
Setelah berada di dalam kamar, Boy langsung menghempaskan tubuh Tita di atas tempat tidur lalu menghimpit wanita itu agar tidak bisa bergerak.
"Sudah berani kau rupanya!" Boy mencengkram dagu Tita dengan kasar.
"B ...." Tita berusaha melepaskan cengkraman tersebut dengan sekuat tenaga.
Ia tidak menyangka jika suaminya akan marah besar dan bertindak kasar padanya, karena selama ini semarah apa pun Boy terhadapnya, pria itu hanya akan membalas dengan menindas atau mengerjai dirinya.
Dan yang membuat Tita sampai tidak habis pikir adalah kenapa Boy semarah itu padanya? Karena seharusnya Tita lah yang berhak marah, karena pria itu sudah mempermainkan perasaannya dan hubungan pernikahan mereka.
"Apa kau begitu suka dengan hukuman yang aku berikan? Sampai kau terus melanggar apa yang aku perintahkan!" Boy menyeringai menatap wajah Tita lalu ******* bibir wanita itu dengan gerakan yang cepat.
Umph ...
Tita berusaha melepaskan pangutan bibir mereka dengan mengigit bibir suaminya, namun pria itu terlihat tidak merasakan sakit sedikit pun dan terus mencium kasar bibirnya.
"Apa kau begitu menyukai ini." Boy menekan bagian bawahnya tepat di bagian inti wanitanya. "Sampai kau terus melakukan kesalahan yang berulang-ulang!" Boy kembali menekan bagian inti milik wanitanya.
__ADS_1
Walaupun mereka berdua masih mengenakan pakaian lengkap, namun Tita bisa merasakan kalau milik suaminya itu sudah mengeras saat menekan bagian bawahnya.
"B kau brengsek." Umpat Tita dengan wajah yang memerah menahan amarah.
"Aku brengsek? Lalu apa julukan yang pantas untukmu? Wanita yang keluar bersama pria lain tanpa ijin suaminya." Boy mengetatkan rahangnya, menahan emosinya untuk tidak menyakiti Tita lebih dari yang sudah dilakukannya.
Tita sendiri memilih untuk diam tidak menjawab pertanyaan Boy, ia lebih memilih memalingkan wajahnya agar emosinya tidak meledak. Dan jangan lupakan otak mesumnya yang selalu cepat berkeliaran jika mereka sudah berdekatan seperti ini, Apalagi posisi dirinya yang saat ini ada dibawah kekuasaan suaminya, dan bagian inti pria itu yang menekan miliknya.
"Lihat aku!" Boy menangkup wajah Tita, agar wanitanya itu melihat kearah dirinya. "Apa saja yang tadi kalian lakukan? Apa dia menyentuhmu? Di bagian mana A menyentuhmu?" rentetan pertanyaan meluncur dengan cepat dari bibir Boy, matanya pun menelisik tubuh wanitanya dengan intens.
"Katakan apa saja yang kalian lakukan!" sentak Boy saat melihat Tita hanya diam saja.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya, dengan penuh amarah Boy merobek paksa pakaian Tita.
"B apa yang kau lakukan?" Tita berusaha menahan tangan Boy yang ingin membuka bra yang dikenakannya.
"Tentu saja aku akan menghukum mu! Bukankah kau sangat suka jika aku hukum?" Boy menarik satu sudut bibirnya.
__ADS_1
"B jangan!" Tita meng-gelengkan kepalanya saat Boy hendak menarik bawahan yang dikenakannya. "Aku sedang datang bulan."
Boy mengerutkan keningnya dengan wajah yang bingung.
"Aku sedang menstruasi."
"What?" gerakan tangannya langsung terhenti. "kau jangan berbohong!"
"Aku tidak berbohong." Ketus Tita dengan sangat keras.
Sejak tadi dirinya ingin sekali membalas perlakuan Boy dengan menendang milik pria itu, atau menjambak rambut Boy seperti yang pernah dilakukannya saat hari pertama mereka bertemu. Tapi niat itu diurungkannya saat Tita teringat perkataan Agam, agar ia harus bisa mengendalikan emosinya.
Boy yang tidak ingin dibohongi oleh Tita, langsung menurunkan bawahan yang dikenakan wanitanya.
"Sial!" Umpat Boy saat mengetahui istrinya itu tidak bohong.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu duduk ditepi ranjang dengan penuh kekecewaan, karena dirinya tidak bisa meluapkan kekesalan dan amarahnya dengan menyentuh tubuh Tita.
__ADS_1