
"B aku ingin tinggal di Paris bersama Mom Daniela, jadi selama aku pergi aku mohon jaga Kak Eve dan Ayah unta." Tita menjelaskan maksud perkataannya.
"Jadi kau ingin meninggalkan aku, dan menjadikanku babysitter untuk kakakmu?" sinis Boy dengan wajah penuh amarah.
"Bukan meninggalkanmu apa lagi menjadikan kau babysitter, mana ada babysitter setampan dirimu." Tita menarik pipi suaminya dengan gemas.
"Tit ini tidak lucu! Dan aku melarangmu pergi, titik!"
"B aku mohon dengarkan dulu penjelasanku."
"Aku tidak ingin mendengar penjelasan apa pun." Boy yang marah langsung berdiri dari tempat duduknya, hingga hampir membuat Tita yang berada di pangkuannya terjatuh, kalau saja ia tidak cepat menahan tubuh wanitanya.
"B ya ampun, kenapa kau jadi marah?" Tita menatap suaminya yang sedang memakai pakaiannya.
"Kenapa aku marah? Harusnya kau itu berpikir kenapa aku marah?" Boy menjitak kepala Tita dengan geram. Cepat pakai pakaianmu dan pulang ke apartemen!" Boy memunggungi Tita karena sangat marah dengan keinginan wanita itu, bisa-bisanya Tita ingin pergi setelah hatinya sudah jatuh sedalam-dalamnya pada wanita yang bernama Tita Anggora.
__ADS_1
Tita yang merasa diabaikan oleh Boy, hanya bisa menghela napasnya sambil menatap punggung pria itu. Ia mengambil pakaiannya dan segera memakainya tanpa banyak berkata.
"Kau akan di antar pulang oleh Lia, dan ingat jangan pernah keluar dari apartemen tanpa seijin ku." Ucap Boy tanpa menatap kearah belakang.
"B ..." Tita memeluk suaminya dari belakang. "Jangan marah padaku, setidaknya dengarkan dulu penjelasan aku."
Boy hanya diam saja tanpa mau berbalik badan untuk menatap Tita.
"Aku ingin merasakan tinggal bersama seseorang yang melahirkanku ke dunia ini, aku ingin menghabiskan waktuku dengannya dan menciptakan kenangan yang selama ini aku tidak punya." Ucap Tita dengan lirih. "Apa kau tahu? Selama ini aku tidak pernah bertemu dengannya, dan baru hari ini aku tahu kalau Mommy ku sangat menyayangiku." Tita akhirnya memilih untuk menceritakan semuanya pada Boy, bagaimana kak Eve yang membencinya dan menyalahkan semua yang terjadi kepadanya.
Boy yang mendengar semua penjelasan Tita, langsung berbalik dan memeluk wanita itu yang sedang menangis di punggungnya. Ia dapat merasakan kesedihan Tita karena tangis itu begitu menyayat hatinya.
"Tidak B hanya aku yang akan tinggal di sana."
"Tit ...!" Boy kembali emosi. "Kenapa kau bersikeras untuk pergi sendiri? Apa ini karena Eve? Kalau ya, maka aku akan mengirim wanita itu ke Kutub Utara." Ucap Boy dengan penuh amarah.
__ADS_1
"B ..." Tita menepuk dada bidang suaminya dengan wajah yang kesal. "Mana bisa kau melakukan hal itu."
"Aku bisa melakukan apa pun yang ku mau, apa kau lupa siapa aku?"
"Kau Boy Arbeto, aku tidak lupa itu." Gerutu Tita.
"Bagus kalau kau masih ingat, dan keberangkatan kita untuk tinggal di Paris akan aku urus secepatnya."
"B aku ingin pergi sendiri, kenapa kau tidak mengerti keinginanku? Aku ingin merasakan tinggal berdua dengan Mommy ku, tanpa ada orang lain yang —"
"Jadi aku ini orang lain bagimu?" Boy melepaskan pelukannya.
"Bukan begitu B, maksudku ...."
"Cukup Tit! Sampai kapan pun aku tidak akan mengijinkanmu pergi, dan jika memang harus pergi aku akan ikut denganmu." Putus Boy tanpa bisa diganggu gugat.
__ADS_1
"B ..."
Boy tidak ingin lagi mendengar penjelasan Tita, karena hatinya sangat marah saat tahu Tita hanya menganggapnya orang lain. Dengan segera Boy mengambil ponselnya untuk memanggil Liam ke ruangannya.