Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 152


__ADS_3

Seluruh anggota keluarga yang ada di mansion utama tampak begitu sibuk mengurusi acara nanti malam yang akan di gelar di mansion tersebut, dan satu persatu anggota keluarga besar yang tinggal di luar negeri sudah mulai berdatangan di mansion utama.


"Hai kakak ipar ..." Lily memeluk Luna yang sudah sangat lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.


"Lily ..." Luna membalas pelukan tersebut dengan erat, ia kemudian menatap pria yang berdiri di samping Lily yang tidak lain dan tidak bukan adalah Leo. "Bagaimana kabar kalian?" tanya Luna pada Lily dan Leo.


"Kabar kami baik." Lily menjawab dengan tersenyum.


"Dimana Lio dan Lou?" tanya Luna saat tidak melihat saudara kembar Lea.


"Mereka sudah ditahan lebih dulu oleh Lea." Jawab Leo. "Dimana Dafa?"


"Dia ada di ruang kerjanya, pergilah temani mantan bos mu itu!" Ucap Luna dengan tawa dibibirnya.


Tanpa menyahut Leo pun segera berjalan menuju ruang kerja Dafa, dimana pria yang menjadi sahabat baiknya, mantan atasannya, sekaligus kakak iparnya itu berada.


"Leo ternyata tidak pernah berubah, dia masih saja sangat dingin dan datar." Luna meng-gelengkan kepalanya tanpa sadar di depannya masih ada Lily.


"Itulah suamiku." Sahut Lily.

__ADS_1


"Eh ..." Luna tersenyum kaku saat menyadari tengah menggosipkan seorang pria di depan istrinya sendiri. "Oh ya mana Daisy?" Luna sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kak ipar seharusnya aku yang bertanya dimana Daisy? Aku kan baru tiba." Lily menggelengkan kepalanya sembari menahan tawanya, ternyata kakak iparnya itu juga sama tidak berubah sedikitpun.


"Oh iya aku lupa, sudahlah ayo aku antar ke kamarmu." Luna menarik tangan Lily.


*


*


Sementara itu dihalaman belakang mansion, tampak Lio, Lou, dan Lea tengah berbincang dengan sangat serius, ketiganya tampak terdiam setelah apa yang mereka bicarakan sepuluh menit yang lalu.


Lea hanya menjawab dengan senyum tipis dibibirnya, menutupi rasa patah hati, kecewa, dan kesedihan dihatinya.


"Lalu apa kalian datang?" tanya Lea.


"Mana mungkin kami datang," Jawaban Lio dengan tegas.


"Hei ..! Kalian itu seharusnya datang. Kejam sekali kalian tidak datang di acara penting sahabat baik kalian sendiri." Lea masih mencoba untuk tersenyum. "Si brengsek itu juga kenapa tidak mengundang aku, bukankah aku mantan sekretarisnya? Tapi kenapa dia tidak mengundang aku di acara pernikahannya?" ketus Lea sembari mengigit bibir bawahnya, menahan isak tangisnya yang hampir saja keluar.

__ADS_1


Bagaimana Lea tidak ingin menangis saat mendapatkan kabar dari Lou dan Lio, jika pria yang dicintainya itu ternyata sudah menikah dengan Arneta setelah beberapa bulan ia ada di Jakarta.


"Kalau kau ingin menangis, menangislah! Tapi setelah itu jangan pernah mengingat si brengsek itu lagi." Ucap Lou sembari memeluk adik kesayangannya itu dengan erat.


"Kak untuk apa aku menangis?" Lea mengusap air matanya yang sudah menggenang dikedua pelupuk matanya. "Tidak ada dalam kamus ku menangisi pria seperti Bara Klopper!" Ucap Lea dengan tegas.


Membuat Lou dan Lio saling menatap dengan wajah yang terkejut, tidak pernah mereka duga adiknya akan setegar itu menghadapi kenyataan pria yang dicintainya menikah dengan wanita lain.


"Kak Lea ...!" panggil Tita dari kejauhan. "Kalian di suruh masuk oleh Mom Luna!" teriak Tita lagi dengan sekeras mungkin.


"Ya kami akan masuk." Jawab Lea yang juga berteriak.


Tita menganggukkan kepalanya lalu membalikkan badannya dan langsung terkejut, saat melihat suami tampannya sedang berdiri dengan tangan berkacak pinggang.


"Astaga B kau itu membuat aku terkejut." Tita mengusap dadanya dengan perlahan.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Boy tanpa mempedulikan keterkejutan Tita. "Bukankah sudah aku katakan jangan pernah keluar dari kamar! Dan apa yang tadi kau lakukan? Berteriak dengan kencang seperti itu? Apa kau tidak takut little Boy kita terganggu mendengar suara teriakanmu!"


Tita hanya terdiam mendengar serentetan pertanyaan dari suaminya itu, yang entah mengapa menjadi sangat cerewet dan banyak mengatur semenjak tahu ia sendang hamil.

__ADS_1


"Ya ampun telinga aku harus bersiap mendengar ceramahnya yang tidak akan selesai dalam waktu satu jam kedepan." Gumam Tita dalam hati.


__ADS_2