
"A kau mau kemana?" tanya Baby sembari mengejar sepupunya.
Agam diam saja tidak menjawab pertanyaan Baby, ia terus berjalan tanpa menghiraukan gadis itu sama sekali.
"A ... " pekik Baby
Agam menghentikan langkahnya lalu menatap tajam pada Baby. "Bisa tidak kau memanggilku dengan sopan." Ucap Agam sembari menghela napasnya dengan kasar.
"Tentu saja bisa, S-O-P-A-N sopan." Ucap Baby dengan sengaja ingin membuat sepupunya kesal.
"Kau ..." Agam menunjuk jari telunjuknya tepat di depan bibir Baby.
Dan dengan sigap Baby menggigit jari telunjuk Agam.
"****!" umpat Agam dengan kesal, menggerakkan jari telunjuknya yang terasa sedikit sakit.
"Sudah kau jangan marah-marah terus, lebih baik sekarang ajari aku bagaimana caranya berciuman. Karena aku sedang membuat novel dengan genre Romance dan tokoh di dalamnya ada adegan berciuman." Baby menarik tangan Agam dan membawa pria itu menunju kamarnya.
Namun belum sempat Baby membawa masuk Agam ke dalam kamarnya, ia merasakan telinganya ditarik dengan kasar.
"Kak B sakit ...!" pekik Baby setelah tahu yang menarik telinganya itu Boy Arbeto.
"Mau apa kalian ke dalam kamar?" selidik Boy.
__ADS_1
"Ih kepo deh." Gerutu Baby sembari menjauhkan tangan Boy dari telinganya.
"Baby ..." Boy menatap tajam adiknya.
Baby yang tidak mau kalah membalas tatapan tajam kakaknya, dan terjadilah perang dingin diantara mereka berdua. Sementara Agam yang melihat semua itu hanya menghela napasnya dengan kasar, lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut tanpa di ketahui oleh Boy dan Baby.
...πππ...
Keesokan harinya.
Suasana di dalam mansion utama begitu ramai dan terasa lebih hidup, saat tiga orang wanita yang saat ini tengah duduk di atas sofa terlibat sebuah perbincangan panas.
"Jadi kak Lea ini ada di Jakarta karena patah hati, pria yang dicintainya bertunangan dengan wanita lain." Terang Baby pada kakak iparnya.
"Oh ya? Bukankah kak Lea sempat menangis saatβ"
Dengan gerakan cepat Lea menutup mulut Baby. "Lanjutkan pertanyaanmu!" Ucap Lea pada Tita.
"Em .. kalau kak Alana ada masalah apa? Aku melihatnya masuk ke ruang rawat dengan wajah yang sendu bersama dengan Agam?" tanya Tita. Ini adalah pertanyaan ketiganya setelah dua pertanyaannya di jawab oleh Baby dan Lea, karena saat ini mereka sedang mengadakan tanya jawab seputar keluarga besar mereka.
Mendengar pertanyaan tentang Alana, baik Baby dan Lea saling menatap dengan raut wajah yang sedih.
"Alana itu putri dari Aunty Daisy dan Uncle Antoni, mereka empat bersaudara kembar. Ada Alana, Alena, Aluna, dan Alona. Dan yang membuat Alana bersedih itu karena Alena." Jawab Lea.
__ADS_1
"Alena? Memangnya ada apa dengan Alena?" Tita menautkan kedua alisnya.
"Alena merebut kekasih Alana, dan kini Alena sudah menikah dengan kekasih saudara kembarnya sendiri. Dan kau tahu? Yang membuat Alana bersedih itu karena hubungan kasih mereka terjalin selama tiga tahun, dan sebentar lagi mereka akan bertunangan. Tapi dengan liciknya Alena menyabotase semuanya." Ucap Baby dengan berapi-api, karena ia merasa kasihan pada Alana yang diperlakukan sangat keji oleh adiknya sendiri.
"Aku tidak menyangka nasib percintaan kak Alana begitu tragis." Lirih Tita.
"Ya dan setidaknya nasib percintaan Kak Lea jauh baik dari pada kak Alana." Sahut Baby.
"Sialan kau!" umpat Lea.
"Dan kau sendiri bagaimana? Apa kau sudah mempunyai kekasih?" tanya Tita pada Baby.
"Aku ..." tunjuk Baby pada dirinya sendiri. "Tentu saja aku tidak punya kekasih." Baby menghela napasnya dengan berat.
"Bagaimana dia bisa punya kekasih? Kalau yang ada di otaknya itu hanya A." Ejek Lea.
"Kak Lea ..." Baby menepuk pundak sepupunya.
"A ..? Maksudnya Agam?" tanya Tita dengan wajah yang terkejut.
"Tentu saja Agam, memangnya siapa lagi?" Lea langsung berlari saat Baby ingin memukulnya kembali.
"Agam ...?" Tita menatap tak percaya pada Baby yang saat ini tengah berlari mengejar Lea.
__ADS_1