
"Oh my God salah apa aku ini? Mendapatkan istri gila, bodoh, manja, dan juga materialis." Boy menatap Tita yang terlihat tengah berpikir sambil menggerakkan jarinya.
"Oh ya kau itu sangat kaya raya, kenapa ayah unta hanya meminta dua puluh unta? Seharusnya ayah itu meminta mobil, rumah beserta isinya, dan —"
"Cukup! Berhentilah berbicara!" Boy menaruh telunjuk kearah bibirnya, ia merasa lelah dan tidak mau mendengarkan ocehan gadis gila itu.
"Tapi ...."
"Stt ..."
"Tapi itu ...." Tita menarik jas yang dikenakan suaminya.
"Sudah aku bilang diam!"
"Tapi pintu liftnya sudah terbuka." Seru Tita.
Boy yang sedang melamun langsung menatap kearah pintu lift.
"Bilang dari tadi." Boy segera keluar dari dalam lift.
"Dari tadi juga Tita mau bilang, tapi kau saja yang tidak mau dengar." Tita menggerutu sambil berjalan mengikuti suaminya.
Sementara itu Boy yang berjalan memasuki Apartemennya, segera menghentikan langkahnya saat teringat akan sesuatu. "Dengar baik-baik gadis gila." Boy menengok kebelakang tapi tidak menemukan siapa pun. "Kemana dia?" Boy mengerutkan keningnya dengan wajah yang bingung.
"Aku disini."
Tita mencondongkan tubuhnya kearah punggung Boy, dan Boy yang menengok ke belakang langsung terkejut saat melihat wajah Tita yang begitu dekat dengannya.
__ADS_1
"Kau mengagetkan aku saja." Boy mengusap dadanya dengan perlahan. "Duduklah!"
Dengan segera Tita duduk di atas sofa, sambil menatap wajah pria tampan yang kini menjadi suaminya.
"Dengar baik-baik, aku ingin—"
"Tunggu dulu! Kita ini belum berkenalan, namaku—"
"Aku sudah tahu namamu Tita Anggora."
"Anggara bukan Anggora." Protes Tita.
"Iya, Tit Anggara."
"Ih .. Tita Anggara." Ketus Tita.
"Nanti dulu aku belum tahu siapa namamu." Tita menyela kembali perkataan suaminya.
"What? Kau serius tidak tahu namaku dan tidak mengenal siapa aku?" Boy menautkan kedua alisnya, ia tidak menyangka ada seorang wanita yang tidak mengenal siapa itu Boy Arbeto? Pria tampan dengan sejuta pesona, kaya, cerdas, dan memiliki banyak wanita.
"Tidak." Tita menjawab dengan singkat, padat, dan jelas."
"Oh my God, pantas saja waktu itu kau mengira aku ini supir taksi online." Boy menghela napasnya dengan kasar.
"Memangnya kau bukan supir taksi online?"
"Tentu saja bukan, mana ada supir taksi online setampan dan sekaya diriku." Boy menyombongkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Iya juga sih ...." Tita menatap pria yang berdiri di depannya dari atas sampai bawah. "Tapi kenapa mobilmu berhenti tepat di depanku?"
Tita teringat kejadian beberapa bulan yang lalu saat ia sedang menunggu taksi online, Tita yang sudah menunggu lama sekali dengan segera masuk ke dalam mobil yang berhenti tepat didepannya, namun betapa terkejutnya Tita saat ia langsung dipeluk dan hampir dicium oleh pria mesum yang saat ini menjadi suaminya.
"Aku ingin menjemput wanita yang menjadi teman kencan buta ku, aku kira itu kau karena kau langsung masuk begitu saja kedalam mobilku." Terang Boy.
"Oh, berarti aku yang salah naik mobil." Tita menutup mulut dengan ke-dua tangannya.
"Itu sudah pasti, dan sekarang dengarkan aku!"
"Tunggu dulu! Aku belum tahu siapa namamu." Potong Tita.
"Ya Tuhan, lama-lama aku bisa mati berdiri." Gumam Boy dalam hati sambil mengusap wajahnya dengan kasar, ia lalu mengambil ponselnya dan mengetik nama di atas kolom pencarian. "Baca ini!"
Tita mengambil ponsel tersebut lalu membacanya dengan sangat teliti.
"Jadi nama mu Boy Arbeto?"
"Ya."
"Kau seorang pengusaha muda tersukses, dan juga pewaris perusahaan besar Kenz, Drc."
"That's right." Boy tersenyum dengan pongah.
"Dan kau juga adalah seorang pria Casanova dengan seribu wanita."
"Itulah aku, eh ..." Boy langsung mengambil ponselnya. "Kenapa kau membaca semuanya?" Boy langsung memasukkan ponselnya ke dalam kantung jas.
__ADS_1