Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 140


__ADS_3

Rumah sakit internasional.


"Dimana aku?" Tita yang baru tersadar dari pingsannya, berusaha membuka kedua matanya lebih lebar. Menatap ruangan yang sangat asing bagi dirinya.


"Tit kau sudah sadar?" Boy segera membantu Tita yang terlihat ingin duduk.


"B Tita ada dimana?" Ia menatap kembali seluruh ruangan yang didominasi dengan cat berwarna putih.


"Kau ada di rumah sakit sayang, apa kau lupa tadi kau pingsan?" Boy menatap wanitanya dengan intens.


"Pingsan?" Tita mencoba mengingat apa yang terjadi padanya, dan setelah ia mengingat semuanya matanya langsung menatap pada suaminya. "B ta-tadi kau bilang aku .. aku sedang ..."


"Kau sedang hamil sayang, disini ada keturunan Arbeto." Boy mengusap perut Tita dengan penuh kasih sayang.


"A-aku hamil?"


"Ya sayang, terima kasih sudah memberikan hadiah yang akan mengikat hubungan kita selamanya."


"Mengikat? Aku hamil?" Kepala Tita kembali terasa pusing dan beberapa detik kemudian ia kembali tidak sadarkan diri.


"Tit .. Tita .. yah dia pingsan lagi." Boy yang menangkap tubuh Tita langsung membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Dengan segera ia menekan tombol untuk memanggil dokter.


Dan tidak beberapa lama, Alana langsung datang ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


"Al kenapa istriku itu pingsan lagi?" tanya Boy dengan cemas karena sudah dua kali wanitanya itu pingsan.


"Dia baik-baik saja, bukankah sudah aku katakan istrimu hanya kelelahan." Jawab Alana setelah memeriksa keadaan Tita.


"Tapi kenapa sampai dua kali dia pingsan?" Boy masih bingung dengan apa yang terjadi.


"Tadi saat Tita tersadar apa saja yang dilakukannya?" tanya Alana.


"Tita tidak melakukan apa pun, tadi begitu sadar kita hanya berbincang sesaat lalu dia pingsan lagi." Jawab Boy.


Alana mengerutkan keningnya. "Apa yang kalian bicarakan?"


"Tadi aku hanya memberitahunya kalau dia sedang hamil." Terang Boy.


"Ya dan saat itu dia langsung pingsan sama seperti tadi."


Alana menghela napasnya sembari tersenyum. "Dia pasti sangat terkejut mendengar kabar kehamilannya, tapi wajar sih aku pun akan pingsan jika tahu sedang hamil dari perbuatan pria brengsek sepertimu." Ejek Alana sembari tertawa.


"Ck .. mulutmu itu pedas sekali! Apa kau tidak takut aku pindahkan ke daerah terpencil!" ancam Boy.


"Ish mana mungkin aku takut, karena sebelum kau melakukan itu aku akan lebih dulu pindah ke rumah sakit milik Daddy ku." Alana tertawa terbahak-bahak.


"Dan bertemu dengan Alena?" sahut Boy.

__ADS_1


Alana langsung terdiam, tawanya pun menghilang begitu saja dari bibirnya saat mendengar nama Alena. Sebuah nama yang sudah menorehkan luka di hatinya yang teramat dalam.


"Hei lupakan apa yang aku katakan tadi." Boy merangkul sepupunya, ia sadar sudah membuat sepupunya kembali bersedih.


Alana tersenyum tipis. "Sebaiknya saat nanti Tita tersadar jangan membahas tentang kehamilannya dulu! Dari pada istrimu itu pingsan lagi." Saran Alana.


Boy menganggukkan kepalanya. "Are you okay?" tanya Boy saat melihat Alana kembali diam.


"Aku baik-baik saja." Alana kembali tersenyum.


"Kak B ...."


Boy dan Alana menatap kebelakang saat mendengar suara cempreng khas seorang Baby, dan benar saja mereka melihat seorang wanita cantik tengah masuk kedalam ruangan tersebut. Dan tidak ketinggalan seorang pria tampan nampak berjalan di belakang Baby.


"Bagaimana keadaan Tita?" tanya Baby.


"Kakak Tita ..." sela Boy. "Dan diamlah jangan berisik!"


"Ish .. usia aku dan Tita kan hanya beda beberapa bulan." Protes Baby.


"Lalu bagaimana dengan aku?" Sahut Agam. "Usia kita terpaut jauh tapi kenapa kau tidak pernah memanggilku kakak? Sangat tidak sopan!"


"Karena kau bukan kakak ku, aku itu hanya punya satu kakak yaitu Boy Arbeto." Jawab Baby dengan tegas.

__ADS_1


Membuat Boy, Agam, dan Alana menggelengkan kepalanya.


__ADS_2