Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 51


__ADS_3

"Di mana B?" tanya Tita pada pelayan yang telah selesai menaruh makanan di atas meja.


"Tuan sudah berangkat kerja." Jawab pelayan itu. "Apa ada lagi yang Anda butuhkan?" tanya pelayan tersebut setelah melihat temannya keluar dari bathroom.


"Tidak ada kalian boleh keluar."


"Baik Nona, dan jika Anda membutuhkan sesuatu panggil saja kami."


Tita menganggukkan kepalanya, dan setelah melihat kedua pelayan tadi keluar dari kamar, Tita segera berjalan menuju bathroom dengan menahan sakit di bagian intinya.


"Kenapa B pergi begitu saja tanpa membangunkan Tita?" gumam Tita yang saat ini tengah berendam air hangat di dalam bathtub. "B kau itu menyebalkan." Umpat Tita dengan wajah yang kesal, karena merasa ditinggal begitu saja setelah apa yang terjadi semalam pada mereka berdua.


...🍀🍀🍀...


Beberapa hari kemudian setelah kejadian malam itu, hubungan yang terjadi diantara Boy dan Tita semakin menjauh, mereka hampir tidak pernah pernah bertegur sapa karena Boy selalu menghindari Tita baik di dalam apartemen dan juga di kantor.


Seperti saat ini ketika mereka berada di dalam ruang kerja Boy Arbeto, Tita hanya duduk diam sambil mengerjakan beberapa pertanyaan yang ada di dalam berkas yang diberikan oleh suaminya.


Entah mengapa beberapa hari ini pria itu selalu memberikan berkas yang berisi beberapa pertanyaan yang berhubungan tentang pelajaran sekolah, jangan tanyakan Tita sanggup mengerjakannya atau tidak karena yang pasti jawabnya adalah tidak.


"Ayah unta kau ada di mana?"

__ADS_1


Tita menatap layar ponselnya yang menampilkan foto ayah unta dan


dirinya saat mereka berlibur ke Bali, Tita begitu merindukan ayahnya yang sudah beberapa hari ini pergi ke keluar negeri tanpa berpamitan dan mengajak dirinya.


Sementara itu Boy yang duduk di kursi kerjanya menatap Tita yang terlihat melamun dengan raut wajah yang bersedih, ingin sekali ia bertanya pada gadis itu apa yang membuatnya bersedih tapi egonya mengatakan untuk tetap diam.


"B Tita boleh bertanya sesuatu?" tanya Tita dengan raut wajah yang gugup.


"Em ...." Boy menganggukkan kepalanya tanpa melihat kearah Tita.


"Apa di apartemen kita ada hantunya?"


Boy menaruh berkas yang dipegangnya lalu menatap Tita dengan kening yang berkerut, tangannya mengambil cangkir yang ada di atas meja karena tenggorokan terasa sangat haus.


"Iya hantu, karena setiap malam Tita bermimpi disentuh oleh seseorang dan leher Tita terasa digigit, dan pagi harinya selalu ada bekas merah-merah seperti ini." Tita memperlihatkan lehernya.


Uhuk


Boy tersedak saat melihat jenjang leher putih milik Tita yang terdapat banyak bekas merah di sekitarnya.


"B kau kenapa?" Tita hendak melangkahkan kakinya mendekati pria itu.

__ADS_1


"Berhenti jangan mendekat!"


Tita pun menghentikan langkahnya dengan raut wajah yang sedih, karena lagi-lagi pria itu tidak mau didekati olehnya.


"Cepat kau kerjakan tugas yang aku berikan, dan jangan pernah lagi berpikiran tentang hantu." Ucap Boy dengan wajah yang kesal.


Tita menghentakkan kakinya di atas lantai dengan wajah yang sangat kesal, ingin sekali ia memukul Boy Arbeto namun niat itu diurungkannya saat melihat Liam masuk ke dalam ruangan.


"Tuan .. Nona, ada Tuan besar Bayu di luar." Ucap Liam.


"Ayah unta? Benarkah ayah unta ada di sini?" tanya Tita dengan senyum diwajahnya.


"Iya Nona." Jawab Liam.


"Persilahkan masuk." Ujar Boy dengan raut wajah yang datar, karena sejujurnya ia tidak suka dengan ayah mertuanya yang begitu materialisme.


"Baik Tuan." Liam segera keluar dari ruangan.


"Ayah unta."


Tita berteriak bahagia saat melihat ayahnya datang, baru saja ia hendak melangkah kakinya untuk memeluk ayah unta, namun langkahnya langsung terhenti saat Tita melihat sosok wanita yang berdiri di samping ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2