keluar kamar."


Langkah kaki Tita terhenti saat Boy Arbeto kembali menghalangi jalannya.


"Biar aku yang periksa punggung mu."


Boy membalik tubuh Tita, menatap pundak yang tidak tertutup oleh handuk dengan jantung yang berdegup dengan kencang.


Jantung itu semakin berdebar dengan keras dan napasnya terasa tercekat saat melihat Tita mengendurkan handuknya, hingga terlihat jelas punggung putih milik Tita yang dipenuhi oleh kiss mark yang semalam ia buat.

__ADS_1


Boy tidak mengira perbuatannya tadi malam, meninggalkan bekas merah yang sangat banyak hingga seluruh punggung Tita seperti sebuah lukisan dengan warna merah di seluruh permukaannya.


"Bagaimana B? Punggungku kenapa?" tanya Tita, karena Boy hanya diam saja setelah melihat punggungnya.


__ADS_2