
"Lia berhenti!" Tita menghempaskan cekalan di tangannya.
"Liam Nona namaku Liam L-I-A-M." Ia menghela napasnya dengan kasar.
"Lia ..." Teriak Tita sembari memukul bahu Liam.
Tita merasa sangat kesal, karena asisten suaminya itu membawa dirinya jauh dari ruang kerja Boy, hanya untuk berdebat masalah nama di saat amarah tengah memuncak di hatinya.
"Kau menyebalkan ....!" Tita terus memukul bahu Liam dengan kasar, menumpahkan semua emosi yang ada di dalam hatinya. "Kau sama menyebalkan nya dengan tuan mu itu!"
Liam yang dipukul hanya diam saja tanpa menghentikan tindakan Nona Tita, ia tahu jika saat ini istri tuannya itu tengah marah dan sedih, terlihat dari air mata yang mulai menetes di kedua pipinya yang mulus.
"Dia pikir aku ini ****** yang bisa diajak bercinta tanpa perasaan? Apa dia pikir—" perkataannya menghilang saat mulutnya dibungkam, dan tangannya kembali ditarik oleh asisten pribadi suaminya. "Liam ...." teriak Tita saat dirinya sudah berada di sebuah ruangan asing yang tidak pernah ia masuki.
"Nona, sekarang Anda boleh berteriak dan mengumpat sesuka hati Anda." Ucap Liam dengan raut wajah yang datar.
"Kau ...." Tita yang tadinya ingin marah jadi terdiam, hanya air mata yang masih menetes di kedua pipinya. "Aku mau pulang."
"Tunggu Nona! Tetaplah disini karena ada seseorang yang ingin menemui Anda." Liam mencegah nona Tita yang hendak membuka pintu.
"Siapa?" Tita yang masih terisak, mengusap air mata dengan punggung tangannya.
"Nanti Anda akan tahu." Liam tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Tidak menunggu lama setelah Liam meninggalkan Tita seorang diri di ruangan tersebut, karena asisten suaminya itu harus kembali ke ruangan Boy Arbeto. Tita mendengar suara pintu yang dibuka dari luar dan langkah kaki seseorang.
"Kau ..."
Tita menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, wajah tampan Agam dengan ekspresi datarnya berjalan mendekat kearahnya.
"A bagaimana bisa kau ada di sini?"
Agam menjawab pertanyaan Tita dengan sebuah senyuman, lalu mengajak istri sepupunya itu untuk duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Are you okay?" Agam menatap Tita dengan sangat intens.
"Aku baik-baik saja." Jawab Tita sembari menghela napasnya dengan kasar. "Oh ya, kenapa kau ada di sini? Apa kau ingin bertemu dengan B?"
"Denganku?" Tita menautkan kedua alisnya.
Agam menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis dibibirnya.
"Apa saja yang kau dengar dan lihat?" tanya Agam to the point.
"Eh ..yang aku dengar dan lihat? Maksudmu?" Tita yang sedang bingung menjadi semakin bingung.
"Bukankah tadi kau bersembunyi di dekat pintu? Mendengar dan melihat ketika Selena ada di dalam ruang kerja B?"
__ADS_1
"What?" Tita sangat terkejut. "Bagaimana bisa kau tahu?"
"Liam yang memberitahuku."
Tanpa sepengetahuan Boy, Agam memerintahkan Liam untuk menghubungi dirinya jika terjadi sesuatu yang berkaitan dengan Tita, karena semenjak Agam menjalankan misi untuk membuat Boy marah dan cemburu, ia sudah berjanji akan menjaga dan membantu wanita itu.
"Jadi Liam melihatku?" Tita menutup mulut dengan kedua tangannya, ia tidak menyangka Liam mengetahui jika dirinya bersembunyi.
"Ya, jadi ceritakan padaku apa yang kau dengar dan kau lihat?" Agam mengulangi pertanyaannya.
Tita pun menceritakan semua yang ia dengar dan lihat pada Agam, tak lupa air mata kembali mengalir di kedua pipinya saat teringat perkataan B yang mengatakan mencintainya atau tidak itu tidaklah penting bagi seorang Boy Arbeto.
Agam yang mendengarkan cerita Tita hanya diam tanpa menyela perkataan wanita itu, dan setelah Tita selesai menceritakan semuanya, ia memberi sapu tangannya untuk menghapus air mata Tita.
"Ikutlah denganku!" Agam mengulurkan tangannya.
Tita menatap uluran tangan Agam dengan kening yang berkerut, ia bingung dengan sikap Agam yang tiba-tiba saja mengajaknya pergi.
Melihat keraguan di wajah Tita, Agam kembali mengajak wanita itu dengan senyum di wajahnya.
"Percayalah padaku."
Tita tersenyum lalu menerima uluran tangan Agam, ia tidak tahu kemana pria itu akan membawanya pergi, tapi yang Tita tahu ia merasa aman dan nyaman jika bersama Agam.
__ADS_1