
Setelah puas meluapkan kesedihannya, Tita menaruh kembali pil kontrasepsi itu ke tempatnya semula, yaitu di dalam nakas di samping tempat tidur mereka.
"Tita kau tidak boleh lemah seperti ini!" ia menghapus air matanya dengan senyum tipis dibibirnya. "Kau harus tangguh dan tidak boleh manja jika rencana kalian ingin berhasil."
Ia teringat kembali saat Agam mengatakan satu-satunya cara membalas sakit hatinya atas perlakuan Boy, bukanlah dengan menangis atau pergi jauh dari suami brengseknya itu, tapi dengan cara membuat pria itu jatuh cinta dan bertekuk lutut padanya.
Dan untuk bisa mencapai semua itu Tita harus merubah sikapnya, karena menurut Agam, Boy lebih tertarik dengan wanita yang dewasa, tidak polos, dan manja seperti dirinya. Agam juga sudah berjanji pada Tita mau membantu, dan mengajarinya untuk menjadi sosok wanita yang diinginkan Boy.
"Yang semangat Tita! Kau pasti bisa."
*
*
*
Sementara itu di luar kamar, Boy yang sedang berjalan menuju kitchen untuk mengambil air minum, merasa terkejut saat menabrak seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Eve! Kau tidak apa-apa?" Boy menahan tubuh kakak iparnya yang hampir terjatuh.
"Aku tidak apa-apa." Eve memegang bahu pria yang ada di hadapannya.
"Sedang apa kau disini? Kenapa belum tidur?" Boy berjalan melewati Eve lalu mengambil air minum dari dalam lemari pendingin.
"Sama sepertimu aku haus." Eve memperlihatkan gelas yang ada di tangan kanannya.
__ADS_1
Boy menatap Eve sekilas lalu berjalan menuju kursi makan.
"Kau belum tidur?" Eve ikut duduk di samping adik iparnya.
"Aku belum mengantuk." Jawab Boy sembari memijat keningnya yang terasa berat.
Hari ini benar-benar sangat menguras emosi dan pikirannya, belum lagi ia harus berpikir bagaimana caranya untuk menggagalkan keinginan Tita yang ingin bekerja di Perusahaan Agam.
"Sama aku juga." Eve tersenyum menatap wajah tampan adik iparnya. "Tita kau sungguh beruntung mendapatkan pria setampan dan sekaya Boy Arbeto." Gumam Eve dalam hati dengan senyum dibibirnya.
"Kenapa kau tersenyum?" Boy menautkan kedua alisnya saat melihat senyum di wajah Eve.
"Ah tidak apa-apa." Eve jadi salah tingkah.
Eve meng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Kalau kau tidak keberatan aku akan menemanimu disini."
Boy terdiam sesaat lalu tersenyum tipis. "Aku tidak keberatan."
Eve langsung tersenyum lalu berdiri dari duduknya, dan dengan memberanikan dirinya ia mengambil minuman kaleng dari tangan Boy.
"Minuman ini tidak baik untukmu, aku akan membuatkan minuman hangat." Eve langsung berjalan menuju kitchen.
Boy yang terkejut hanya bisa menatap Eve yang kini tengah sibuk menyiapkan minuman untuknya.
"Kau baru pertama kali masuk ke dalam apartemenku, tapi kenapa bisa dengan mudahnya kau tahu dimana letak perlengkapan yang ada di kitchen ku?" Boy mengerutkan keningnya saat melihat Eve yang cekatan di dalam kitchen.
__ADS_1
"Orang yang sudah terbiasa keluar masuk kitchen, pasti akan dengan mudah menemukan apa yang dicarinya, karena pada dasarnya semua orang sama ketika meletakkan barang-barang nya, yang membedakan itu hanya bentuk kitchen dan tata letaknya saja." Terang Eve panjang lebar.
Boy yang mendengarkan perkataan Eve hanya terdiam, karena ia teringat saat pertama kali Tita masuk ke dalam kitchen untuk membuatkannya sarapan.
Meja makannya jadi berantakan dengan hasil yang tidak ada sama sekali, karena sandwich yang dibuat Tita justru di makan habis oleh wanita itu, dan tanpa sadar Boy tertawa hanya karena mengingat kejadian tersebut.
"Kenapa kau tertawa?" Eve meletakkan teh hangat yang di campur daun mint buatannya pada Boy.
"Aku hanya sedang mengingat saat adikmu membuat berantakan meja makan dan kitchen ku." Boy menyesap minuman buatan Eve yang terasa pas di lidahnya. "Kenapa kalian begitu berbeda? Kau pintar di segala bidang, dan Tita —" Boy menggelengkan kepalanya. "Bahkan Tita tidak bisa membedakan mana gula dan garam, dan mungkin dia juga tidak bisa memasak air." Boy terkekeh geli saat membayangkan wajah wanitanya.
"Mungkin karena sejak kecil ayah memanjakan Tita, jadi adikku itu tidak bisa apa-apa."
Boy menganggukkan kepalanya lalu berdiri dari duduknya, dengan membawa cangkir minuman itu ditangannya.
"B kau mau kemana?"
"Ke ruang kerja ku, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Boy hendak melangkahkan kakinya.
"Boleh aku bantu." Eve menawarkan dirinya.
"Tidak perlu, ini sudah larut malam kau istirahat lah!" Boy tersenyum lalu berjalan menuju ruang kerjanya, ia ingin merencanakan sesuatu untuk menghadapi Tita yang tetap ingin bekerja di tempat Agam.
Sementara itu Eve yang ditinggal sendirian di ruang makan, langsung bergegas masuk ke dalam kamar dengan wajah yang cemberut.
Begitupun dengan seseorang yang sejak tadi bersembunyi, dan mendengarkan pembicaraan antara Boy dan Eve. Ia masuk kedalam kamarnya dengan raut wajah yang tampak berpikir dengan kening yang berkerut.
__ADS_1